Seni Melihat Sisi Pandang yang Berbeda

Hari ini kita dihadapkan dengan fenomena yang menjenuhkan mengenai perdebatan yang disebabkan oleh perbedaan sisi pandang orang lain yang kemudian dipenuhi dengan pertentangan yang tak kunjung berujung. Pertentangan yang terjadi dari tataran paling bawah—rakyat—sampai tataran yang paling atas yang sedang berlomba merebut otoritas. Variabel yang diperdebatkan pun beragam dari segala aspek kehidupan manusia yaitu sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Perdebatan memang tidak bisa dinafikan, karena sudah menjadi hal yang lazim terjadi. Kecenderungan banyaknya pertentangan pun karena dalam beberapa kasus kita banyak berbeda dengan menggunakan tolok ukur kacamata kuda.  Meski begitu, yang perlu dicermati adalah ketika pertentangan yang cenderung ke arah yang tidak sehat karena masing-masing merasa paling benar dan berupaya menafikan yang lain tanpa mempertimbangkan dan membawa resolusi atas perdebatan tersebut yang menyebabkan situasi semakin runyam dan tidak mendapat klimaks yang memuaskan.

Belum tampak adanya sikap kearifan dalam menyikapi perbedaan pendapat dikalangan masyarakat, menuntut masyarakat untuk belajar menyelam bersama menuju sisi pandang yang berseberangan, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Syafi’i:

Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sementara pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar,”

Demikian ucapan imam mazhab yang mayoritas diikuti oleh umat Islam di Indonesia. Dari perkataan Imam Syafi’I mengajak kita untuk membuka cakrawala agar bisa melihat segala hal dari sisi pandang orang lain dan dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Akan tetapi, dalam kesempatan lain banyak kita temukan beberapa kasus di lingkungan sosial yang sumber permasalahannya hanya karena berbeda pandangan dengan hal yang remeh justru membuat rantai persaudaraan dan persahabatan pun terputus.

Menjadi sebuah ironi, apabila hanya karena berbeda sisi pandang akhirnya membuat persatuan terpecah dan tersegmentasi menjadi kelompok-kelompok kecil yang merasa kelompoknya merasa yang paling benar dan menafikkan suara yang lain. Percaya kepada diri sendiri adalah suatu hal, dan sama sekali tidak yakin dengan pendapat yang berbeda adalah hal yang lain. Pola pikir yang berkembang di tengah masyarakat kita adalah keyakinan kepada diri sendiri sama sekali tidak diikuti dengan keyakinan pendapat orang lain. Padahal, bila kita kilas balik ke sebelumnya, imam Syafi’I mengatakan kebenaran itu kemungkinan juga ada pada pihak yang menurut kita tidak benar.

Kendati demikian, hal ini bukan berarti kebenaran yang kita yakini sepenuhnya relatif. Hal ini sangat berbeda bila hal ini kita bawa kepada ranah agama, maka pemeluk tiap agama akan merasa bahwa agamanya membawa kebenaran yang absolut. Fenomena  ini wajar terjadi dan sudah menjadi sunnatullah dan tidak ada yang bisa mengganggu keabsolutan kebenaran agama yang dibawa tiap-tiap pemeluk agama. Tugas setiap pemeluk agama adalah untuk saling menghargai klaim kebenaran yang dibawa masing-masing. Poin yang mesti dicatat ialah menghargai klaim kebenaran dari agama lain bukan berarti agama yang satu meyakini nilai yang dibawa agama lain.

Jika kita mau membuka diri dan bersikap inklusif, niscaya akan kita lihat bahwa perbedaan pendapat bukan justru menjadi momok berbahaya dalam persatuan suatu bangsa. Bahkan jika sikap inklusif ini dimiliki oleh semua pemeluk agama, niscaya tidak akan mudah terlontar kata-kata hinaan, cacian dan penistaan terhadap pemeluk agama yang berbeda. Apabila kita berkaca pada tradisi ulama Islam, perbedaan pendapat bukanlah hal yang baru, apalagi dapat dianggap tabu. Tidak terhitung jumlahnya kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang disusun khusus untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing. Penguasaan terhadap perbedaan pendapat ini bahkan menjadi syarat seseorang dapat disebut sebagai mujtahid atau ahli dalam ilmu agama. Orang yang tidak memiliki wawasan tentang pandangan-pandangan ulama yang beragam beserta dalilnya masing-masing, dengan begitu, belum dapat disebut ulama yang mumpuni di bidangnya.

Yang menarik, dalam mengemukakan berbagai pendapatnya, ulama-ulama Islam, terutama yang diakui secara luas keilmuannya, mampu menunjukkan kedewasaan sikap, toleransi, dan objektivitas yang tinggi. Mereka tetap mendudukkan pendapat mereka di bawah Al Qur’an dan Hadits, tidak memaksakan pendapat, dan selalu siap menerima kebenaran dari siapa pun datangnya. Oleh karena itu, benar kata Ali bin Abi Thalib bahwa “lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan.” Dapat dikatakan, mereka telah menganut prinsip relativitas pengetahuan manusia. Sebab, kebenaran mutlak hanya milik Allah subhanahu wata’ala. Mereka tidak pernah memposisikan pendapat mereka sebagai yang paling absah sehingga wajib untuk diikuti.

Muhammad bin Husain al Jizani, dalam disertasi doktornya untuk kajian Ushul Fiqh di Universitas Islam Madinah, KSA, yang mengantarnya memperoleh yudisium summa cum laude disertai pengahargaan Tingkat I, menulis tentang sikap Islami terhadap masalah ijtihad sebagai berikut:

  1. Tidak menganggap fasiq, mubtadi’ dan kafir pihak yang berselisih paham;
  2. Melakukan dialog yang sehat dengan mengutamakan dalil dan argumentasi;
  3. Tidak memaksakan kehendak atau paham kepada pihak lain;
  4. Tidak mengklaim kebenaran mutlak berada pada pihaknya.

Meski demikian, patut ditambahkan pula bahwa kendati saling menghormati perbedaan pendapat, ulama-ulama itu tetap sepakat tentang kewajiban untuk selalu merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits.

Kebencian kita pada seseorang tidak harus membuat kita sama sekali tidak percaya dengan kemungkinan kebenaran dari ucapan-ucapan dan tindakannya. Beberapa pertimbangan dan contoh-contoh yang telah dijelaskan sebelumnya, bisa kita petik intisarinya untuk menyikapi persoalan situasi politik Indonesia yang kini juga mulai memanas. Oleh sebab itu, dengan situasi yang semakin memanas ini, baiknya kita berusaha untuk mengembangkan kearifan politik (political wisdom) untuk mendinginkan situasi dan memberikan edukasi politik kepada sahabat, kerabat dan keluarga kita semua. Kearifan politik yang dimaksud bukanlah untuk membenarkan yang salah, akan tetapi mencoba untuk melihat sisi kebenaran dari yang kita anggap salah.

Ada dua cara untuk menumbuhkan kearifan dalam berpolitik. Pertama, dengan banyak belajar dan banyak membaca, terutama teori-teori dan strategi politik baik yang diajarkan para filosof maupun yang pernah dipraktikkan tokoh-tokoh yang sukses dalam berpolitik. Dengan banyak belajar dan membaca kita akan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kelebihan dan kekurangan setiap teori dan strategi politik. Kemudian yang tak kalah penting, kita akan mengetahui bahwa setiap teori dan strategi itu tidak berada di ruang hampa yang statis. Artinya, akan meniscayakan perbedaan pada saat pelakunya berada pada saat dan situasi yang berbeda.

Kedua, dengan cara memperluas pergaulan, mengikis keengganan membuka hubungan persahabatan, bahkan dengan lawan politik sekalipun. Dengan cara inilah kita bisa lebih memahami mengapa ada atau mungkin banyak orang yang berbeda haluan politik dengan kita. Dengan cara menjalin persahabatan, bukan tidak mungkin lawan politik pun akhirnya akan bergabung dan berada satu barisan dengan kita untuk bekerjasama dan menyatukan visi dan misi. Sebagaimana pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela berkata, “If you want to make peace with your enemy, you have to work with your enemy. Then he becomes your partner”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *