Marxisme: Dari Filsafat Praktis Hingga Posisinya dalam Studi Hubungan Internasional

Oleh Refnedy Arpandi*

Kematian dari sebuah ideologi politik. Kira-kira begitulah bunyi dari sub-bab yang ditulis oleh analis marxisme sekaligus teolog (dibaca: rohaniawan) terkemuka di Indonesia yakni Franz Magnis Suseno. Di dalam bukunya dikatakan bahwa marxisme yang diinterpretasikan sebagai komunisme mengalami kejatuhannya setelah berhasil menyebar luaskan pengaruhnya terhadap kurang lebih sepertiga dunia. Tak heran rasanya jika dunia secara umum dan eropa secara khusus merasa takut akan pengaruh ideologi ini. “Ada hantu berkeliaran di Eropa, hantu komunisme”, begitulah bunyi kalimat yang tertuang dalam manifesto partai komunis karya Karl Marx dan sahabatnya Friedrich Engels.

Akar historis ajaran Marxisme pada dasarnya bersumber dari kajian filsafat yang biasa disebut “dilektika materialis”. Materialisme adalah konsepsi filsafat Marxis, sedang dialektika adalah metodenya. Meski banyak yang mengatakan bahwa Marx lebih cocok disebut sebagai ahli dalam kajian sosiologi, akan tetapi sumbangsihnya lebih terasa pada bidang ekonomi.  Ajaran Marx sendiri sejatinya ada guna mengkritik kapitalisme yang lahir dari pemikirian liberalisme ekonomi yang nantinya memunculkan kapitalisme itu tadi, meskipun kapitalisme dengan komunisme sendiri lahir dari embrio yang sama yakni dialektika materialis itu sendiri.

Sebelumnya Marx sering disebut sebagai ahli sosilogi dan memang hal ini memiliki landasannya yakni karena memang semula pendekatan yang Marx gunakan sangat murni bersifat filosofis yang didorong oleh cita-cita moral, namun kedepannya menjadi semakin sosiologis karena fokus Marx sendiri memang kepada syarat-syarat penghapusan hak milik pribadi dalam masyarakat kapitalis. Intinya ajaran Marx memandang masyarakt dan sejarah sebagai objek dari filsafatanya (materialisme historis).

Pada dasarnya Marxisme tidaklah sama dengan komunisme. Komunisme sendiri lebih kepada gerakannya, sedangkan Marxisme adalah ajaran Marx mengenai penghapusan hak milik pribadi dan semuanya dimiliki oleh bersama. Dengan artian Marx bermaksud menolak pandangan ekonomi liberal yang memandang ekonomi hanya keuntungan semata sebagai “positive-sum game”, sedangkan Marx lebih memandang persoalan ekonomi sebagai “zero-sum game”.1 Marx menghendaki sosialisme dimana semua materi di dunia merupakan milik bersama dan bukan milik pribadi, menghendaki situasi ekonomi yang sama bagi semua orang sehingga tidak ada ketimpangan sosial dalam masyarakat. Sehingga pemikiran Marx sering disebut sebuah utopia belaka.

Meski demikian, Marx tidak pernah memahami pemikirannya sebagai usaha teoretis-intelektual semata-mata maupun hanya bergumul dalam tataran ide belaka, melainkan sebagai usaha nyata dan praktis untuk menciptakan kondisi kehidupan yang lebih baik. Marx selalu menuntut agar filsafat menjadi praktis, maksudnya agar filsafat menjadi pendorong perubahan sosial2 Hal ini seperti menjadi landasan tersendiri bagi Lenin dalam menginterpretasikan ajaran Marx dalam bidang politk. Sudah menjadi rahasia umum bahwasanya Marx semasa hidup tidak pernah merumuskan teori politik perihal revolusi dan kaitannya dengan negara. Jalan satu-satunya dalam merebut kekuasaan dengan jalan revolusi sendiri merupakan murni dari pandangan Lenin. Pandangan yang ter-ilhami dari ajaran Marx sendiri, sehingga Marxisme dapat dikatakan sebagai sebuah filsafat praktis.

Secara garis besar, istilah komunisme sendiri merupakan ideologi yang menganut paham Marxisme-Leninisme dan menjadi ajaran resmi komunisme.3 Dalam artian komunisme secara umum  merupakan sebuah ideologi, dan Marxisme-Leninisme yang menjadi komponen dalam sistem ideologi komunis itu sendiri. Sumbangsih Lenin akan ajaran Marx yang paling praktis sendiri adalah termanifestasinya paham Marxisme dalam revolusi Bolshevik Oktober 1917. Hal inilah yang nantinya menjadi akar historis dari penyebaran pengaruh komunisme ke seluruh penjuru dunia.

Sedangkan jika dirunut dari pemikiran Marx sendiri, ajarannya dikatakan sebagai sebuah filsafat praktis berdasarkan bayangan Marx mengenai masyarakat komunis masa depan. Marx menganggap komunisme bukanlah kapitalisme negara dimana hak milik diadministrasikan oleh negara. Melainkan saat dimana pabrik dan alat-alat produksi akan langsung dikuasai oleh kaum buruh yang mana hal ini bisa terjadi disaat negara yang dikuasai kaum borjuis telah kehilangan fungsinya. Sehingga ajaran Marx menjadi aplikatif dan benar-benar dapat dimanifestasikan bahkan oleh kaum buruh. Ajaran Marx dapat menyalakan semangat kaum buruh itu tadi sehingga semakin menjadikannya sebuah filsafat yang praktis.

Perkembangan selanjutnya dari filsafat praktis Marx dapat ditelusuri dari tulisan Antonio Gramsci seorang marxis dari Italia dalam karyanya Prison Notebook. Gramsci mensistematisir apa yang ditulis Marx secara tersirat menjadi sebuah ilmu marxis tentang aksi politik, dan bahwa politik adalah aktivitas otonom dalam konteks perkembangan sejarah kekuatan material.4 Pada dasarnya ajaran Marx memang bukannya bersifat apolitis, melainkan terbagi menjadi dua yakni  basis (basic-structure) dan bangunan atas (super-structure). Bidang ekonomi (fokus utama) yang merupakan basis sedangkan dua dimensi kehidupan masyarakat lainnya, institusi-institusi sosial, terutama sekali negara (politik), dan bentuk-bentuk kesadaran sosial merupakan bangunan atasnya.

Basis struktur (basic-structure) merupakan fokusnya terhadap hal mendasar dari filsafat marx yakni ekonomi atau kehidupan produksi materiil. Terdapat dua faktor yang menentukan, yang pertama yaitu tenaga produktif yang digunakan masyarakat dalam mengelola alam untuk memenuhi materiil seperti alat-alat kerja, manusia dengan keahlian masing-masing dan pengalaman dalam produksi. Sedangkan yang kedua hubungan-hubungan produksi seperti pembagian kerja antara manusia yg terlibat dalam produksi.

Lalu supra struktur (super-structure) atau bangun atas yang terdiri dari dua unsur yaitu tatanan institusional yang mengatur kehidupan bersama masyarakat di luar bidang produksi seperti organisasi sebuah pasar, sistem pendidikan, sistem kesehatan masyarakat, sistem lalu lintas, dan yang paling utama sistem hukum dan negara (politik).  Dan unsur yang kedua adalah tataran kesadaran kolektif yang menyangkut hal-hal spiritual (keagamaan), moralitas, filsafat, nilai budaya dsb

Selain itu, yang semakin menjadikan ajaran Marx sebagai sebuah filsafat praktis yakni ajarannya menjadi stimulus bagi perkembangan ilmu-ilmu lain seperti sosiologi, ekonomi, dan filsafat kritis. Hal ini dapat terjadi mengingat Marx sendiri memang mengembangkan pemikirannya yang semula filosofis menjadi dapat diaplikasikan menjadi sebuah teori perjuangan bagi banyak generasi berbagai gerakan pembebasan.5

Marxisme dalam HI

Marxisme sendiri dalam kaitannya dengan studi Hubungan Internasional dapat dilihat pada pengaruhnya pada masa revolusi bolshevik hingga keruntuhan Uni Soviet pada dasawarsa 90an. Marxisme masuk pada perdebatan ketiga dalam The Great Debates yang masih berfokus pada tataran metodologi.  Marxisme vis a vis kapitalisme. Menurut Max Weber sendiri dalam bukunya mengatakan bahwa kapitalisme sendiri memiliki semangat yang menghendaki untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dan menjunjung tinggi hak milik pribadi.  Auri sacra fames atau the accursed greed for gold.

Hal inilah yang dikritik oleh marxisme terhadap kapitalisme. Meski marxisme sendiri tidak menolak secara mutlak kapitalisme, karena ada beberapa hal yang masih diterima oleh marxisme dari kapitalisme seperti kapitalisme dengan kaum borjuisnya berhasil meghancurkan sistem yang pernah ada sebelumnya dari feodalisme yamg sangat eksploitatif sehingga kapitalisme menggantikan feodalisme. Sehingga nantinya kapitalisme itu sendiri juga akan hancur karena memonopoli semua alat produksi dan pada akhirnya memunculkan revolusi dari kaum proletar dan berujung pada penegakkan komunisme.6

Dapat dipahami bahwa siklus tersebut merupakan bagian dari serangkaian sistem sosial masyarakat secara sosio-ekonomi menurut Marx sendiri. Diawali dari sistem komunal primitif yang ditandai dengan proses produksi yang masih sederhana dan belum mengenal hak milik pribadi. Kemudian disusul oleh feodalisme yang mulai menetukan pembagian kelas antara buruh (proletar) dengan tuan tanahnya (pemilik alat produksi). Dan mulai diperparah lagi oleh kapitalisme yang hampir sama dengan feodalisme, namun lebih eksploitatif dikarenakan mengejar keuntungan yang tinggi terhadap akumulasi dari modal (kapital) dalam produksi. Dan perkembangan selanjutnya pun mengarah pada sosialisme yag merupakan tahapan taransisional dari kapitalisme itu tadi yang mengehndaki revolusi dalam sistem masyarakt sehingga terjadinya komunisme yang komunal. Segala hak milik alat produksi, kelas sosial hingga pembagian kerja dihapuskan, sehingga segalanya dikelola secara bersama (kolektif).

Marxisme berkontribusi dalam ekonomi politik internasional (EPI) dalam kritiknya terhadap ekonomi kapitalis kaum borjuis. Fokus bahasan EPI memang mengenai  hal-hal kekayaan dan kemiskinan, dan juga perihal siapa mendadpat apa (materi) dalam sistem internasional. Marx berargumen bahwa pendirian kaum liberal mengenai hak kepemilikan pribadi merupakan ciri seluruh tatanan sosial yang kemudian memberikan otoritas hukum alam buatan atas ketidakmerataan kelas dalam tatanan kapitalis.

Dalam studi EPI, Marxis memandang negara tidak otonom, melainkan digerakkan oleh kepentingan kelas penguasa yang dalam hal ini tentu saja kaum borjuis dalam negara kapitalis. Dan juga semestinya perang atau konflik dilihat dalam konteks persaingan ekonomi negara kapitalis dari negara yang berbeda. Kemudian, marxisme menganggap sisitem kapitalis bersifat ekspansif, artinya selalu mencari pasar baru dan melakukan perluasan guna meraih keuntungan yang nantinya menimbulkan imperialisme dan kolonialisme.7 Sehingga marxisme memandang EPI sebagai sejarah perluasan kapitalis dunia. Intinya, marxisme memandang EPI sama dengan hal yang fundamental dari marxisme itu sendiri yakni perselisihan kelas dalam bidang ekonomi, namun kali ini cakupannya lebih luas yakni ekonomi politik secara internasional.

Mengambil contoh nyata dari kritik marxisme terhadap kapitalisme yakni terjadinya gap atau kesenjangan sosial yang kian meningkat di negara maju. Mengutip dari laman Deutsche Welle, di Jerman terjadi sebuah ketimpangan akibat pemotongan pajak terhadap kaum kaya. Antara tahun 1999 dan 2005, pemerintah Gerhard Schroders memotong pajak orang kaya yang semula 53% menjadi hanya 42%.a  8 Padahal pengalokasian dana pajak sangat banyak membantu rakyat miskin sehingga ketimpangan dapat diminimalisir. Sehingga dapat disimpulakn bahwa negara kapitalis tidak otonom, dan digerakkan oleh kelas penguasa demi kepentingan kelasnya. Inilah contoh sederhana kasus kapitalisme yang marxisme kritik dalam EPI.

Dalam perdebatan ketiga sendiri, marxisme dikategorikan sebagai sebuah teori kritis. Keterkaitan keduanya mecakup banyak hal seperti: pertama mengenai keyakinan bahwa hakikat ilmu sosial tidak hanya upaya dalam memahami (verstehen) berbagai fenomena sosial sebagaimana yang diyakni oleh Max Weber sebaliknya, ilmu sosial hendaknya diabdikan demi memenuhi kepentingan umat manusia sebagaimana yang tertulis dalam tesis kesebelas Marx.9

Namun tetap saja teori Marxisme kurang mendapat tempat dalam studi Hubungan Internasional dikarenakan Marxisme mengecilkan kapabilitas negara. Padahal negara sendiri merupakan aktor utama dan yang paling sering bersinggungan dengan fenomena dalam HI itu sendiri. Kritis-kritik seperti inilah yang sering dilontarkan kaum Realis maupun Neo-Realis.

Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya, “lubang” yang ditinggalkan oleh Marxisme dalam studi HI dapat sedikit tertutupi oleh kalangan Neo-Marxis, seperti Robert W. Cox dkk. Rumusan kaum Neo-Marxis mengenai hegemoni negara besar dalam produksi skala global, struktur ketergantungan (depedency) ekonomi negara berkembang terhadap negara maju, dan hirarki hubungan antara kelompok negara pusat, semi-pinggiran dan pinggiran10 Konsep-konsep yang dilontarkan kaum Neo-Marxis tersebut dirasa lebih memperhatikan kapabilitas negara dibanding konsep Marxisme klasik. Hal ini dirasa lebih memiliki bobot integritas secara teoritis sehingga memudahkan teori hubungan internasional untuk mengadopsi konsep-konsep Marx, seperti yang dilakukan Cox yang menggunakan konsep berpikir Antonio Gramsci dalam menjelaskan bagaimana hubungan produksi dan kekuasaan telah membentuk pola hegemoni kelompok yang kuat terhadap kelompok yang lemah.

 

*Refnedy Arpandi adalah mahasiswa jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Riau angkatan 2016. Beliau juga merupakan salahsatu peneliti di FAIR Riau

 footnote:
  1. Robert Jackson &ampamp Georg Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional: Teori dan Pendekatan, Edisi Kelima, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hal. 294
  2. Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2016), hal. 4
  3. Ibid. hal. 5
  4. Nezar Patria dan Andi Arief, Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hal. 12
  5. Franz, loc.cit.
  6. Karl Marx dan Friedrich Engels, Manifesto Partai Komunis, (Bandung: Ultimus, 2015), hal. 32-34
  7. Jackson, op.cit., hal 296-297
  8. Tingkat Kesenjangan Sosial Meningkat di Negara Maju. Deutsche Welle, [Internet]. Tersedia di: http://m.dw.com/id/tingkat-kesenjangan-sosial-meningkat-di-negara-maju-3729779. di akses pada 20 Maret 2018
  9. Bob Sugeng Hadiwinata, Studi dan Teori Hubungan Internasional: Arus Utama, Alternatif, dan Reflektivitas, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017), hal. 157-158
  10. Ibid. Hal. 160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *