Teroris Masuk Kampus

Oleh Samsuri Sirait dan Aditya Prabowo*

Tidak ada yang menyangka sebelumnya, FISIP UR akan dimasuki polisi dengan persenjatan taktis yang lengkap. Sore itu,  enam polisi berpakain preman secara tiba-tiba mendatangi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Riau (FISIP UR) untuk meringkus terduga teroris yang disinyalir berada di Fakultas ini.

Keenam polisi tersebut menanyakan kepada petugas Satuan Keamanan (satpam) yang sedang bertugas di tempat yang sudah menjadi target operasi penangkapan oleh pihak kepolisian. Lokasi yang dimaksud adalah Gelanggang  Mahasiswa FISIP UR. Keenam polisi yang sudah mendapatkan keterangan dari pihak keamanan kampus secara cepat bergerak ke lokasi. Saat proses penggerebekan  keenam polisi berbagi tugas untuk proses penangkapan, dua diantaranya langsung naik ke lantai dua untuk mencari ruangan yang dicurigai sebagai ruang perakitan atau penyimpanan yang diindikasikan sebagai bom, lalu empat di antaranya beserta Densus 88 dengan peralatan taktisnya segera mengambil posisi untuk berjaga dan mengamankan lokasi yang sudah mulai dikerumuni oleh banyak mahasiswa maupun warga sekitar.

Dalam proses pengerebakan kedua polisi sempat menayakan kepada salah satu mahasiswa yang kebetulan berada di ruang kesekretariatan salah satu Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ),  “dimana kamar atau sekre yang bernama Zam-Zam?” dengan tegas, namun merasa asing terhadap nama tersebut, mahasiswa yang bernama Fairul menyatakan bahwa ia tidak mengetahui dan mengenal nama yang dimaksudkan oleh kedua polisi tersebut. Setelah menanyakan hal tersebut, mahasiwa yang berada di sekre tersebut langsung di arahkan ke luar gelanggang. Namun, menurut pemaparan Fairul, sebelum mereka diarahkan keluar, Fairul secara tidak langsung melihat polisi yang sudah menangkap salah satu terduga teroris.

Selanjutnya Pasukan Gegana dan beberapa pihak polisi yang bersangkutan menggeledah ruangan atau sekre yang dimaksud. Polisi mengamankan berbagai barang bukti dan beberapa orang yang kedapatan berada di lokasi. Barang bukti yang diamankan oleh polisi seperti  berupa bom pipa besi yang sudah jadi 4 buah dan bahan peledak jenis Triaseton Triperoksida (TATP) yang sudah jadi dan juga  pihak Densus 88 menyita bahan peledak lain berupa Pupuk KNO3, Sulfur, Gula, dan Arang, busur panah 2 buah beserta anak panahnya ada 8 buah, senapan angin 1 buah, serta granat tangan rakitan 1 buah. Polisi juga mengamankan beberapa terduga pelaku, masing masing berinisial Z (33), dan K (32) yang diamankan di lokasi dan D (34) yang dijemput paksa di daerah Desa Kampar, Kecamatan Kumbang, Kabupaten Kampar, Riau. Ketiga terduga teroris diketahui sebagai alumni FISIP UR masing-masing berjurusan, Ilmu Pariwisata, Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi.

Pada konferensi pers yang dilakukan di POLDA Riau, Kadiv humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto memaparkan bahwa terduga teroris tersebut saling memiliki keterlibatan dan memiliki kemampuan untuk membuat bom TATP dan menyebarkan cara pembuatan bom di link grup Telegram. Selain itu, ketiga terduga teroris tersebut diduga akan melancarkan penyerangannya di kantor DPR RI dan DPRD RIAU namun belum dipastikan waktu pengeksekusiannya.

Seusai dari penggerebekan tersebut, pihak Universitas Riau melakukan konferensi pers dan deklarasi pada tanggal 4 Juni, Senin, yang dilakukan di halaman depan Rektorat Unversitas Riau, yang menyatakan bahwa, mereka berkomitmen untuk tidak mendukung, menolak, mengecam serta tidak terlibat dalam segala bentuk aksi terorisme dan radikalisme yang terjadi di lingkungan Universitas Riau, terkhususkan yang terjadi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Pihak  Universitas Riau juga menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat khususnya Mahasiswa Universitas Riau untuk bijak menaggapi isu yang beredar di tengah masyarakat dan tidak terpancing adu domba serta menahan diri agar tidak terprovokasi atas peristiwa yang telah terjadi. Lebih lanjut, pihak Mahasiwa FISIP Universitas Riau juga menegaskan bahwa selama ini tidak pernah mengajarkan paham terorisme, radikalisme serta kejahatan lainnya.

Sampai tahap ini, jelas bahwa pada dasarnya bukan kampus yang menjadi sarang dari para teroris untuk melakukan aktivitasnya, namun kampus, FISIP UR khususnya, hanya menjadi tempat transit bagi para teroris untuk melaksanakan aksinya yang kepalang ditangkap lebih dulu.

*Samsuri Sirait dan Aditya Prabowo merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UR angkatan 2016. Mereka berdua merupakan anggota di FAIR Riau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *