Mengenal Hari Pangan

Oleh Samsuri Sirait*

Pada 16 Oktober kemarin, kita disemarakkan dengan Hari Pangan Sedunia. Banyak peringatan dan imbauan yang kita dengar pada hari itu. Dari semua imbauan itu, hanya terkesan klise dan sarat akan narasi-narasi tahunan mengenai pangan beserta aktor-aktor yang terkait di dalamnya. Kita terlalu jauh mendengar mengenai Hari Pangan dan alih-alih mendengar semangat Kedaulatan Pangan. Akan tetapi, apakah kita sudah memahami, apa itu Hari Pangan dan apa saja yang terjadi di hari itu?

Hari Pangan Sedunia adalah bentuk perayaan sekaligus peringatan tentang kesadaran dan tindakan masyarakat dunia terhadap rawannya krisis pangan di dunia. Sejarah peringatan Hari Pangan Sedunia bermula dari konferensi Food and Agrictulture Organization (FAO) yang diselengarakan di Roma pada tahun 1974. Seorang pimpinan delegasi Hongaria dari Menteri Pertanian dan Pangan, Dr. Pal Romary mencetuskan bahwa pentingnya menciptakan sistem global yang efektif dalam penangan pangan di dunia. Sehingga, pada November tahun 1979 dalam konferensi ke 20 yang diselengarakan di Roma, menghasilkan sebuah Resolusi  Nomor 1/1979 oleh PBB yang berisikan kesepakatan mengenai World Food Day atau Hari Pangan Sedunia. Resolusi ini disepakati oleh 147 negara anggota FAO, yang menetapkan bahwa mulai tahun 1981,  negara anggota FAO setiap tanggal 16 Oktober memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS), sekaligus memperingati hari berdirinya FAO. Tujuan dari peringatan HPS tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat internasional akan pentingnya menjaga serta penanganan masalah pangan baik ditingkat Global, Regional, maupun Nasional.

Kebutuhan pangan merupakan kebutuhan primer manusia untuk melangsungkan kehidupan. Sehingga jika tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut akan berdampak tidak baik bagi hidup manusia. Mungkin saja bisa mengakibatkan kematian. Dengan demikian hak atas pangan menjadi salah satu bagian dari hak asasi manusia yang harus terpenuhi. Sehingga hal ini kiranya yang mendasaari FAO untuk membuat sebuah gerakan kepedulian terhadap pengadaan penanganan pangan. Gerakan ini semakin mendesak untuk dilaksanakan, menimbang bahwa pertumbuhan penduduk yang begitu cepat, tidak diimbangi dengan peningkatan produksi pangan, bahkan ada sedikit kecenderungan menurun, sehingga jika dibiarkan berlarut-larut akan mengakibatkan krisis pangan bagi penghuni bumi cepat atau pun lambat. Penurunan produksi pangan terjadi, karena laju pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian begitu tinggi. Misal, sawah yang dulunya terbentang luas didaerah-daerah jawa, kini mulai tergusur oleh berbagai kebutuhan pokok lainya seperti kebutuhan tempat tinggal, sehingga jika tidak adanya penangan serius dalam permasalahan ini, maka bukan tidak mungkin akan menjadi ancaman di  masa depan.

Mendesaknya gerakan peduli masalah pangan yang secara terus menerus disuarakan oleh FAO, berbanding terbalik dengan sistem yang diterapkan oleh FAO sendiri. Sistem pangan dan pembangunan pertanian yang disuarakan oleh FAO tidak berorientasi kepada kepentingan dan kebutuhan dalam pemenuhan hak dan pangan atas rakyat. Monopoli sistem pangan dan pertanian  oleh pemodal besar menjadikan profit sebagai orientasinya. Sehingga tidak mengherankan jika harga pangan selalu merangkak naik dari tahun ketahun. FAO hanya berpandangan bahwa kebutuhan pangan hanya sebatas jumlah pangan namun tidak memikirkan atau membahas menyangkut kualitas pangan, maksudnya adalah pangan yang berkualitas adalah pangan yang sehat dan bergizi dan bebas dari kandungan zat-zat kimia yang berbahaya bagi manusia. Padahal sudah rahasia umum bahwa sistem pertanian pada umumnya menggunakan berbagai produk yang memiliki kadar zat kimia yang cukup tinggi baik itu pupuk, obat penghusir hama dan sebagainya.

Indonesia sebagai negara anggota FAO tentu saja akan mengikuti euforia peringatan  serta perayaan hari pangan sedunia yang dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober, peringatan hari pangan di Indonesia di berikan tanggungjawab kepada instansi terkait di pemerintahan seperti Kementerian Pertanian yang sudah sejak tahun 1980an mengurusi pangan, juga bersinergi dengan Kementerian Kehutanan serta perikanan yang merupakan focal point FAO.  Di Indonesia sendiri tema-tema dalam peringatan Hari Pangan Sedunia dipilih serta disesuaikan dengan tema internasional yang ditetapkan oleh FAO, yaitu Indonesia mempertimbangkan berbagai keunggulan yang didapat sebagai negara agraris, seperti sumber daya alam sebagai sumber pangan lokal rakyat. Akan tetapi, di Indonesia sendiri acara puncak dalam memperingati Hari Pangan Sedunia akan dilaksanakan pada tanggal 18 sampai tanggal 20 Oktober mendatang di Kalimantan Selatan. Melalui Kementerian Pertanian yang diwakili oleh Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, terus berkoordinasi dengan pejabat daerah mengenai persiapan menyambut persiapan pangan sedunia yang akan dilaksanakan di Kalimantan dengan tema yang cukup sinkron terhadap tema yang diberikan oleh FAO adalah “A Zero Hunger World by 2030 is Possible” dengan memanfaatkan lahan rawa sebagai lahan pertanian. Bahkan, Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, dengan sesumbar mengatakan “Hari Pangan Sedunia 2018, waktunya bangunkan Raksasa Tidur.” Hal ini dikatakannya didasarkan kepada keinginan beliau untuk menjadikan momentum ini Hari Pangan Sedunia ini untuk mengoptimalisasi pengolahan lahan pertanian di Provinsi Kalimantan Selatan,. Dengan tema yang diusung yaitu “Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045.” Dengan pemanfaatan berbagai lahan pertanian di wilayah Kalimantan Selatan, misalnya dengan pengolahan lahan rawa seperti di Lebak dengan luas lahan sepanjang 4.000h dan sudah dikondalisikan antara sekitar 1.800-2000h dan itu baru satu kecamatan. Bayangkan saja seberapa wilayah yang bisa dijadikan sebagai sumber lahan produksi pangan jika Pemerintah mau dengan serius untuk menyikapi sumber daya alam dan manusia di Kalimantan Selatan secara khusus dan umumnya Indonesia.

Pada umumnya, kegiatan Hari Pangan di Indonesia diperingati dengan menyelenggarakan berbagai rangkaian kegiatan seperti seminar, talkshow, lomba cipta menu, diplomatic tour serta acara puncak perayaan dengan kegiatan seperti Gelar Teknologi dan pameran. Selama iven HPS berlangsung selalu akan menampilkan Gelar Teknologi, yang bertujuan untuk menampilkan hasil-hasil penelitian di bidang pertanian khususnya, namun tidak menampik bidang lainnya seperti kehutanan, kelautan dan perikanan dan secara tidak langsung memamerkan kepada masyarakat juga para undangan mengenai perkembangan pangan di Indonesia dan juga menunjukan kekuatan ketahanan pangan Indonesia.

Semua cita-cita ini akan berhasil jika pemerintah konsisten serta percaya dengan rakyat dengan melakukan kebijakan-kebijakan yang mendukung rakyat khusunya kaum petani, selanjutnya dengan membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung pertanian dengan menerapkan prinsip pertanian berkelanjutan, membatasi impor pangan, dan melaksanakan landfrom demi tegaknya kedaulatan pangan di Indonesia.

 

*Samsuri Sirait adalah mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Riau angkatan 2016. Sirait juga aktif di organisasi dan kelompok epistemik mahasiswa Sosial dan Politik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *