Mayday dan Serikat Buruh yang Rentan

Oleh Samsuri Sirait*

Kata Buruh dapat dipahami sebagai pekerja di bidang apa saja selama ia tidak berada pada posisi sebagai pengusaha atau pihak yang membela kepentingan pengusaha. Istilah buruh pada dasarnya dapat dikatakan sama dengan pekerja, tenaga kerja maupun karyawan. Akan tetapi, dalam kultur Indonesia, buruh berkonotasi sebagai pekerja rendahan, hina, kasaran dan sebagainya. sedangkan pekerja, tenaga kerja dan karyawan adalah sebutan untuk buruh yang lebih tinggi, dan diberikan cenderung kepada buruh yang tidak memakai otot tapi otak dalam melakukan pekerjaan.

Berbicara hakikat seorang buruh haruslah diawali dengan logika berpikir bahwa buruh adalah  hubungan antara buruh dan majikan. Dalam hubungan ini, posisi buruh akan selalu subordinatif terhadap majikan. Hal ini dikarenakan ketidak seimbangan kekuasaan ekonomi yang selanjutnya memunculkan ketidak seimbangan dalam kekuasaan politik bahkan sosial, yang mana majikan akan merasa sebagai raja yang dapat memerintah sesuka-hatinya terhadap buruhnya atau pekerjanya, sehinggga akan menimbulkan Eksploitasi dan penindasan terhadapnya dan ini adalah kenyataan yang sangat tragis dan harus diterima oleh kaum buruh tersebut.

Dalam perkembangannya gerakan buruh sudah mengalami perkembangan secara organisasi serta politik dan hal ini diimplemtasikan pertama kali saat jaman penjajahan, dengan membuat suatu perkumpulan seperti Serikat dagang Islam dan banyak lagi, namun  hal ini hanya sebatas Serikat atau sebuah perkumpulan. Namun pada Tahun 1920 kaum buruh untuk pertama kalinya memiliki “kendaraan” politik sendiri dengan terbentuknya Partai Komunis Indonesia. Dan semakin dewasa kini terus berkembang semakin besar  hal ini dibuktikan dengan menjamurnya serikat-serikat buruh di indonesia seperti: Federasi Serikat Pekerja (FSPI), Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), Serikat Buruh Muslim Indonesia (Sarbumusi), Serikat Pekerja Percetakan Penerbit dan Media sosial dan sebagainya.  Namun demikian semenjak PKI diberantas tuntas oleh pemerintahan Soeharto membuat buruh sampai sekarang masih takut untuk turun ke Perpolitikan Indonesia serta membuat suatu Trauma dikalangan pemerintah sehingga buruh “hanya” diperbolehkan dalam lingkup Serikat atau perkumpulan saja. Hal ini dibuktikan pada perayaan setiap 1 Mei gerakan Buruh hanya sebatas mengadvokasi isu-isu Partikularnya atau hanya sekedar Isu-Isu sektoralnya seperti menuntut kenaikan gaji, menuntut penghapusan kerja kontrak, menuntut keselamatan kerja serta banyak lagi yang hanya dibatasi oleh kenginan-keingan hawa nafsu buruh saja.

1 Mei  diperingati sebagai hari buruh internasional, tak terkecuali di Indonesia,dan juga  diperingati diberbagai daerah, diberbagai wilayah dari sabang sampai maruke dari sudut kota hingga sudut desa asal ada buruh dan ia mengerti maka turut bersuka citalah ia. Hari buruh adalah hari kemerdekaan bagi buruh sedunia, hari dimana ia bebas untuk mengungkapkan keluh-kesah terhadap pemimpinnya atau sekedar bolos di hari kerja. Gerakan 1 Mei atau lebih dikenal dengan May Day  yang seharusnya sebagai momentum untuk mengkritisi habis-habisan pemerintah dengan semua kinerjanya, mengkritisi persoalan perkusi terhadap kaum minoritas (minoritas atau mayoritas diukur sebagai kemampuan pengaruh, bukan jumlah) serta kesenjangan sosial. Akan tetapi, gerakan buruh hanya diam serta bungkam terhadap itu semua, dan lebih parahnya buruh hanya diam terhadap  penindasan yang dilakukan korperasi dan aparat keamanan terhadap kaum petani yang sejatinya adalah kawan sejoli dari kaum buruh ini.  Gerakan buruh  semakin dewasa ini semakin tidak menunjukan rasa solidaritas terhadap aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tertindas. Dan pada ahkirnya selama suatu urusan atau perkara tidak berkaitan dengan keinginan  buruh maka gerakan buruh ini tidak peduli dengan apapun.

Sehingga pada titik ini, gerakan buruh hanya sekedar gerakan yang berbasisi Politik Identitas, sehingga buruh sangat mudah untuk terjebak menjadi gerakan yang cenderung Konservatif, terpisah serta terisolasi satu sama lain khususnya dari kaum-kaum yang tertindas. Dan lebih lucunya segala sesuatu yang berlawanan akan menjadi musuh bahkan sesama Buruh, dan hal itu terjadi saat ini yaitu adanya rasa bermusuhan terhadap tenaga asing/buruh asing (khususnya China). Sehingga membuat gerakan buruh yang bersendikan rasa persatuan menjadi sangat sempit yang meskipun memiliki tujuan serta cita-cita yang sama yaitu membunuh sistem Kapitalisme. Dan yang lebih parahnya lagi buruh mudah untuk digiring untuk tunggangan Politik Khususnya masa Pemilihan Umum. Dan pada ahkirnya gerakan Buruh tidak akan berpengaruh secara signifikan dikarenakan tidak adanya kesadaran politik serta ideologi yang jelas, sehingga akan selalu balik ke siklus buntu.

Seharusnya kaum Buruh dapat memanfaatkan Momentum setiap 1 mei untuk saling menyadarkan diri bahwa mereka hanyalah sebuah kelas yang berkorelasi dengan kelas lainnya yakni kelas kapitalis, maksudnya adalah jika kapitalis tidak ada maka buruh akan tidak ada, (sebab-akibat) dan begitu juga sebaliknya sehingga kaum buruh seharusnya menuntut untuk dihapuskannya sistem kapitalisme ini. Sehingga tidak adanya lagi kelas kelas sosial antara buruh dan majikan.

Permasalahan yang muncul tersebut adalah sebuah realita sosial, bahwa gerakan buruh sendiri terpecah belah, baik fokus, ideologi, dan rentannya gerakan buruh, yang seharusnya kuat, sebagai tunggangan politik aktor lain. Alhasil, kendaraan politik yang digerakkan oleh buruh pun tidak dikemudikan oleh buruh itu sendiri. Buruh harus bersatu, dimulai sejak Mayday tahun ini.

*Samsuri Sirait adalah mahasiswa jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Riau, angkatan 2016. Rait juga merupakan analis di FAIR Riau.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *