Sen. Jul 13th, 2020

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Dunia Miyazaki Sebagai Jalan Pulang

13 min read

79 Tahun Miyazaki

Seorang bocah perempuan mungil membungkukkan badannya, sebuah gestur penghormatan atau terima kasih, kepada seorang lelaki sepuh beruban. “Terima kasih atas film Howl,” ucap perempuan kecil tersebut dengan bahasa Jepang yang terdengar masih sangat “cadel”. Si lelaki sepuh membalas dengan tawanya yang lebar : ”Sama-sama”, ucapnya. Adegan nyata nan manis tersebut muncul di sebuah dokumenter eksklusif bagian pertama (keseluruhannya dibagi menjadi 4 bagian) dan ditayangkan oleh NHK dengan tajuk 10 Years with Hayao Miyazaki.

Hayao Miyazaki sendiri adalah seorang animator, mangaka serta penulis skenario. Dirinya dikenal luas sebagai salah seorang pendiri Studio Ghibli, sebuah studio animasi Jepang (biasa disebut Anime) yang tersohor. Dirinya dielu-elukan oleh banyak orang sebagai “Grandmaster”nya dunia animasi Jepang. Di Barat, ia dikenal sebagai tokoh yang bertanggung jawab membuat anime menjadi “mainstream”. Salah satu film besutannya yang melegenda, Sen to Chihiro no Kamikakushi, adalah film animasi asal Jepang pertama yang memperoleh penghargaan Oscar  (pada tahun 2003) sebagai Best Animated Feature Film, mengungguli Disney (dengan Lilo & Stitch), serta Ice Age, Spirit : Stallion of Cimarron dan Treasure Planet

Saat itu, Miyazaki sempat menjadi pusat perhatian media karena dengan dingin menolak untuk menghadiri serah terima penghargaan tersebut. Tanpa mengurangi rasa terima kasihnya kepada seluruh koleganya beserta seluruh orang yang mengapresiasi karyanya, Miyazaki dengan gamblang menyebutkan bahwa dirinya merasa tidak pantas untuk bersuka ria ketika di belahan dunia lain sedang terjadi bencana dan kesedihan masal, dimana yang dimaksudkan adalah Perang Irak. Pun, ketika anime Kimi no Nawa (Your Name) besutan Makoto Shinkai meledak dan menjadi sebuah fenomena mendunia, media sempat membingkai Shinkai sebagai “penerus” Miyazaki. Menandakan betapa fenomenalnya sesepuh ini dalam industri anime.

Esai ini merupakan interpretasi penulis secara pribadi terhadap elemen-elemen yang muncul dalam karya seni Miyazaki, dimana salah satu yang paling berkesan adalah elemen “Independensi” yang formulanya kerap ditemui dalam karyanya. Dalam pandangan penulis, Independensi adalah segala-galanya bagi Miyazaki, dan hal tersebut muncul di karya-karyanya dalam berbagai bentuk. Penulis melihat bahwa satu-satunya yang membatasi independensi Miyazaki adalah tuntutan dari dirinya sendiri untuk membuat sebuah masterpiece. Tulisan ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan lama yang sejatinya untuk konsumsi pribadi, sebut saja semacam hasil kontemplasi terhadap karya-karya Miyazaki. Namun, sebagai bentuk penghormatan penulis kepada Miyazaki yang di tanggal 5 Januari lalu genap berusia 79 tahun, penulis pun berupaya sebisa mungkin berbagi interpretasi penulis atas karya-karya Miyazaki yang selama bertahun-tahun telah menjadi semacam sanctuary pula bagi penulis, khususnya tentang elemen “Independensi” tadi. Tidak berlebihan rasanya jika penulis memasukkan Hayao Miyazaki sebagai salah satu figur seniman yang sangat mempengaruhi cara pandang penulis terhadap dunia.

Cinta Non-Konvensional Yang Sufistik

Bentuk independensi Miyazaki yang pertama dan paling berharga adalah independensinya dalam memotret kisah cinta antara laki-laki dan perempuan dalam karya-karyanya. Penulis memandang bahwa Miyazaki adalah seorang yang cukup “konservatif” namun Non-Konvensional dalam memandang cinta, dimana dirinya menolak anggapan bahwa cinta antara laki-laki dan perempuan harus datang dalam bentuk dan nuansa romantis-seksualistik. Justru, Miyazaki meyakini bahwa untuk memahami hakikat dan ekspresi cinta yang hakiki adalah dengan memahami bahwa hubungan dan ikatan cinta tidak melulu harus dalam nuansa ataupun tendensi yang demikian. 

Afeksi ataupun cinta dalam alam pikiran Miyazaki datang dalam berbagai bentuk-dalam berbagai tingkatan. Berlawanan dengan arus utama kisah cinta pria-wanita dalam alam pikir manusia modern yang terbelenggu pada anggapan reduksionis bahwa cinta harus selalu dalam kerangka romantis dan seksualistik, hingga pada akhirnya terperangkap dalam reduksi bahwa cinta akan selalu berhubungan dengan syahwat.

Miyazaki pernah menyebutkan bahwa

Aku telah menjadi skeptis atas aturan tak tertulis bahwa ketika seorang anak laki-laki dan perempuan muncul dalam satu film, maka kisah ‘romance’ harus hadir. Sebaliknya, aku justru ingin membawakan pola hubungan yang sedikit berbeda, sebuah pola hubungan dimana kedua-duanya secara bersamaan saling menginspirasi satu sama lain untuk hidup – jika aku mampu untuk melakukannya, maka mungkin langkahku dalam usaha untuk menggambarkan ekspresi sesungguhnya dari cinta akan kian dekat.”

Inilah kenapa Miyazaki memilih untuk mengakhiri film Mononoke Hime sebagaimana adanya. Setelah penonton melihat bagaimana karakter utama laki-laki dan perempuan saling mengekspresikan cinta dan kepedulian mereka satu sama lain di bagian akhir-akhir film, namun konklusinya berkata lain. Setelah karakter utama perempuan (San) mengekspresikan betapa berharganya karakter utama laki-laki (Ashitaka) bagi dirinya, mereka sepakat untuk hidup tanpa “ikatan romantis”, bertentangan sama sekali dengan ekspektasi penonton maupun penghabisan cerita yang kerap kita jumpai. Sehingga Mononoke Hime tidaklah hanya sebatas film yang menceritakan tentang konflik antara kepentingan manusia dengan keberlangsungan alam, namun juga membingkai sebuah kisah cinta yang cenderung asing bagi manusia modern, sebuah kisah cinta tanpa hasrat romantis seksualistik.

Aku mencintaimu, Ashitaka. Namun aku tak mampu untuk memaafkan manusia.” Dan Ashitaka hanya tersenyum, kemudian berkata, “Itu tidak masalah. Hiduplah kembali di hutan dan aku akan hidup di ‘Iron Town’ dan membantu mereka untuk membangunnya kembali. Aku akan tetap sedekat mungkin denganmu, dan mengunjungimu sebisa dan sesering mungkin.” Itulah kira-kira konklusi tidak biasa yang yang dihadirkan oleh Miyazaki dalam Mononoke Hime.

Pola hubungan cinta kasih serupa juga muncul dalam Sen to Chihiro no Kamikakushi (atau dikenal luas juga dengan judul Spirited Away), dimana konklusi dari ikatan hubungan antara Chihiro dan Haku adalah berupa janji bahwa mereka tidak akan saling melupakan dan pada suatu saat nanti, entah kapan dan bagaimana caranya, mereka akan kembali bertemu. Haku mengantar Chihiro hingga batas paling luar menuju dunianya, dan berpesan untuk terus melangkah dan jangan menengok ke belakang sembari meyakinkan bahwa mereka saling mencintai, sekalipun dalam bentuk cinta yang non-konvensional dan terbebas dari reduksi syahwati.

Begitu juga dalam Kari-gurashi no Arietti yang didasari pada novel karangan Mary Norton berjudul The Borrowers. Dalam film animasi ini, Miyazaki bertugas sebagai developing planner sekaligus bertanggung jawab dalam membuat screenplay untuk proyek tersebut. Disini, Miyazaki kembali mencoba untuk memotret sebuah bentuk cinta yang mungkin amat rumit untuk dipahami oleh mereka yang sudah terlanjur mereduksi terma cinta itu sendiri, yakni dengan menceritakan sebuah ikatan cinta antara lelaki berusia sekitar sepuluh tahunan dengan seorang Borrower perempuan yang seukuran jarinya. Hampir sama dengan Sen to Chihiro no Kamikakushi, konklusi dari kisah mereka adalah perpisahan, dengan janji bahwa satu sama lain tidak akan saling melupakan, bahwa eksistensi mereka satu sama lain telah menjadi semacam daya hidup bagi masing-masing diri.

Sementara dalam Gake no Ue no Ponyo, Miyazaki memotret pola hubungan ini dengan lebih jenaka dan polos, dengan mengambil tema cerita tentang “lelembut” ikan mas yang masih kanak-kanak bernama Ponyo yang berteman dengan anak manusia berumur 5 tahun bernama Sousuke. Tak akan mungkin ada bentuk cinta paling polos melebihi bentuk cinta antara anak umur 5 tahun dengan “Putri” Ikan Mas. Sekalipun dalam konklusi film ini, Miyazaki membuka “kesempatan” bahwa setelahnya mungkin akan ada cinta yang konvensional antara mereka berdua (dengan berhasilnya Ponyo berubah menjadi manusia seutuhnya), namun sepanjang film Miyazaki berusaha memotret pola hubungan yang polos dan lugu antara dua karakter ini. Menghasilkan sebuah pola hubungan cinta yang tidak saja jenaka dan polos, namun manis.

Penggambaran cinta dalam karya-karya Miyazaki tidak saja penulis lihat mampu untuk mengingatkan kembali penontonnya bahwa ada banyak bentuk cinta di dunia ini. Bahwa cinta bahkan dapat ditemukan dalam kisah kebencian yang berurat daging hingga dari kepolosan anak-anak. Manusia modern banyak yang melupakan hal ini, bahkan masuk dalam tahap menganggap tiada jenis-jenis cinta non-romantis. Modernitas yang semakin lama semakin rumit telah membuat manusia kehilangan kemampuannya untuk memahami arti cinta dalam arti-arti yang lebih sederhana. Hal ini berdampak pada semakin sulitnya manusia untuk hidup berdampingan dalam harmoni, karena enggan dan tidak mampu menghadirkan dan memahami cinta yang sejatinya beragam bentuk dan tingkatannya. Karena ini pula, manusia sudah kehilangan kemampuannya untuk memberikan arti demi arti pada alam dan entitas disekelilingnya.

Atas dasar absennya pemahaman ini, maka satu-satunya yang mampu dipahami oleh manusia pun akhirnya adalah kebencian, sebagai sebuah konsekuensi mendasar ketika manusia gagap, gagal dan mengosongkan dirinya dari mencintai. Muncullah alienasi manusia terhadap dirinya sendiri, pengasingan diri dari fitrah manusia yang sejati. Manusia sudah kehilangan kemampuan untuk memahami, bahwa dalam realitas dunia yang penuh dengan derita dan kekacauan, seharusnya cinta dan kasih sayang adalah pilihan paling rasional yang dapat diambil manusia untuk meredam semua hal tersebut.

Semesta-Semesta Gila

Selain itu, independensi Miyazaki selanjutnya muncul dalam semesta-semesta yang ia ciptakan. Semesta yang Miyazaki ciptakan bukanlah semesta biasa yang masih merasa harus untuk terikat dengan rasionalitas. Semesta Miyazaki seringkali menuntut penikmatnya untuk sejenak berserah diri pada kepolosan dan keluguan ruang-ruang imajinasi yang “kekanak-kanakan”. Dalam alam pikiran Miyazaki, semesta tempat kisahnya mengalir seringkali adalah semesta dimana pertanyaan “Bagaimana mungkin…?” terlarang untuk dimunculkan. Banyak bermunculan makhluk-makhluk yang rasanya tak dibutuhkan benar dalam penceritaan, namun tetap saja dimunculkan, sekedar untuk menegaskan bahwa semestanya adalah semesta yang sebisa mungkin kosong dari alasan namun tetap dipenuhi dengan nuansa estetika yang ajaib. Penulis seringkali melihat Miyazaki sebagai “penjelmaan” seorang Edgar Allan Poe yang jauh lebih “sehat” akalnya dan lebih bahagia serta lebih “optimis” kehidupannya. Miyazaki tanpa ragu mengkombinasikan unsur-unsur yang jika saja disebutkan secara terpisah, maka akan menghasilkan disharmoni, atau ketidakteraturan. Tidak ada yang terlalu absurd bagi Miyazaki.

Dalam Tonari no Totoro, misalnya. Independensi ini membuat Miyazaki kembali menyentil apa-apa saja yang hilang akibat kedewasaan manusia modern. Miyazaki mengeksplorasi rasa ingin tahu yang masih jernih tanpa pertimbangan yang berorientasi materialistik, yang tampaknya makin sulit ditemukan keingintahuan semacam ini setelah proses pendewasaan berjalan, melalui karakter 2 kakak beradik perempuan yang lincah dan jenaka dalam animasi satu ini. Tonari no Totoro mencoba mengingatkan kembali penonton akan kepolosan yang nampaknya jauh lebih diperlukan di zaman ini alih-alih pengetahuan saintifik dan teknologi yang seringkali justru mendehumanisasi manusia itu sendiri. Dalam Tonari no Totoro, si kakak beradik masih hidup dalam kesadaran atas kuasa dan realitas yang magis, membuahkan kebijaksanaan berupa aktualisasi diri dalam mewujudkan harmoni dengan alam sekitar.

Dan Miyazaki seakan tidak menahan-nahan imajinasinya untuk membuat penonton turut serta dalam pesona kreatifitas liarnya ini. Dalam karya seni mana lagi anda akan menjumpai sebuah cat-buss, alias kucing yang juga bis gaib, yang mampu membawa penumpang dengan lincah bersama hembus tiupan angin? Melompat-lompat dari satu kabel tiang listrik ke kabel tiang listrik lainnya? Bola matanya adalah lampu sorotnya. 

Jenseits von Gut und Böse1

Sekalipun begitu, bukan berarti semesta-semesta Miyazaki kosong benar-benar dari unsur-unsur realitas. Bahkan dalam semesta yang begitu indah dalam “keeksentrikannya”, Miyazaki dengan berani keluar dari jalur mainstream penceritaan karya seni animasi. Miyazaki sangatlah fasih dalam memercikkan noda abu-abu dalam semesta-semestanya. Semesta Miyazaki bukanlah semesta yang “hitam-putih”. Bahkan antagonis yang tampaknya sangat patut dibenci pun, diberikan corak abu-abu oleh Miyazaki, alih-alih hitam pekat. Diberikan kesempatan untuk kita agar mempertimbangkan, bahwa karakter-karakter tersebut mungkin masih layak mendapatkan cinta. Kombinasi antara imajinasi liar dengan realitas hidup yang kerap luput disadari manusia inilah yang menjadikan karya-karya Miyazaki bahkan jauh lebih “manusiawi” dibandingkan karya-karya seni selainnya. Miyazaki seakan “memaksa” kita agar memberikan kesempatan pada peran-peran antagonis sekalipun untuk merasakan juga rasa cinta dan kepahaman kita padanya.

Miyazaki memang mengaku enggan membuat cerita dengan karakter yang jahat dan  benar-benar jahat begitu saja tanpa ada sudut pandang lain yang ditawarkan langsung dan dengan gamblang olehnya sendiri. Dalam sebuah wawancara, Miyazaki mengatakan : “Membuat sebuah film dimana ada seorang tokoh yang jahat dan ada tokoh baik yang melawan tokoh jahat tersebut kemudian akhirnya adalah akhir bahagia, itu adalah satu cara untuk membuat film. Namun jika seperti itu, berarti anda harus menggambar, sebagai seorang animator, tokoh jahatnya itu. Dan bukanlah hal yang menyenangkan menggambar tokoh-tokoh jahat. Maka aku memutuskan untuk menolak tokoh-tokoh jahat dalam film-filmku.” Independensi semacam ini tergolong langka ditemukan dalam seni animasi (bahkan film secara umum), dimana selera pasar dan zaman tidaklah dijadikan sebagai dasar penciptaan semesta dan penulisan cerita.

Dalam Mononoke Hime, misalnya. Secara brilian, Miyazaki mampu memperkenalkan cinta, kasih sayang, kepedulian, harmoni, pengampunan dan berbagai nilai-nilai kebaikan melalui kebencian, permusuhan dan kecenderungan destruktif, baik yang berasal dari San ataupun Lady Eboshi. Nilai-nilai kebaikan tersebut justru dimunculkan Miyazaki melalui Ashitaka, tokoh yang terkutuk amukan dewa, begitupun optimisme dalam memandang penderitaan dan terkutuknya dunia justru muncul dari karakter minor yang mengidap penyakit tak tersembuhkan dan hanya memiliki tempat dalam benteng besi Lady Eboshi.

Dalam film tersebut, Miyazaki menghadirkan “kejahatan” dari karakter protagonis utama yang sejatinya adalah karakter yang penuh kasih. Dirinya dikutuk oleh dewa dengan kejahatan, kebencian, dan kemampuan untuk membunuh dikarenakan kasih sayangnya kepada penduduk desa tempat tinggalnya dahulu.

Pada sisi yang lain, Miyazaki menampilkan San dan Lady Eboshi, yang saling bunuh membunuh demi membela apa yang ia bela, demi mempertahankan orang-orang (atau dalam kasus San, makhluk-makhluk) yang dicintainya sedemikian rupa. Sekalipun Lady Eboshi adalah antagonis dalam film ini, namun Miyazaki menampilkan sisi “putih” dari karakternya. Bahwa Lady Eboshi bertindak sebagaimana tindakannya itu dikarenakan untuk kelangsungan orang-orang yang telah “diselamatkannya”. Lady Eboshi adalah manusia yang dengan kasih sayangnya, merawat orang-orang yang mengidap penyakit sejenis “lepra”. Memberikan mereka tempat tinggal, makanan, dan kasih sayang. Lady Eboshi juga membebaskan perempuan-perempuan yang dulunya bekerja di rumah bordil dan memberikan cara hidup yang lebih manusiawi dan bermakna. Sehingga dibalas oleh mereka dengan loyalitas hingga mati. Lady Eboshi bukanlah tipikal antagonis-antagonis mainstream yang kosong dari nilai-nilai kebaikan dan kebajikan, hal yang masih sangat asing ketika Mononoke Hime pertama kali tayang.

Hal tersebut pada faktanya, memanglah tujuan paling utama yang ingin dicapai oleh Miyazaki melalui Mononoke Hime. Hal tersebut terdokumentasi dalam proposal yang diajukan Miyazaki ketika menawarkan konsep cerita Mononoke Hime kepada para koleganya pada bulan April 1995. 

Di Tengah kebencian dan saling bunuh-membunuh, masih ada hal-hal yang pantas menjadi alasan untuk tetap hidup. Sebuah pertemuan yang menakjubkan, atau sebuah hal yang indah masih mampu untuk eksis. Kita melukiskan kebencian, namun dengan tujuan untuk melukiskan hal lain yang jauh lebih penting. Kita melukiskan kutukan, untuk melukiskan suka cita pembebasan.2

Cara pandang mendalam dari Miyazaki yang tidak hitam-putih ataupun fatalistik adalah kritik terhadap kecenderungan manusia modern dalam memandang baik dan buruk. Kegagalan manusia yang tidak mampu lagi memandang bahwa segala sesuatu di dunia ini sangat memungkinkan untuk bersifat dualistik membuat manusia enggan untuk mengampuni, untuk mencari jalan hidup harmonis dalam pola hubungan antar individu. Benci maka “musuh”, cinta maka “teman”.  Manusia modern kehilangan kapabilitas untuk “mencintai” musuh-musuhnya maupun “membenci” teman-temannya. Yang ada pada orang yang kita benci hanyalah kebencian dan keburukan, dan yang ada pada orang yang kita cintai hanyalah kasih sayang dan kebaikan. Dan ini adalah salah satu bentuk kegagalan manusia modern (yang dalam pandangan penulis) yang dicoba untuk digambarkan oleh Miyazaki dalam karyanya. 

“Perempuan-Perempuan” Miyazaki

Bentuk independensi Miyazaki lainnya mewujud dalam caranya menciptakan karakter perempuan yang mengabaikan standar pasar dari masa ke masa. Dalam karya-karyanya, independensi ini muncul dalam bentuk karakter perempuan yang memorable. Miyazaki sangat mencintai penokohan karakter perempuan yang independen, atau minimal sedang dalam tahapan menuju independensi. Bagi Miyazaki, karakter perempuannya memerlukan dukungan, memerlukan partner (entah itu sebagai teman atau pasangan romantis), namun “perempuan-perempuan” Miyazaki akan selalu independen dari “penyelamat lelaki” atau male savior. Independensi perempuan versi Miyazaki adalah sebagaimana independensi laki-laki baginya, yakni independensi tanpa ada kecenderungan untuk mengalienasi diri dari relasi antar sesamanya.

Untuk memahami ini, ada baiknya kita coba kupas satu per satu karakter perempuan major dalam karya-karya terpenting Miyazaki. Sekalipun di seluruh karya besutannya karakter perempuan seperti ini selalu ditemukan, namun penulis akan membahas beberapa karakter perempuan yang paling memorable. Yang pertama adalah dalam Kaze no Tani no Naushika, Miyazaki menghadirkan tokoh Nausicaa, seorang princess-warrior (Puteri yang juga Ksatria) dari Valley of the Wind yang menjadi panutan warganya. Nausicaa hidup dalam setting post-apocalyptic, dimana dunianya adalah dunia yang sudah hancur karena ulah tangan manusia dan penuh dengan racun. Sekalipun ada perbedaan cerita dalam versi Manga dengan Anime-nya, namun penggambaran Nausicaa tidaklah berbeda. Dia adalah perempuan tangguh yang dapat diandalkan, sebisa mungkin berjuang mempertahankan kelangsungan hidup manusia dengan tetap memegang teguh idealisme pasifis-nya.

Kemudian, dalam Princess Mononoke, Miyazaki menghadirkan San yang juga setangguh Nausicaa namun jauh lebih konfrontatif. San memimpin pertentangan antara ambisi destruktif manusia melawan kehendak alam untuk tetap bertahan hidup. San berada di pihak alam, sementara karakter perempuan kuat lainnya, Lady Eboshi berada di pihak ambisi destruktif. Sementara dalam Tonari no Totoro, Sen to Chihiro no Kamikakushi, serta Majo no Takkyūbin (juga dikenal sebagai Kiky Delivery Service) menceritakan perjuangan anak-anak gadis yang tumbuh menjadi independen dan keluar dari kemanjaan dengan berbagai problema yang sangat mampu dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat.

Selain itu, Miyazaki mungkin sekarang ini adalah satu dari sedikit animator Jepang (yang masih aktif) yang benar-benar berkomitmen menolak dengan keras seksualisasi terhadap (karakter) perempuan dalam industri animasi Jepang. Kita tidak akan menemukan karakter perempuan yang dieksploitasi seksualitasnya oleh Miyazaki, bahkan dari karakter-karakter perempuan yang diceritakan merupakan bekas pekerja rumah bordil, sebagaimana yang dikisahkan dalam Mononoke Hime. Miyazaki dengan “fasihnya” menyentil tidak saja industri film, namun juga pemahaman manusia modern yang makin kesini makin merasa perlu untuk (entah bagaimanapun cara dan bentuknya) menseksualisasi tubuh dan peran perempuan.

Like the Wind or the Sound

Bentuk independensi Miyazaki selanjutnya yang juga menarik adalah independensinya terhadap kecenderungan untuk menganggap bahwa eksistensinya lebih penting dibandingkan eksistensi alam sekitarnya. Dalam karya-karyanya, kita dapat dengan mudah menemukan kecenderungan environmentalism Miyazaki, sekalipun sesungguhnya falsafah dasar Miyazaki dalam memandang alam adalah jauh lebih mendalam dibanding yang mungkin kerap dipahami banyak orang. Sebagai seorang “pengkhayal”, Miyazaki telah membuktikan dirinya mampu melepaskan kecenderungan narsistik yang kerap muncul dari manusia. Dirinya memang kritis terhadap karya-karya lain, namun bukan didasari pada narsisme, tapi lebih kepada pengaktualisasian dirinya yang memang apa adanya. Pesan-pesan yang kerap dimunculkan dalam karya-karyanya dengan begitu jelas memperlihatkan posisinya yang telah lepas dari belenggu narsistik antroposentris dan berusaha menyampaikan hal tersebut pada penontonnya. Dalam salah satu dialog yang ditulisnya untuk karakter Nausicaa dalam Kaze no Tani no Naushika (versi manga), Miyazaki mencoba mengkomunikasikan bagaimana dia memposisikan dirinya dalam kehidupan realitas semesta,

Hidup kita adalah bagaikan angin, atau suara. Kita menjelma menjadi sebuah perwujudan, beresonansi satu sama lain, kemudian secara berangsur akan menghilang.”

Miyazaki membebaskan dirinya dari kecenderungan manusia untuk memandang “tinggi” dirinya, bahwa dirinya “lebih berarti” dibandingkan aspek-aspek alamiah disekelilingnya. Kesadaran diri semacam ini sejatinya adalah sebuah kesadaran penting dalam rangka menuju aktualisasi diri sebagaimana yang semestinya. Miyazaki melihat bahwa sejatinya peran semua “warga” semesta adalah sebanding, tidak ada yang lebih besar dan signifikan perannya dibanding yang lainnya, hanya saja dikarenakan telah tertutupinya manusia dari kesadaran ini, maka seringkali manusia menganggap hal yang sebaliknya. Penulis menyadari bagaimana Miyazaki melihat signifikansi seluruh “warga” melalui cara Miyazaki mengisahkan “Rumah Pemandian Air Panas Bagi Para Arwah” dalam Sen to Chihiro no Kamikakushi. Semuanya memiliki peran, semuanya datang dengan peran dan keperluan. Di sisi lain, Mononoke Hime menggambarkan juga dampak destruktif ketika manusia menganggap bahwa dirinya lebih penting dan signifikan dibandingkan entitas maupun kuasa alam di sekelilingnya yang sesungguhnya juga memiliki kehendak untuk tetap hidup. Mononoke Hime menggambarkan bagaimana dampak destruktif dari aksi pemenggalan kepala Forest Spirit atas permintaan egois Kaisar, yang meyakini bahwa kepala Forest Spirit memberikan keabadian.

Penutup

Miyazaki dan karya-karyanya bagi penulis secara pribadi sangatlah berarti. Sebagai seorang yang secara konstan sengaja “mengekspos” dirinya sendiri dengan berbagai kepahitan dunia, penulis menemukan efek sedatif dalam karya-karya Miyazaki. Film-film Miyazaki adalah film yang bagi penulis masuk ke dalam daftar “Film wajib tonton minimal setahun sekali”, di samping trilogi The Godfather, sekadar untuk jalan pulang kembali menuju kewarasan. Film-film Miyazaki (baik sebagai sutradara, penulis naskah atau keduanya sekaligus) adalah salah satu jalan pulang yang penulis temui ketika realitas sudah terlalu pahit untuk dikecap. Dialog-dialognya bermakna dalam, kaya dengan nilai-nilai filosofis yang mampu membingkai kegelisahan dengan efek sedatif. Tidak ada adegan yang tak berarti dalam karya-karyanya, tidak ada nuansa reduksionis dalam jalan ceritanya. Semesta Miyazaki adalah satu dari sekian “jalan pulang”. Menuju kewarasan, menuju harmoni, dan menuju aktualisasi diri dalam memahami hidup. 

Akhir kata : Selamat ulang tahun, Hayao Miyazaki!!


Catatan Kaki

  1.  Beyond Good and Evil, penulis ambil dari salah satu buku terkenal karya Friedrich Nietzsche
  2.  Lihat : http://www.nausicaa.net/wiki/Princess_Mononoke_(project_proposal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Fairtalks 2020 | Newsphere by AF themes.