Sab. Jul 20th, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Analisis Artificial Intelligence dan Ancamannya

9 min read

Poster dibuat oleh (IG)aufarrofiq

Perkembangan peradaban manusia, hari ke hari semakin menunjukkan kecanggihannya. Berawal dari perubahan-perubahan yang umum sampai yang mendasar. Salah satunya adalah perkembangan teknologi yang juga semakin canggih—yang sekarang dapat ditaksirkan akan membuat versi virtual dari diri manusia masing-masing. Permasalahannya adalah ketika teknologi-teknologi yang semakin canggih dan dapat berevolusi ini mengisi kehidupan manusia pada tataran yang sangat inti.

Perkembangan ini merupakan hasil dari fase revolusi industri, khususnya revolusi industri keempat yang menempatkan integrasi teknologi dan sistem ataupun internet secara lebih komprehensif. Revolusi 4.0 ini juga ditandai dengan penghimpunan data dalam jumlah besar, Intellectual Property Rights, dan Perkembangan Komputasi yang menjadi cikal bakal lahirnya Artificial Intelligence. Sebelum munculnya AI, komputasi—sebagai lebih dulu mendominasi perkembangan teknologi dengan menggunakan algoritma yang diinput untuk memecahkan suatu masalah.

Secara spesifik, komputasi atau algoritma yang digunakan AI khususnya dalam bidang kemiliteran contohnya telah mampu mengambil keputusan secara independen untuk menargetkan sasaran, membedakan antara manusia dan hewan, yang akan terus belajar dalam menganalisa temperatur, keterangan cahaya, serta pergerakan selama pengoperasian.[1]

Di era ini, manusia terus mengembangkan AI atau kecerdasan buatan yang dapat berevolusi sendiri serta inovasi-inovasi yang mungkin untuk dilakukan yang ditujukan untuk membantu kehidupan manusia. Kendati niat baik ini semakin didukung oleh berbagai aktor, baik negara atau pun perusahaan bahkan individu yang terlibat langsung dalam pengembangan AI, tidak dapat dipungkiri akan membawa ancaman terhadap peradaban manusia itu sendiri. Ancaman tersebut dapat difokuskan pada pengembangan AI yang dilakukan oleh Negara dan dioperasikan oleh militer. Pada tahap inilah AI dapat dianggap mengancam manusia.

Ketika Militer diambilalih oleh AI

Meskipun tidak ada satu pendefinisian yang disepakati oleh para ahli tentang Artificial Intelligence (AI), namun Nilsson N.J mendefinisikan AI sebagai sebuah aktivitas yang bertujuan untuk membuat sebuah mesin menjadi cerdas, dan kecerdasan itu sendiri adalah sebuah kualitas yang dapat membuat sebuah entitas untuk berfungsi secara baik berdasarkan kemampuan peninjauannya terhadap lingkungan.[2]

Penggunaan AI dalam kehidupan sehari-sehari juga telah mendominasi berbagai aspek kehidupan manusia, sebagai contoh AI telah banyak diterapkan dalam bidang industri dan teknologi, seperti penerapan pada mobil Tesla ataupun robot Sophia, atau yang paling sederhana dapat kita lihat dari kehidupan sehari-hari adalah Siri atau Cortana yang mampu memproses segala permintaan  melalui pemindaian suara melalui ponsel pintar yang kita gunakan.

Perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi pertimbangan dalam penggunaannya di ranah kemiliteran, perkembangan AI yang bertujuan sebagai alat untuk meningkatkan keamanan justru beralih menjadi gagasan-gagasan bahwa perkembangan AI ini menjadi tantangan terhadap keamanan nasional. Hal ini datang dari beberapa kalangan dari sektor private yang menjadi garda terdepan dalam pengembangan AI. Ancaman-ancaman ini berupa hijacking terhadap sebuah sistem—mengingat AI ‘diberi kemampuan’ untuk memproses data, mengganti penggunaan tenaga manusia dengan Robot bersistem AI, Autonomous killing robots, Cyber Security, ataupun Project Maven. Project Maven sendiri merupakan sebuah agenda Departemen Pertahanan AS dalam memberikan sokongan uang terhadap penelitian dan pengembangan AI, hal ini untuk mencapai pengintergrasian data jumlah besar, pengembangan AI, serta pengintegrasian machine learning terhadap teknologi pertahanan AS.[3] Project Maven yang telah menjadi partner penelitian senilai 7.4 miliar USD dengan Departemen Pertahanan AS dalam ranah AI dan data processing[4] –yang dianggap sebagai pintu ancaman terhadap keamanan dalam pengembangan AI.

Autonomous Killing Robots atau lebih dikenal Lethal Autonomous Weapons System (LAWS) dipersepsikan menjadi ancaman tertinggi dalam integrasi di bidang militer. Hal ini disebabkan karena ancaman yang ditimbulkan begitu besar, parameter ancaman ini terletak pada kemampuan mereka untuk menentukan target tanpa adanya intervensi manusia.[5] Keputusan oleh LAWS  ini dianggap akan melenceng dari hukum hak asasi manusia. Lebih jauh, akan ada semacam ambiguitas atas pertanggung jawaban atas setiap korban yang diambil dari keputusan AI ini, karena tidak adanya intervensi ataupun kontrol penuh manusia dalam pengambilan keputusan.[6] Absensi keputusan atas dasar moral juga menjadi problematika penggunaan AI nantinya dalam integrasi militer, yang artinya, AI tidak mampu memutuskan apakah sasarannya adalah seseorang yang secara moral boleh dan bersalah atau tidak dijadikan target oleh AI.

Gagasan-gagasan bahwa perlombaan senjara berbasis AI akan dimulai telah muncul oleh beberapa peneliti dan pengembang AI sendiri, namun, apabila perlombaan senjata ini benar-benar terjadi, maka negara-negara yang telah maju dan mampu secara finansial dapat dipastikan akan mendominasi pengembangan dan penggunaan AI ini seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, Jepang maupun Jerman, maka gap pertahanan negara-negara yang memiliki AI ini akan melebar jauh melampaui Negara-negara yang lambat akan pembaharuan teknologi khususnya di militer dan tenaga ahli. Bahkan, cikal-bakal pengembangan ini telah dilakukan oleh negara-negara seperti Amerika Serikat dan Russia dan dapat terlihat dari ketidaksepakatan mereka dalam pembuatan regulasi yang dapat membatasi perkembangan ‘robot pembunuh otonom’ ataupun teknologi militer berbasis AI lainnya.

Ketidaksepakatan ini didasari oleh kepentingan penginvestasian negara-negara dalam ranah AI, serta sebagai penopang dalam agenda nasional yang telah ditentukan, dalam pertemuan Group of Governmental Experts on Lethal Autonomous Weapons Systems 2018 dimana pertemuan ini ditujukan untuk mempertahankan kontrol manusia terhadap persenjataan. Pertemuan ini dicoraki oleh ketidaksepakatan atas limitasi penerapan integrasi AI kedalam teknologi militer oleh 26 negara lainnya. Rusia sebagai salah satu yang mendukung penggunaan AI pada sistem senjata juga menolak pembatasan ini, terlebih kepemilikan Russia atas beberapa robot berbasis AI yang telah diterapkan seperti Kalashnikov robot.[7]

Selain Rusia, beberapa negara yang memiliki teknologi militer yang sudah maju, seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Israel dan Australia juga menolaknya. Beberapa negara ini berbagi satu keinginan untuk lebih menjelajahi potensi berupa manfaat dan keuntungan baik dalam pengembangan maupun penggunaan lethal autonomous weapons systems. Negara-negara ini juga saling berbagi pandangan berupa dukungan untuk terus mengadakan pertemuan terkait permasalahan ini secara berkala, namun menantang jika pertemuan tersebut bertujuan untuk membentuk sebuah regulasi yang dapat menghambat pengembangan maupun penggunaan lethal autonomous weapons systems.[8]

Di sisi lain, China sebagai salah satu pemasok invenstasi terbesar dalam pengembangan AI mendukung pelarangan pada fully autonomous weapons.[9] Padahal, menurut situs Bloomberg, AI dianggap sebagai sebuah basis yang dimiliki China dalam keinginannya untuk menguasai teknologi secara lebih komprehensif, mengingat perkembangan AI akan mendukung Cina dalam akselerasi kebijakan luar negerinya yaitu Made in China Policy 2025 dalam upaya pengembangannya sebagai manufacturing superpower dan cyber superpower. Rencana aksi tiga tahun China juga dilakukan dalam upaya mempromosikan pengembangan Industri AI, serta memiliki empat aspek yang kesemuanya menekankan pada integrasi dalam teknologi informasi dan teknologi manufaktur, sehingga pengembangan dan penelitian AI dianggap menjadi basis utama dalam keempat rencana aksi oleh Pemerintah Cina yang meliputi beberapa diantaranya; Pengembangan intelektual dalam robot dan kendaraan, sistem pengindentifikasian gambar, pengaplikasian AI di berbagai sektor, percepatan inovasi, serta training yang menopang pengembangan AI secara konstan.[10] Sehingga kepentingan penggunaan AI berbasis pada sejauh mana topangan AI terhadap pencapaian agenda negara masing-masing.

Dalam pengaplikasian militer, AI sudah pernah diterapkan dalam beberapa kasus. Seperti Inggris dan Cina sebegai contoh yang telah mengembangkan AI untuk menentukan dan membunuh target tanpa perlunya komando manusia melalui drones dengan sistem radarnya[11] dengan internalisasi perangkat lunak ke drones, mereka memiliki kemampuan mengenali target serta menganalisis kapan waktu terbaik untuk menembak dengan perhitungan kerusakan seminimal mungkin, terlebih machine learning dan deep learning sebagai salah satu karakterisasi AI, yang memberikan drones ini kemampuan untuk melakukan pembaharuan dalam analisis dan keputusan yang diambil sebagai manifestasi algoritma yang digunakan seiring data-data baru terus yang didapatkan. Pengintegrasian AI terus dilakukan kedalam militer membawa pada prediksi bahwa Negara-negara yang lebih dulu memulai pengembangan AI, seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina (sebelum bergabung dalam dukungannya terhadap pelarangan), dan Korea Selatan untuk mengintegrasikannya dalam aspek militer tidak menutup kemungkinan akan mendorong pada terjadinya perlombaan senjata kembali di tataran internasional.

AI dalam Disiplin Ilmu HI

Dalam tataran akademik di Ilmu HI, ancaman dapat dibedah melalui perspektif Konstruktivisme, sebagai sebuah perspektif, memberikan jembatan dalam isu hubungan internasional dalam memahami kesamaan sebuah atau gagasan sebagai bentuk respon terhadap teori-teori yang dianggap gagal pasca Perang Dingin. Konstruktivisme menekankan kepada bagaimana ide-ide, norma dan aturan main dalam sistem internasional merupakan sebuah manifestasi dari interaksi antar bangsa.

Konstruktivisme dianggap mampu menjelaskan fenomena terhadap sebuah ancaman baru melalui beberapa langkah. Langkah-langkah tersebut menjadi sebuah pengujian dalam memahami apakah suatu ancaman benar-benar dianggap sebagai ancaman terhadap komunitas internasional dan telah adanya pendefinisian ulang terhadap ancaman dalam bentuk konsep Keamanan Manusia (human security).

Kesamaan ide akan adanya potensi ancaman dari negara-negara menjadi langkah awal bagaimana ancaman tersebut dapat di sekuritisasi dan benar-benar diterima menjadi sebuah gagasan yang nyata yang mengancam keamanan masyarakat.

Kesamaan ide terhadap AI dimulai ketika beberapa negara menyatakan posisinya terhadap AI pada pertemuan, dalam konferensi ini narasi bahwa AI mampu menjadi sebuah ancaman bersama dalam pengintegrasiannya. Konstruktivisme, yang menekankan pada sebuah ide dan persepsi negara terhadap satu sama lain, menurut penulis dalam konteks pengembangan AI, negara-negara mencoba berkompetisi dalam usaha membangun citra negara yang kuat dalam pengembangan militer melalui AI, sehingga asumsi-asumsi dasar terhadap dilema keamanan dalam AI pada negara-negara ini menjadi pemantik untuk mengembangkan AI di negara masing-masing karena adanya kesamaan pengetahuan bahwa militer yang kuat mampu—dalam konteks ini, pengintegrasian militer dengan AI—mampu menciptakan deterrence effect terhadap satu sama lain.

Dalam proses sekuritisasi seperti War on terrorism, Fight Against Climate Change, War on Drugs, ada beberapa aspek yang harus dipenuhi terlebih dahulu seperti; speech act, aktor sekuritisasi yang mewacanakan pergeseran isu non-keamanan menjadi keamanan, ancaman yang ada, pendengar serta aktor fungsional yaitu aktor yang dengan nyata telah melakukan ancaman, ditambah, tiga aspek yang harus dipenuhi dalam suksesnya sekuritisasi sebuah isu, yang menurut Ole Waever, yaitu;[12]

  1. Existential threats (ancaman eksistensial), yakni ada tidaknya ancaman eksistensial yang muncul akibat sebuah isu yang sedang dibicarakan. Dalam konteks AI, ancaman yang dimaksud mencakup nilai-nilai yang dijunjung sebelum kemunculan AI, hal ini berupa moralitas atas keputusan yang diambil oleh AI terhadap situasi yang dihadapi khususnya apabila menyangkut kehidupan manusia—yaitu ketika keputusan terhadap subjek/objek yang ditargetkan sepenuhnya diserahkan kepada AI, ini berarti, kemungkinan-kemungkinan apakah subjek itu bersalah atau tidak lebih akan ditentukan oleh olahan data dan sistem algoritma, sementara moralitas itu sendiri tidak dapat dikomputasikan dan internalisasi kedalam AI. Terlebih, pada dasarnya penciptaan AI tidak memiliki nilai-nilai moral, sehingga terjadi perbenturan dengan “cita-cita “ pembentukan AI pada awalnya.
  2. Emergency action (tindakan darurat), aspek kedua ini menganggap bahwa suatu ancaman yang akan disekuritisasi harus dicegah dan diperlakukan secara khusus untuk menghindari implikasi yang lebih besar lagi yang mungkin dapat menyebabkan perang ataupun kondisi berupa ketidakamanan. Dalam konteks AI, penggunaan AI dalam industri militer dapat menimbulkan sebuah ancaman jika tidak ada regulasi yang mengaturnya seperti kemunculan potensi arm race (perlombaan senjata) yang dapat dilihat pada pengembangan AI sebagai Autonomous Killing Robots sebut saja Sea Hunter, Echo Voyager, Super Aegis II, Platform-M[13]yang dapat mengancam stabilitas keamanan global atau kawasan.
  3. Effects on interunit relations by breaking free of rules (dampak pada antarunit dengan melanggar aturan). Aspek ketiga ini menyorot dampak apa yang akan terjadi antar-unit jika–seandainya—seperangkat aturan telah dibuat dalam sebuah isu yang dianggap sebagai isu keamanan, apakah berdampak secara nyata pada unit-unit tersebut atau tidak. Jika memang pelanggaran terhadap regulasi membawa dampak nyata dalam keadaan aman-tidaknya antar-unit, maka barulah isu tersebut bisa dianggap sebagai isu keamanan. Dalam konteks AI, pelanggaran aturan dalam pengembangan dan penggunaan sistem keamanan/militer berbasis AI dapat menyebabkan dampak antar unit berupa situasi tidak saling percaya, hingga arm race dan perang, sebagaimana yang sudah disebutkan dalam aspek-aspek sebelumnya.

Dari penjabaran diatas, situasi penggunaan AI dalam sektor militer/keamanan sudah bisa dikategorikan sebagai sebuah ancaman nyata, karena perkembangannya yang masih terus berlangsung dapat menimbulkan ancaman-ancaman dari mulai keamanan nasional hingga internasional sehingga diperlukan regulasi dalam pencegahan ataupun minimal limitasi perkembangan AI pada tahap yang tidak diinginkan oleh manusia.

[1] Litovkin, Nikolai. 2018. Russian AI robots and acoustic military tech will soon be dominating the seas and battlefields. https://www.rbth.com/science-and-tech/329280-russian-ai-robots-and-acoustic

[2] Nillsson, N.J. 2010. The Quest for Artificial Intelligence: A History of Ideas and Achievements. New York: Cambridge University Press. Hal. Xiii.

[3] Pellerin, Cheryl. 2017. Project Maven to Deploy Computer Algorithms to War Zone by Year’s End.   https://dod.defense.gov/News/Article/Article/1254719/project-maven-to-deploy-computer-algorithms-to-war-zone-by-years-end/ diakses 27 November 2018.

[4] Gibbs, Samuel. 2018. Google’s AI is being used by US military drone programme. https://www.theguardian.com/technology/2018/mar/07/google-ai-us-department-of-defense-military-drone-project-maven-tensorflow diakses 21 November 2018.

[5]Bonny Docherty. 2018. We’re running out of time to stop killer robot weapons.://www.theguardian.com/commentisfree/2018/apr/11/killer-robot-weapons-autonomous-ai-warfare-un diakses 26 November 2018.

[6] Ibid.

[7] Brown, Daniel. 2018. The Russian maker of the AK-47 just unveiled a golden robot straight out of ‘Aliens’. https://www.businessinsider.sg/russian-maker-of-the-ak-47-unveils-robot-straight-out-of-aliens-2018-8/?r=US&IR=T

[8] Mattha, Busby & Cuthbertson, Anthony. 2018. ‘Killer Robots’ Ban Blocked by US and Russiaat UN Meeting. https://www.independent.co.uk/life-style/gadgets-and-tech/news/killer-robots-un-meeting-autonomous-weapons-systems-campaigners-dismayed-a8519511.html

[9] Ibid

[10] Triolo, Paul dkk. 2018. Translation: Chinese government outlines AI ambitions through 2020. https://www.newamerica.org/cybersecurity-initiative/digichina/blog/translation-chinese-government-outlines-ai-ambitions-through-2020/

[11] Atherton, Kelsey D. 2018.  Are Killer Robots the Future of War? Parsing the Facts on Autonomous Weapons.  https://www.nytimes.com/2018/11/15/magazine/autonomous-robots-weapons.html

[12] Barry Buzan, Ole Waever, dan Jaap de Wilde, Security: A New Framework for Analysis (London: Lynne Rienner Publishers, 1998),  hal. 5—6.

[13] Shiddiq, Taufik Nur. 2017. Dunia Menghadapi Ancaman Robot Pembunuh. https://tirto.id/dunia-menghadapi-ancaman-robot-pembunuh-cvQE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.