Sab. Jul 20th, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Benarkah Ratna Sarumpaet Itu ‘Murid’ Goebbels yang Gagal?

14 min read

Dibikin oleh (IG)vicefarizi

Telisik punya telusur, ternyata Ratna Sarumpaet memiliki hubungan yang spesial dengan Nazi. Bukan karena kegemparan jika dia adalah trah Hitler. Akan tetapi, hubungan ini bersifat ideologis dengan gaya pemerintahan padepokan Nazi di Jerman. Pada sejarahnya, Ratna dengan Nazi itu ibarat pungguk yang merindukan bulan, Ratna juga selalu merindukan sebuah sistem pemerintahan yang sesuai dengan nafas ideologisnya. Pada zaman Orde Baru dulu, Ratna adalah salah satu garda terdepan perlawanan terhadap pemerintah. Berakar melalui kritik yang dilakukannya melalui medium seni teater, pementasan Marsinah: Nyanyian Bawah Tanah. Ratna selalu berakting dengan peran yang sarat akan perlawanan terhadap sang Hyang Penguasa Bumi Pertiwi, Presiden. Apa yang telah dilakukannya tidaklah salah, itu bahkan mengilhami banyak kaum hawa dalam emansipasinya di tengah kerasnya pemerintahan Orde Baru.

Keturunan pahlawan, begitulah nasab Ratna. Beruntungnya memiliki seorang ayah yang dipandang juga sebagai pahlawan tanah Batak, seorang Ratna ternyata memiliki sifat yang tidak jauh dengan sifat ayahnya yang nota bene adalah seorang pejuang kemerdekaaan. Ayahnya, Saladin Sarumpaet, adalah seorang pejuang PRRI bersama-sama dengan Ahmad Husein sebagai warok atau kepala, berserta pula Syafrudin Prawiranegara dan Mr. Asaat membentuk aliansi perlawanan atas dasar anti terhadap sentralisasi pembangunan dan kebijakan yang terpusat pulau Jawa (Jawanisasi) yang dianggap melupakan otonomi daerah. Gerakan Revolusi terhadap Pemerintahan Republik Indonesia tersebut akhirnya memancing pemerintah untuk memberlakukan penumpasan secara militer karena dianggap sebagai gerakan pemberontakan dan anti pemerintah. Diketahui bahwa pengaruh pimpinan dewan perjuangan ini, Ahmad Husein terhadapnya bukan hanya sekedar follower tapi juga follow back. Ratna pun begitu, walaupun memiliki metode yang berbeda, namun Ratna tetaplah Ratna. Sebagai Kartini masa kini, ucap Hanum Rais, itu bukan saja kata-kata yang sekonyong-konyong keluar tanpa sebab yang jelas. Akan tetapi, itu berdasarkan track record Ratna yang sudah mumpuni di bidang emansipasi terutama pada kepingan perlawanannya yang khas.

The Lie of Ratna Revealed

Sebagai Aktris politik yang bukan pendatang baru lagi, terkuaknya kebohongan Ratna Sarumpaet bagaikan mencoreng demokrasi di Indonesia. Blundernya sang ‘neo-Kartini’ tidaklah disangka-sangka oleh pihak manapun. Aksi ratna sebagai aktris dalam panggung teater politik menimbulkan berbagai pertanyaan dari berbagai pihak. Kejadian ini juga menodai rekam jejaknya sebagai aktivis di era Orde Baru. Ada pergeseran dalam pergerakan politik Ratna. Dia tidak seciamik dulu, tidak sejujur dulu dan seperti membeberkan bahwa yang dia perjuangkan bukan lagi seperti pada masa keemasannya. Dengan sebab cara yang dilakukannya sekarang, seolah hanya perlawanannya tidak memiliki akar yang kuat dan hanya mengamini perlawanan oposisi terhadap otoriternya pemerintah yang sedang berkuasa tanpa memahami realita yang ada. Dia gagal sebagai penyintas dalam menahan gelombang kerasnya dunia perpolitikan setelah pasca-reformasi.

Dengan mencoba menyelamatkan diri ke Negara Chile, ternyata tidak menyelamatkan Ratna dari Confession yang telah dilakukannya. Memproklamirkan dirinya sebagai penyebar hoaks terbaik, terklimaks dengan penuh kesedihan Ratna mengakui perbuatannya sehingga seolah Universitas Bumi Pertiwi langsung ingin men-DO nya dari kehidupan kampus. Dia mengakui jika dia hanya berbohong tentang isu yang disebarkannya ke seluruh rakyat Indonesia. Ya, ke seluruh khalayak masyarakat Indonesia baik yang peduli ataupun yang bodo amat agar semua orang tahu jika dia digebuki hingga lebam oleh beberapa orang yang diklaimnya adalah utusan pemerintah sehingga menyebabkan memar di pipi kanan dan pipi kirinya. Siapa yang tidak kasihan melihat seseorang yang dianiaya. Termasuk oposisi pemerintah yang di kepalai oleh Prabowo Subianto seolah memberikan empati langsung terhadap pengaduannya. Kepada awak media dia berkelakar sambil mengecam terhadap peristiwa yang terjadi, “ini adalah sebuah intimidasi, tindakan serta ancaman yang dilakukan seperti ini terhadap perempuan ibu-ibu 70 tahun saya kira ini suatu tindakan yang diluar batas ” ucap mantan Danjen Kopassus tersebut yang tanpa disadarinya dia sudah menelan pil pahit tipuan.

Rakyat mendengar dan melihat peristiwa Ratna akan tetapi rakyat tidaklah berotak bebal. Dengan kekuatan bulan dan keahlian penelusuran media sosial, warganet berhasil menemukan fakta yang berlainan dengan apa yang telah terjadi. Tompi, Dokter kecantikan pun ikut berkomentar. Beberapa bukti yang beredar serta pengakuan rumah sakit, meluapkan kebenaran yang tidak disangka-sangka. Mengejutkan, tertanggal 21 September 2018 hari dimana Ratna mengaku telah dianiaya oleh antek pemerintah, ada fakta jika sebenarnya Ratna melakukan operasi wajah menggunakan asoy plastik. Keterangan ini disampaikan langsung oleh RS Bina Estetika, tempat sakral di mana ratna melakukan perawatan. Foto surat keterangan pernyataan rumah sakit itu beredar. Pernyataan dokter serta beberapa orang yang secara tidak sengaja mengetahui tentang apa yang dilakukan ratna pada hari itu pun berturut-turut akhirnya ter-blow up.

Terkuak sudah biang kebohongan ratna, kartu AS nya. Puncaknya, seolah sudah tidak tahan dan merasa malu, Sang Aktivis akhirnya melaksanakan jumpa pers di kediamannnya dikawasan Kampung Melayu dan mengklarifikasi bohong bisikan “setannya”, dan meneguhkan diri jika dia adalah seorang pembuat hoaks terbaik. Penulis tidak mengerti, terbaik disini mungkin bisa jadi didalam komplotannya dialah yang paling ahli dalam membuat hoaks atau mungkin saja karena dia sudah lumayan berumur sehingga sarat akan pengalaman. Sungguh, sebuah pengakuan yang luar biasa bagi seorang sekelas dia sebagai salah satu tokoh politik kawakan. Seolah mengaku sebagai pendosa di hadapan Pastur agar diampuni segala kesalahannya di atas dunia, dia menangisi apa yang telah di lakukanya karena demi keluarga. Nasi telah menjadi bubur, dan bubur telah menjadi makanan bebek. Seolah sudah jatuh tertimpa tangga, Ratna harus mengalami kerugian secara fisik dan mental dengan harus menghadapi proses hukum yang berlaku di Indonesia.

Josef Goebbels’s Old Theory dan Perannya sebagai Influencer Ratna Sarumpaet

Jika ditarik secara historis, sebenarnya Ratna secara tidak sadar memiliki seorang guru dari tanah Bavaria, Josef Goebbels, Kenapa harus Josef Goebbels? Jadi hubungannya dimana dengan Ratna?

Syahdan, pada masanya (1930-an) di Nazi Jerman (Reich) memiliki seorang menteri yang bak punakawan merupakan salah satu orang kepercayaan Hitler. Dia kebetulan berkedudukan sebagai seorang menteri pencerahan dan memiliki peran ganda sebagai ahli strategi dalam propaganda. Nazi di Jerman menggunakan metodologi Goebbels sebagai pucuk dari model kebohongan yang bisa diterapkan ke publik jerman yaitu,“Kebohongan yang diulang-ulang”. Sebagai seorang propagandis ulung, metodenya yang hakiki ternyata “manjur” terhadap rakyatnya. Perlahan tapi pasti dalam membuat kebijakan pemerintah, Goebells yang laiknya seperti Sengkuni di epos Bharatayudha mencoba membuat kebijakan yang bisa dibilang ekstrim untuk ukuran bualan pemerintah. Dengan cara-cara visionernya Goebbels berhasil mempengaruhi Hitler dalam kebijakannya berpijak pada postulat Goebbels tentang kebohongan yaitu:

Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kenyataan! Sedangkan kebohongan sempurna, adalah kebenaran yang dipelintir sedikit saja.”

Kutipan postulat yang indah dari Goebbels yang berjuluk The Malicious Dwarf dalam ranah perpolitikan Negara yang berlambangkan swastika tersebut. Sangat umum diketahui jikalau politik itu kotor dan tidak mengenal siapa kawan dan siapa lawan karena semuanya berdalih kepentingan. Kepentingan nasional Nazi Jerman yang pada dasarnya berusaha memelihara ideologi fasisme memberikan gejolak pemikir-pemikir Nazi dalam merumuskan pola pemerintahan.

Didalam kejeniusannya dalam propaganda di dalam Reich, dia memiliki sebuah konsep yang dikenal dengan Argentum ad Nausem atau lebih dikenal dengan teknik Big Lie— Kebohongan Besar. Adapun prinsip-prinsip kebohongan yang dicanangkan Goebbels termaktub dalam prinsip-prinsip yang bisa disebut sebagai manuskrip warisan intelektualnya.[1] Walaupun rangkumannya belum andal, namun 19 poin prinsip ini bisa dijadikan sebuah rumusan metodologis. Bekerja atau tidaknya tergantung dari psikologis publik karena prinsip-prinsip propaganda ini dapat digerakkan menjadi bagian demokrasi jika memang dibutuhkan karena sesuai dengan situasi serta pertimbangan etika politik yang ada. Berikut 19 poin prinsip propaganda kebohongan Goebbels[2]:

1. Propagandis harus punya akses ke informasi intelijen menyangkut peristiwa dan pendapat khalayak

2. Propaganda harus direncanakan dan dilaksanakan oleh satu otoritas saja

3. Konsekuensi propagandis sebuah tindakan harus dipertimbangkan dalam perencanaan tindakan tersebut

4. Propaganda harus mempengaruhi kebijakan dan tindakan musuh

5. Informasi operasional terdeklasifikasi harus tersedia untuk mengimplementasikan kampanye propaganda

6. Agar dilirik, propaganda harus membangkitkan minat audiens dan harus disebarkan lewat media komunikasi yang mendapat perhatian

7. Kredibilitas saja yang harus menentukan apakah output propaganda boleh benar atau palsu

8. Tujuan, isi, dan efektivitas propaganda musuh; kekuatan dan efek pembeberan; dan sifat kampanye propaganda mutakhir menentukan apakah propaganda musuh boleh diabaikan atau disangkal

9. Kredibilitas, informasi intelijen, dan efek komunikasi menentukan apakah materi propaganda harus disensor

10. Materi dari propaganda musuh boleh dimanfaatkan dalam operasi bila itu membantu mengurangi prestise musuh bersangkut atau menunjang tujuan propagandis

11. Propaganda hitam ketimbang putih harus dipergunakan ketika yang putih kurang kredibel atau menghasilkan efek tak dikehendaki

12. Propaganda dapat difasilitasi oleh pemimpin berwibawa

13. Propaganda harus diatur waktunya secara cermat

14. Propaganda harus melabeli peristiwa dan orang dengan frasa atau slogan tersendiri

15. Propaganda kepada front dalam negeri harus mencegah timbulnya harapan palsu yang dapat dihancurkan oleh peristiwa mendatang

16. Propaganda kepada front dalam negeri harus menciptakan tingkat kegelisahan optimal

17. Propaganda kepada front dalam negeri harus mengurangi dampak frustasi

18. Propaganda harus memfasilitasi pemindahan permusuhan dengan menentukan sasaran kebencian

19. Propaganda tidak bisa langsung mempengaruhi kontra-tendensi kuat; justru itu harus menawarkan suatu bentuk aksi atau pengalihan, atau dua-duanya

Dalam hampir semua warisan pemikirannya diatas yang membahas strategi dan tujuan propaganda, Goebbels membedakan antara apa yang disebut Haltung (sikap tubuh, tingkah laku, tindak-tanduk) dan Stimmung (perasaan, semangat, mood)[3], sangatlah berpengaruh apalagi dalam membangun opini publik. Selanjutnya, prinsip-prinsip Pemikiran Goebbels cukup linier dengan Teori Komunikasi Massa yang dilakukan komunikan terhadap publik, yaitu hypodermic needle theory (teori jarum suntik hipodermik) yang berawal dari  penyiaran kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika yang berjudul The Invasion from Mars. Ketika itu Orson Welles menyiarkan sebuah epos yang berdasarkan atas buku H.G Wells “The War of  The Worlds[4]. Ia mengubah novel 40 tahun itu menjadi buletin berita palsu yang menggambarkan invasi Mars ke New Jersey. Beberapa pendengar mengira buletin-buletin itu untuk hal yang nyata, dan panggilan telepon mereka yang cemas ke polisi, kantor surat kabar, dan stasiun radio meyakinkan banyak wartawan bahwa pertunjukan itu telah menyebabkan histeria nasional dan ketakutan massal. Kemunculan istilah ini muncul ketika komunikasi massa yang menjangkau daerah Eropa dan Amerika Serikat yang mencapai puncaknya pada Perang Dunia.

Asumsi teori ini menganggap media memiliki kekuatan yang sangat besar dan perkasa, sehingga komunikan dianggap pasif dan kosong. Teori ini didukung oleh kekuatan propaganda Perang Dunia I dan Perang Dunia II. sebagai sampel dapat dilihat dari metode propaganda orator ulung tangan kanan Hitler, Josef Goebbels, yang dapat menjadi gambaran dari teori ini. Berperan dibalik layar, ia sukses meyakinkan masyarakat Jerman untuk membenci Yahudi serta sekutu dan untuk terus mempertahankan negara Jerman dengan berperang. Propaganda Goebbles ini disuntikkan melalui media massa seperti radio dan koran sebanyak mungkin dan sesering mungkin. Laiknya pasien rumah sakit, masyarakat hanya menerima obat psydhelic khas Goebbels tersebut. Berita tersebut merupakan kebohongan dan berisi doktrin-doktrin Nazi. Pemikiran-pemikiran Goebbels ini bagai sebuah bentuk revolusi pemikiran dan mampu membentuk kebohongan sebagai fakta umum dan diterima oleh publik Jerman. Miris.

Berdasarkan kajian Goebbels, apa yang patut dikaji sebenarnya adalah berdasarkan pengakuan dari Ratna itu sendiri yang mengaku sebagai produsen hoaks terbaik tentulah mencurigakan. Jika dia memang produsen, tentu disana ada juga supplyer bahan mentah hoaks, distributor hoaks, dan tentunya segerembol merchant akan hoaks.

Narasi-narasi politik yang terbongkar seperti patut dikupas karena jika dibiarkan tentu akan menjadi virus yang akhirnya menghancurkan negara. Karena pada faktanya tragedi terkadang berasal dari kebohongan berbahaya yang disampaikan oleh elit politik sehingga imbasnya bukan saja mampu berakhir dari segi politik saja namun secara ekstrem hal ini juga dapat memicu perang. Sebagai contoh 19 oktober 1990, remaja putri Kuwait dengan tega membuat narasi kebohongan yang hebat dihadapan kongres AS, dia menceritakan mengenai kebrutalan Irak yang dianggap sebagai pembunuh balita. Kesaksian bohong seperti ini jugalah juga dapat dihubungkan ikut menyulut Perang Teluk. Belakangan diketahui jika kesaksiannya itu adalah bagian dari kampanye dan atas pemerintah Kuwait. Lain dengan Nayirah, kekonyolan kebohongan yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS, Collin Powell tentang senjata pemusnah massal yang ada di Irak juga menyebabkan invasi besar-besaran AS terhadap Irak yang akhirnya terbukti jika hal tersebut yang naasnya sama sekali tidak terbukti dan berujung dengan keruntuha rezim Saddam Husein dan kehancuran Irak. Di dalam studi kasus Ratna Sarumpaet, dengan pandangan yang teoritis dan rasional, mari kita rinci propaganda ini sehingga tidak menurun ke Indonesia dan mendapat akibat seperti yang terjadi di Nazi Jerman karena keberhasilan seorang demagog yang bernama Adolf Hitler dan pembisiknya, Josef Goebbels, mereka bersama-sama didalam pemerintahan yang menjanjikan kepada rakyatnya “Deutschland uber Alles”.

Strategi Firehose and Falsehood sebagai bentuk Evolusi dari Propaganda Goebbels

Di era pasca-kebenaran (post-truth) saat ini, kebohongan bagaikan suatu komoditas yang dapat dijual ke siapa pun karena kebenaran sendiri seperti tidak ada harganya. Hal ini lumrah,  mudah ditemukan dan bahkan terpampang di dalam realitas. Propaganda jika tanpa kebohongan sendiri ibarat sayur tanpa garam. Sebagai salah suatu teori yang mumpuni, propaganda Goebbels yang klasik itu sepertinya mengalami sebuah evolusi yang bergerak menuruti perkembangan zaman. Adalah Firehose and Falsehood. Sebagai rookie theory bagai memberikan nafas baru bagi teknik propaganda masa kini dan mengembalikan ingatan sejenak mengenai Propaganda Goebbels yang melegenda.

Teknik ini—Firehose and Falsehood—pada awalnya digunakan oleh wayang-wayang propagandis Rusia (KGB) dengan dalangnya, Vladimir Putin, dalam menganeksasi Crimea. Teknik ini pula yang sempat dan berhasil digunakan oleh Presiden AS Donald Trump di tengah pengejewantahannya dalam pemenangan Pemilu di AS. Dengan mengedepankan obvious lies (kebohongan yang kentara) dia berhasil mengarahkan rakyat Amerika Serikat kepada fakta yang salah (disinformasi)  sehingga publik termakan oleh ketidakjelasan fakta yang beredar di masa pemilu.

Prinsip dari Firehose dan Falsehood yang tertulis didalam Sebuah laporan yang ditulis oleh Christopher Paul dan Miriam Matthews dari Rand Corporation yang berjudul The Russian “Firehose of Falsehood” Propaganda Model[5] mengulas model dan metode propaganda yang dikatakan sebagai highly effective propaganda. Model propaganda obvious lies ini memiliki karakter sebagai berikut :

  1. High Volume and Multi-Channel, yang artinya memiliki jangkauan yang luas dan disampaikan dalam volume yang besar serta disampaikan melalui berbagai saluran (internet, media social, televisi, radio).
  2. Rapid, Continuous and Repetitive, yang artinya dikeluarkan secara terus menerus, simultan dan tersebar begitu cepat. Semakin banyak orang yang menyuarakan akan lebih baik. Selain itu exposureterus-terusan dan berulang-ulang, prinsip dari iklan berlaku disini.
  3. No Commitment to Objective Reality, tidak ada realitas yang objektif karena tidak ada kebenaran yang mutlak karena pada puncaknya walaupun kebohongan tersebut terbongkar, hal itu akan tetap mejadi bias dan opini pun bisa bertransformasi menjadi fakta yang diterima.
  4. No Commitment to Consistency, semakin tidak konsisten kebohongan tersebut, semakin kuat pula kekuatan amunisinya jika hari ini kekuatannya seperti pistol air karena kemunculan fakta baru mungkin di keesokan harinya kebohongan tersebut dapat menjelma menjadi AK- 47.

Naif rasanya jika kasus Ratna dianggap sebagai suatu kebetulan apalagi diatas panggung politik Indonesia di masa pemilihan umum yang penuh dengan sandiwara politik. Beberapa prinsip mengenai metode Firehose and Falsehood tersebut memunculkan suatu topik dan anggapan yang mengaitkan teori ini dengan metode propaganda  politis yang dilakukan kelompok Ratna yang notabene dianggap sebagai golongan Konservatif melawan kubu Petahana yang Progresif. Menarik ditelusuri. Poin-poin yang mencurigakan kenapa ditarik kesimpulan ini sebenarnya karena pertanda juga, sebagai sampel dapat dilihat didalam gerak-gerik dari cawapres Sandiaga yang seolah meniru gaya kampanye Trump yang menggunakan narasi taktik “Make Indonesia Great Again”. Penulis tidaklah membela kubu Jokowi karena pada dasarnya ada hal-hal substantive yang sepertinya patut untuk diulik kejelasannya karena Black Propaganda[6] seperti ini sangatlah menarik untuk ditelusuri, setidaknya dengan mengulasnya kita jadi mampu untuk mengetahui kenapa ada kesan kelompok ratna yang sebelumnya bak ksatria membela matia-matian namun setelah terkuak seolah seperti cuci tangan dan mencampakkan ratna.

Didalam pemahaman kutub spektrum politik masyarakat, berdasarkan riset neuropolitik yang berjudul The Genetics of Politics[7], diketahui jika orang-orang konservatif dan progresif ini dapat dibedakan secara genetic. Artinya, struktur otak kedua kelompok orang-orang ini berbeda. Sehingga, progresif dan konservatif juga memiliki pola kerja otak yang berbeda. Konservatif memiliki Amygdala yg lebih tebal sementara progresif memiliki Insula yg lebih tebal. Amygdala secara primitif berperan dalam Human Nature sebagai bentuk dari survival instinct. Sementara, Insula yang terletak di bagian belakang dan samping diketahui berhubungan dengan rasa empati.

Otak memiliki peran vital dalam teori Firehose and Falsehood, Amygdala lah yang paling memiliki peran dalam menimbulkan respon alamiah yaitu naluri rasa takut. Ketakutan tersebut pada akhirnya menimbulkan suatu keinginan di dalam diri manusia akan rasa aman dan disinilah propaganda dari Firehose and Falsehood tersebut bekerja. Penilaian mengenai afiliasi politik dipandang terbagi dalam dua kelompok yaitu Konservatif dan Progresif, hal ini tidaklah dianggap sebagai suatu bentuk binary politics (0 dan 1), akan tetapi pada dasarnya masyarakat pada umumnya memang terbagi dalam kedua spektrum tersebut.

Konservatif yang mengedepankan ketertiban masyarakat sebagai prasyarat dari masyarakat yang madani sehingga menjadikan suatu aturan dari tradisi dan agama dianggap memiliki pondasi yang kuat dan luhur dibandingkan dengan aturan yang dibuat oleh manusia.

Sedangkan Progresif, memiliki orientasi terhadap kebahagiaan dan hak-hak individu, karena pada prinsipnya kebahagiaan itu bertumbuh (progress) sehingga dimaknai bahwa aturan agama itu sifatnya interpreter (tafsir).

Bergerak kembali dalam kasus ratna, bercermin dalam kasus Trump yang diketahui memang menggunakan metode Firehose and Falsehood dalam propaganda agenda kampanyenya. Melalui disinformasi berita (fake news) yang digunakan sebagai alatnya di dalam meneyebarkan ketakutan. Ketakutan akibat biasnya informasi inilah yang akhirnya mampu mencuci otak publik AS sehingga ketersebaran berita-berita palsu tersebut menimbukan rasa tidak aman di dalam diri masyarakat dan keraguan atas suatu kebenaran.  Harapan akan rasa aman di tengah galaunya masyarakat perkara kasus Ratna yang juga diketahui memberikan efek yang acak dan masif terhadap kepercayaan publik baik dari kubu Prabowo maupun Jokowi secara instan bahkan sempat mampu mengalihkan perhatian publik atas bencana Gempa Bumi dan Tsunami yang mendera Palu, Sulawesi Tengah sehingga justifikasi pun menjadi ambigu. Anggapan-anggapan publik yang terkonstruksi didalam opini-opini baru dianggap sebagai fakta baru yang dapat diterima karena hilangnya kepercayaan terhadap kebenaran.

Secara kasar, imbas dari terkuaknya kebohongan Ratna tersebut dianggap sebagai suatu counter attack dari kubu petahana dengan melayangkan pernyataan mengenai strategi propaganda mesin politik prabowo meniru strategi ala Rusia yaitu Firehose dan Falsehood namun itu belumlah terbukti. Akan tetapi, dengan kemunculan fakta baru yang seolah memojokkan Ratna malah menimbulkan penggorengan narasi baru serta opini yang berbalik lagi terhadap kubu Jokowi namun dengan tega menumbalkan Ratna, dengan dalih jika kebohongan pemerintah itu tidaklah sebanding dengan kebohongan yang dilakukan oleh seorang emak-emak bahkan jika ditilik secara ekstrem di masyarakat muncul anggapan bahwa Ratna merupakan seorang agen ganda kubu Jokowi.

Jadi siapa yang sebenarnya berbohong?

Begitulah kenyataan di dalam dunia politik, tidak ada kebenaran yang absolut. Jika memang terbukti kasus Ratna merupakan salah satu dari strategi Firehose and Falsehood, hal ini dapat disebut sebagai sebuah pencapaian di dalam, sebuah tragedi di era demokrasi kontemporer saat ini. Dapat disimpulkan sasaran dalam propaganda ini tentulah spektrum yang berada diantara progresif dan konservatif yaitu kalangan moderat. Sebab, pada dasarnya pada saat ketakutan publik dan psikologi publik yang diserang secara menyeluruh, maka ada kecenderungan dari pihak-pihak yang moderat untuk lebih condong terhadap pilihan yang konservatif atas dasar keinginan yang kuat untuk memiliki sosok pemimpin yang tegas dan berwibawa, karena pemimpin dengan kriteria itulah yang bisa menjadi solusi untuk menegakkan ketertiban dan keteraturan. Hal itu tidak ditemukan didalam sosok seseorang Jokowi yang nyatanya sosok yang Progresif. Dengan kata lain, karakter tersebut dalam kontestasi pilpres 2019 ini hanya akan dapat ditemukan pada figur seorang Prabowo.

Akan tetapi, jika realitanya Ratna memang terbukti melakukan propaganda dan propaganda tersebut benar-benar terkuak dan benar adanya, malang nasib Ratna yang akhirnya menjadi tumbal dan tidak menghasilkan hasil yang maksimal. Penulis teringat akan kesamaan nasib Ratna ini dengan Steve Bannon yang dikenal sebagai pemimpin portal media online abal-abal, Breitbartnews.com, yang jadi mesin propaganda Trump untuk membunuh karakter Hillary Clinton, memusuhi imigran Latin dan Muslim serta anti kulit hitam. Bannon sempat jadi Chief Strategist Trump. Julukannya “The Great Manipulator” yang setelah berhasil menghantarkan Donald Trump ke Gedung Putih, ia pun dicampakkan. Duh, sungguh naas murid Goebbels ini, jika memang memiliki kesamaan takdir dengan Bannon yang malang. Narasinya yang alih-alih seharusnya lancar akhirnya buntu karena keapesan bisikan setan. Kebohongan itu memang pahit namun manis kedengarannya, begitu juga dengan kebenaran pun kadang terasa nano-nano karena tidak ada kebenaran yang benar-benar mutlak dan berakhir dengan manis sebagaimana mestinya.

“Tidak ada manusia yang sanggup mengingat dengan baik untuk bisa menjadi pembohong yang sukses”

(Abraham Lincoln)

[1] Doob, L. (1950). Goebbels’ Principles of Propaganda. The Public Opinion Quarterly, 14(3), 419-442. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/2745999

[2] https://outseen.wordpress.com/2017/05/16/19-prinsip-propaganda-goebbels/ diakses pada 9 oktober 2018

  1. [3] Louis P. Lochner (editor), The Goebbels Diaries, New York Doubleday & Company, 1948.
  • [4] Wells, H. G., & Danahay, M. A. (2003). The war of the worlds. Peterborough, Ont: Broadview Press.

[5]Laporan Rand Corporation mengenai Teknik Firehose of Falsehood https://www.rand.org/content/dam/rand/pubs/perspectives/PE100/PE198/RAND_PE198.pdf

[6] A Psychological Warfare Casebook”, William E Daughtry

[7] Lecture Rose McDermott mengenai Genetic of Politic https://www.youtube.com/watch?v=THILuP582iw

1 thought on “Benarkah Ratna Sarumpaet Itu ‘Murid’ Goebbels yang Gagal?

  1. Wah penulisnya top !
    pengen nongki-nongki bareng penulisnya.huhu
    jadi bagusnya menurut penulis, saya harus pilih No. 1 atau No. 2 ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.