Mayday 2018: Memahami Buruh, mengenal Mayday

Oleh Adzka Ulil Amri*

Mayday atau Hari Buruh Intenasional setiap tanggal 1 Mei, seharusnya, bukanlah diperingati untuk hal yang bersifat seremonial belaka yang mengingatkan kita bahwa di hari itu, para buruh di seluruh dunia sedang merayakan hari mereka untuk bersenang-senang dengan turun ke jalan. Jika kita melihat kembali sejarah Mayday kebelakang, maka akan kita temukan bahwa sesungguhnya untuk memenuhi tuntutan 8 jam kerja dalam sehari merupakan sebuah pengorbanan dan hasil dari perjuangan para buruh di Amerika Serikat pada 1886. Dikatakan bahwa kata buruh berasal dari bahasa lisan petani Jawa yang kemudian diidentifikasikan dengan konsep proletariat yang menunjukkan pada suatu hubungan konfliktual antara pekerja dan majikan dengan penekanan pada ide perjuangan kelas (Susetiawan, 2000)1. Lebih lanjut lag,i Buruh, menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan, pasal 1 ayat a ditulis sebagai berikut: “Buruh ialah barang siapa bekerja pada majikan dengan menerima upah”. Menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, buruh disamakan dengan pekerja. Hal itu dapat dibaca dan tertulis pada pasal 1 ayat 3 yang berbunyi: “Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain2 Oleh karena itu jika kita berangkat dari definisi tersebut setiap orang yang bekerja kepada orang lain dan mendapat upah juga termasuk kelompok pekerja atau buruh, awalnya kata “buruh” memang dipakai secara luas di awal kemerdekaan Indonesia, namun semenjak Orde Baru kata “buruh” mengalami politisasi bahasa, kata “buruh” mulai diidentikkan dengan gerakan Komunis, hasilnya kata “buruh” yang awalnya disematkan kepada seluruh pekerja, secara spesifik kemudian bergeser kepada para pekerja kelas rendah yang lebih mengandalkan kekuatan fisik (unskilled labour) ketimbang intelektual (skilled labour). Pernah mendengar isitilah “budak korporat”? Itu salah satu contoh slang dari istilah buruh, memang benar hubungan buruh dan komunisme sangat dekat,buruh yang berada pada tingkat “low working class” atau kaum proletariat yang di jelaskan oleh Marx merupakan kelas pekerja yang memberikan dirinya dan tenaganya kepada orang yang mengupahnya namun diberikan upah secara tidak adil.

Menurut Marx, adanya buruh atau yang disebutnya juga dengan kaum Proletar itu merupakan hasil dari revolusi industri sebab Marx waktu itu hidup dimana revolusi industri sedang menjamur di Eropa, ketika, menurut Marx, mereka (kaum Borjuis) memang sangat revolusioner karena telah menciptakan kelas-kelas baru tentunya di bawah kelasnya dengan menciptakan alat-alat produksi yang revolusioner dan juga kepemipilikan atas alat-alat itu diikuti dengan relasi upah, dan dengan alat-alat itu ia melakukan penghisapan terhadap kelas-kelas pekerja3. Intinya kaum komunis adalah gerakan politik yang bahkan lebih maju dari pada gerakan proletariat lainnya pada saat itu. Ciri istimewa komunis pada umumnya bukanlah penghapusan hak milik pada umumnya namun penghapusan “borjuasi” dimana kerja yang dilakukan oleh kaum buruh untuk majikan ini tidak menghasilkan apa-apa untuk dirinya sendiri melainkan upah yang tidak adil dan penambahan kekayaan untuk majikannya, sementara jika kam proletar itu bekerja dan hasil kerja itu dapat dimanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri itu tidak perlu dihapuskan, seperti bertani dan lainnya, namun menurut pandangan kaum komunis hal-hal seperti itu sudah lama lenyap karena revolusi industri4.

Meski pun isitilah “buruh” atau “proletar” memiliki kaitan dengan ide-ide komunisme, namun kaitan tersebut merupakan hanya sebuah pandangan filsafat dan bukan berarti buruh, serikat buruh, dan masyarakat yang peduli terhadap buruh adalah komunis.

Mengapa harus berserikat dan turun kejalan setiap Mayday?

Berkaca dari sejarahnya, awalnya istilah Mayday di sematkan kepada hari raya pagan, namun semenjak terjadinya revolusi oleh ratusan ribu kaum anarkis di Chichago, Amerika Serikat yang menuntut pengurangan jam kerja yang sebelumnya sampai 24 jam sehari agar menjadi selama 8 jam sehari pada tahun 1886, istilah Mayday kemudian berubah menjadi hari buruh Internasional melalui perjalanan yang cukup panjang dari kongres internasional kedua di Paris pada tahun 1891 sampai kepada puncaknya saat konferensi buruh di Amsterdam yang menyerukan bahwa: “semua organisasi Partai Demokratis Sosial dan serikat buruh dari semua negara untuk menunjukkan dengan penuh semangat pada tanggal 1 Mei untuk menjadi hari buruh internasional dah secara hukum”5. Tercatat pada tahun 1887 revolusi di yang dilakukan buruh di Chichago banyak memakan koban untuk itulah 1 Mei diadakan juga sebagai sebuah peristiwa memorial perjuangan kaum buruh.Mayday tidak hanya sebagai perayaan tanpa memperhatikan esensi. Tuntutan 8 jam bekerja sehari itu bukanlah puncaknya. Mayday merupakan sebuah peringatan tentang perjuangan kelas.

Jika melihat dari pemikiran alah satu tokoh neo-Marxist Antonio Gramsci maka akan kita temukan bahwa Mayday sejatinya memang merupakan sebuah hari peringatan untuk bertindak. Gramsci sendiri melihat intisari dari ajaran Marxisme dalam gabungan unik antara aktivitas teori dan praktik, sering juga ditemukan dalam Prison Noteboks yang ditulis olehnya ia mengganti kata “marxisme” dengan “filsafat praktis”6. Bahkan dalam tulisannya yang lain ia sering menggunakan kata “filsafat aksi sejati” untuk Marxisme. Bagi Gramsci, kelas akan selalu ada, untuk hidup, kelas adalah sebuah hubungan yang bersifat relasional, dimana aksi satu kelas akan menyebabkan terjadinya reaksi dari kelas lainnya. Dalam hubungannya dengan perjuangan anti-kapitalisme, Gramsci percaya bahwa perjuangan itu hanya mungkin terjadi secara konsisten jika dipimpin oleh kelas buruh.

Tahun ini,di Indonesia Mayday tidak bisa hanya dilihat sebagai sebuah hari perayaan,dari banyaknya polemik yang terjadi sebelumya di Indonesia harusnya semua orang dari kalangan buruh harus terus melakukan perlawanan dan tuntutan dalam bentuk sebuah gerakan yang tertata dan terdidik, sebab kuatnya kekuatan buruh maka negara juga akan kuat.

Di sisi lainnya, cukup banyak pekerja di Indonesia terutama dari kalangan anak muda yang masih tidak mau turun ke jalan atau bahkan sekadar memahami Mayday sebagai hari peringatan yang juga untuk dirinya, bahkan tidak mau dianggap sebagai buruh, bahkan mereka lebih memilih dipanggil sebagai “karyawan” saja, meski pun “karyawan” dan “buruh” itu adalah hal yang sama keduanya. Realita ini menunjukkan betapa dalamnya politisasi bahasa yang ditanamkan oleh Orde Baru ke dalam benak masyarakat bahwa “buruh” itu hanya pekerja rendahan. Masalah bahasa sebenarnya bukanlah hal yang menjadi pembahasan saya namun jika diihat dari respon masyarakat terhadap kata “buruh” maka akan tampak kenaifan dan ketidaksadaran bahwa di dalam hati nurani mereka sebenarnya ada perasaan untuk takut terhadap tindakan korporat tempat mereka bekerja yang eksploitatif. Faktanya memang begitu, jika tidak mengapa Mayday kali ini tetap ada? Di tempat saya sendiri Pekanbaru KSBSI wilayah Pekanbaru, atau para buruh di daerah Pekanbaru memperingati Mayday dengan memberikan 4 tuntutan: yang pertama mereka menuntut untuk tidak diberikan upah murah, kedua mereka menuntut untuk menurunkan harga beras dan harga dasar listrik, selanjutnya mereka juga menuntut agar pemerintah membangun kedaulatan pangan dan energi. Tuntutan utama tentunya untuk membangun negara sejahtera (Welfare State) dan agar mengakhiri kerakusan korporasi. Melawan penindasan-penindasan kelas yang diterima oleh kaum buruh di Indonesia seperti upah yang minim, tekanan dari atasan, pemecatan secara sepihak dan pembagian kerja terhadap buruh wanita yang melewati batas, bahkan yang terakhir TKA (Tenaga Kerja Asing) banyak menggantikan tenaga kerja lokal, sementara Tenaga Kerja di Indonesia masih banyak yang capable, namun tuntutan itu sering berakhir kepada pemberhentian sepihak tadi dan juga hal ini merupakan contoh dari aksi-reaksi yang di terangkan Gramsci tadi, ini lah yang kemudian harusnya diperjuangkan oleh kelas pekerja setiap Peringatan Mayday.

Sebagai seorang jurnalis yang juga berpolitik yang lebih penting lagi bagi Gramsci adalah implikasi untuk perjuangan politik. Gramsci juga sangat menekankan pentingnya pendidikan yang ditekankan pada watak-watak demokratis dan fungsi intelektual ketika kaum intelektual dalam makna luas itu, dilihat oleh Gramsci sebagai pembentukan sebuah fungsi penengah esensial dalam perjuangan kekuatan kelas7. Maksudnya, para intelektual bisa bersinergi dengan buruh dan membentuk sebuah aksi massa untuk melakukan perjuangan kelas.

Jika dilihat kepada perayaann Mayday di Indonsia beberapa tahun terakhir kendalanya selalu sama yaitu lemahnya serikat buruh, hasilnya upaya kosolidasi gerakan serikat buruh sering dikaitkan dengan kepentingan pribadi elit serikat buruh, dan beberapa hari terakhir saya juga menemukan berbagai polemik saat bermain-main dengan media sosial, ada foto buruh naik motor gede (moge) yang kemudian menyebabkan munculnya pemikiran berbeda dari masyarakat,seperti “demo tuntut sejahtera kok pakai moge?” intinya menghasilkan pertanyaan seperti: apa lagi sih yang mau dituntut? Kan sudah sejahtera, buktinya bisa beli moge”. Terlepas dari membeli atau meminjam atau membeli dengan angsuran yang sudah menunggak, tidak salah memang jika buruh dapat membeli moge dengan penghasilannya, yang salah adalah mengapa tidak semua buruh dapat membeli itu? Lucu saja saya kira jangan-jangan motor itu juga di pinjam, maksud saya coba lihat kepada buruh yang berada di tingkat low working class atau para pekerja kasar, jangankan membeli alat transportasi, buat udud dan makan saja kebanyakan buruh harus berhadapan dengan ancaman pemutusan kontrak kerja secara sepihak jika ia rasa upahnya selama ini tidak cukup kemudian juga harus bersaing dengan tenaga kerja asing. Itulah harusnya yang harus menjadi fokus utama peringatan Mayday pada tahun ini. Di negara maju, seperti Eropa, konsolidasi dan penggabungan organisasi buruh yang berbeda sudah berlangsung sejak dekade lalu, hingga nampaknya benarlah istilah “buruh sejahtera, negara kuat” itu. Untuk itu menimbang pemikiran Gramsci tadi, perlu dimunculkan kembali gerakan politik dari kaum buruh tidak hanya itu serikat perlu menanamkan pemahaman yang lebih dalam lagi mengenai apa yang me

Selamat memperingati Hari Buruh Internasional. Bersatulah kaum buruh sedunia!

  1. Idi Utomo “Suatu Tinjauan Tentang Tenaga Kerja Buruh di Indonesia” Journal The WINNERS, Vol. 6 No. 1, Maret 2005 hal 85
  2. Ibid hal 86
  3. Karl-Marx dan Frederich Engels: “Manifesto Partai Komunis”,yayasan pembaruan,Jakarta,1959. bag.1 “kaum bojuis dan kaum Proletrar” diakses dari https://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1848/manifesto/ch01.htm#bab1
  4. Ibid.Bagian “Kaum Proletrar dan Komunis”.
  5. A Short History of Mayday diakses dari https:/bcom.org/files%20short%20history%20of%20May%20Day.pdf
  6. Antonio Gramsci : “Sejarah dan Budaya” (Narasi,Yogyakarta) hal 8.
  7. Ibid hal 128

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *