Sen. Sep 23rd, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

INF Saga dalam Model Aksi-reaksi dan Deterensi Nuklir

8 min read

Dibuat oleh (IG)vicefaarizi

Dunia kembali di ambang perlombaan senjata atau Arm Race pasca penarikan diri Amerika Serikat dari Traktat INF. The Intermediate-range Nuclear Forces (INF) Treaty atau perjanjian pengendalian rudal jarak menengah antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet pada masa perang dingin merupakan bentuk dari Arms Control yang telah berjalan selama lebih dari 30 tahun—sejak ditandatangani oleh Presiden Ronald Reagan dan Mikhail Gorbachev pada Desember 1987. Namun, belakangan Amerika Serikat mulai menimbang ulang posisinya sebagai negara yang meratifikasi perjanjian—apakah akan meneruskan keikutsertaannya dalam perjanjian atau menraik diri dikarenakan pihak Rusia yang dianggap melanggar kesepakatan. Demikian halnya pihak Kremlin yang kembali menimbang situasi yang sedang berlangsung, dan keadaan ke depannya akan ditentukan oleh sikap Amerika Serikat, dan terutama sekali situasi Arm Dynamic yang terjadi.

Jika sekanrio terburuk terjadi, yakni Amerika Serikat menarik diri dan begitupun sebaliknya Rusia, bisa jadi keamanan global pun kembali dihadapkan pada situasi yang paling ekstrem; situasi dimana dinamika persenjataan yang dalam konteks ini perlombaan senjata nuklir, mendorong negara-negara major powers seperti Amerika Serikat dan Rusia untuk meningkatkan kapabilitas militernya, sehingga Arm Race pun tidak dapat dielakkan. Situasi seperti ini tentu tidak diamini oleh berbagai pihak dikarenakan kestabilan internasional akan fluktuatif akibat distribusi kekuatan tidak akan mencapai titik seimbang selama Arm Race berlangsung. Tak ayal, situasi internasional pun dibuat gamang olehnya.

Sejarah mencatat, pada dekade 80-an, Traktat INF merupakan salah satu cara untuk meredam perang dingin selain meruntuhkan tembok berlin atau sekedar menggulirkan gagasan Glasnot dan Perestroika (baca: membendung pengaruh komunisme saat perang ideologi masa Perang Dingin). Kala itu, mandala Eropa dihadapkan dengan ancaman dari Uni Soviet yang melakukan modernisasi persenjataan dan kemudian mengerahkan rudal SS-20 model terbaru yang lebih mobile, akurat dan disertai dengan beberapa warheads atau hulu ledak—dan situasi terburuknya, misil dengan daya ledak 150 kiloton ini diarahkan langsung tepat menuju ke sisi Barat Eropa. Paham dengan situasi yang ada, Amerika Serikat pun mencoba merancang kesepakatan bilateral dengan Uni Soviet untuk Bersama melakukan limitasi terhadap kepemilikan, produksi, dan uji coba terbang misil jelajah (Ground-launched Cruise Missiles atau GLCM) dan rudal balistik yang diluncurkan dengan jarak 500 hingga 5.500 kilometer.[1] Kesepakatan ini pun untuk sementara dapat meredam krisis keamanan senjata nuklir dengan masing-masing parlemen kedua negara meratifikasi dan mengimplementasikan kesepakatan pada 1988, dan angka rudal nuklir beserta hulu ledak keduanya pun semakin berkurang secara signifikan—setidaknya, untuk beberapa dekade pasca perang dingin.

Traktat INF tidak sendiri dalam meredam perang dingin yang berujung pada Arm Race di sektor nuklir. Tercatat, setelah INF diratifikasi, perjanjian lain seperti Presidential Nuclear Initiatives pada 1991 (PNIs) dan terutama sekali Treaty on the Reduction and Limitation of Strategic Offensive Arms (START I) di tahun yang sama—yang secara keseluruhan, ketiga langkah pembatasan senjata nuklir tersebut berdampak besar pada kestabilan keamanan internasional.

Sumber Gambar: Kristensen, H. M. and Norris, R. S., ‘Status of world nuclear forces’, Federation of American Scientists, 2018.

Hubungan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet—yang sekarang telah menjadi Rusia yang kita kenal—dapat dijelaskan denga terminologi rivalry atau rivalitas. Secara kasual, Amerika Serikat memandang Rusia dengan “feeling of enmity” dan begitu juga sebaliknya—bahwa kedua negara pemenang perang merasa sebagai kekuatan yang utama dalam sistem internasional, dan situasi ini merupakan sebuah keniscayaan. Kedua negara memiliki rasa dan ekspektasi yang sama, bahwa mereka memiliki kekuatan dan kapabilitas yang kurang lebih sama—sehingga mudah dalam menentukan lawan dan kawan (pola dan posisi) dalam kompetisi hegemoni internasional. Dalam kasus perjanjian INF, kedua negara bersaing dalam kapabilitasnya di sektor militer dengan persenjataannya, dan tidak lupa bahwa rivalitas keduanya dipantik oleh asumsi negatif dari geliat yang mencurigakan dalam mematuhi perjanjian INF—yakni Rusia melanggar perjanjian dengan dugaan pengembangan dan pengujian rudal jelajah yang diluncurkan oleh nuklir, dan diklaim Amerika Serikat memiliki daya jelajah yang melanggar perjanjian INF (500 s.d 5.500 Km). Lalu, reaksi Amerika Serikat akan sangat jelas tendensi pada usahanya dalam mengimbangi Rusia.

Analisis rivalitas Amerika-Rusia dengan konsep Action-Reaction Model

Tarik-ulur hubungan antara Amerika Serikat dengan Rusia dalam kaitannya dengan perjanjian INF sejatinya sudah berlangsung sejak masa Presiden Barack Obama. Kala itu, Obama menuduh Rusia melanggar perjanjian dengan dugaan pengembangan dan pengujian rudal 9M729 Rusia—tipe rudal jelajah yang diluncurkan oleh nuklir dan diperparah dengan hubungan penuh gejolak keduanya terutama sejak aneksasi Krimea pada tahun 2014 oleh Rusia. Pernyataan tersebut menandakan bahwa hubungan keduanya sangat buruk dan merupakan titik terendah hubungan kedua negara sejak perang dingin berakhir. Belum lagi, Amerika pada masa Trump mencoba menarik diri dari perjanjian karena mengklaim tuduhan yang dilayangkan sejak lama benar adanya. Begitu pula Rusia, respon yang diberikan juga sama terkait perjanjian INF—bahwa Rusia menarik diri dan menangguhkan keikutsertaannya dalam perjanjian, sebagaiman yang telah Amerika lakukan terlebih dahulu.[2] Lalu bagaimana situasi kedepannya ?

Arm Dynamics atau Dinamika Persenjataan yang terjadi antara keduanya menunjukkan keseluruhan tekanan yang mendorong Amerika dan Rusia untuk memperkuat militer, terutama sekali dengan cara memodernisasi senjata ataupun peningkatan kualitas dan kuantitas angkatan bersenjata. Situasi saat ini bukan lagi sekedar the maintenance of military status quo melainkan mulai mengarah kepada Arm Race. Keadaan yang tergambar sejauh ini cenderung normal, namun dapat berubah suatu saat tergantung dari Action-Reaction Model kedua negara.

Perang dingin yang lalu merupakan contoh yang tepat dalam menggambarkan situasi kedepannya, terlepas dari berbedanya situasi dulu dan sekarang, kemanjuan teknologi guna keperluan militer, munculnya kekuatan baru di sektor senjata nuklir dan ragam variabel yang akan mempengaruhi situasi selanjutnya. Model aksi-reaksi sendiri merupakan konsep klasik yang umum digunakan dalam melihat Arm Race—bahwa negara diasumsikan memperkuat persenjataan dikarenakan adanya persepsi ancaman yang dirasakan, dan terutama sekali didorong oleh faktor eksternal dari suatu negara yang memicu terjadinya Arm Dynamic.[3] Sehingga dapat diasumsikan bahwasanya negara sebagai aktor utama masih melihat keadaan dengan kacamata realis. Saat Uni Soviet mengerahkan rudal SS-20, Amerika Serikat dibantu NATO merespon situasi dengan mengerahkan rudal Pershing II (jenis misil nuklir) di Jerman Barat, serta sejumlah rudal jelajah darat lainnya disiagakan di Belgia, Italia, Belanda, dan Inggris. Rudal-rudal ini dapat mencapai sasaran di sebagian besar wilayah Eropa yang dikuasai Soviet kala itu. Saat ancaman menstimulus negara, respon yang diberikan tentu berupa sikap survive dan lebih lagi jika memiliki kapasitas untuk mepersenjatai diri, maka opsi ini menjadi pilihan utama—sebagaimana laiknya realis yang berasumsi bahwa rasa aman akan didapat setelah mempersiapkan diri sebelum berperang (baca: mempersenjatai diri).

Belum lagi, sistem internasional yang anarki juga mendorong model aksi-reaksi untuk dapat mengakar dalam struktur politik internasional. Situasi yang anarki barang tentu berpotensi menimbulkan ancaman, sehingga oleh karenanya negara harus self-help dan menjadikan kecenderungan untuk mempersenjatai diri sebagai bentuk aksi-reaski dalam menghadapi situasi Arms Dynamic. Selain itu, cara ini dapat diasumsikan juga sebagai langkah ofensif maupun defensif, tergantung dari cara negara meningkatkan kapabiltas militernya, apakah guna melakukan agresi atau memang benar sekedar tindakan pertahanan diri.

Nuklir sebagai strategi Deterrence

Deterrence atau penangkalan merupakan konsep yang jamak diasosiasikan dengan Arm Race di bidang senjata nuklir. Saat perang dingin berlangsung, teori deterensi digunakan dalam strategi militer sebagai Teknik bluffing atau gertak sambal. Secara psikologi, sebuah negara akan berpikir dua kali jika ingin melakukan sebuah tindakan agresi atau gerakan dengan kekuatan militer—sebab kerugian akibat perang berupa kerusakan yang sangat fatal, apalagi jika berbicara serangan dengan senjata nuklir. Berkaca dari perang dingin, saat Uni Soviet mengerahkan rudal SS-20 dan direspon oleh Amerika Serikat dengan rudal Pershing II, situasi yang terjadi tidak pernah berujung pada perang yang sesungguhnya dengan benar-benar melepaskan misil nuklir terhadap satu dengan yang lainnya. Pada masa tersebut, kedua negara lebih menekankan pada langkah defensif dan sebisa mungkin menghindari kontak langsung—atau sederhananya senjata nuklir digunakan sebagai strategi penangkal terjadinya perang. Penggunaan senjata nuklir dianggap sebagai langkah terakhir atau skenario terburuk saat musuh menyerang terlebih dahulu.

Menurut Bernard Brodie, konsep deterensi digunakan dalam upayanya meyakinkan lawan bahwa sesuatu aksi akan menyebabkan reaksi dan ini akan menimbulkan kerusakan yang fatal—lagi tidak memberikan keuntungan.[4] Situasi perang dingin kala itu memungkinkan Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk saling menahan diri, dan senjata nuklir memang seharusnya hanya sekedar sebagai sikap siaga ketimbang digunakan untuk menyerang dan ini (nuklir) sangat berbeda dengan senjata pada umumnya. Hal ini dapat dijelaskan dengan dua alasan, yakni yang pertama; negara yang pada dasarnya memiliki kapabilitas atau kemampuan untuk menyerang, namun lebih memilih untuk tidak menyerang—meskipun, negara tersebut mengetahui bahwa tidak adanya resiko yang dapat menghalangi. Kedua; dikarenakan tidak ada negara yang menyerang karena negara tersebut mengetahui dampak yang dihasilkan dari sebuah perang nuklir.[5] Alasan yang kedua lebih tepat dalam menjelaskan situasi rivalitas antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam deterensi nuklir—sebab nuklir digunakan hanya sebagai alat pelindung diri dari ancaman dan serangan musuh, lebih lagi sebagai alat untuk mencapai kepentingannya.

Masa depan dari Arm Control

SSC-8 merupakan misil yang belakangan dipermasalahkan oleh pihak Amerika Serikat dan memantik prosedur penarikan diri dari perjanjian. Pada 16 Januari 2019, Amerika Serikat secara resmi mengumunkan penarikan diri dalam perjanjian INF melalui Deputi Menteri Luar Negeri AS yang bertanggung jawab atas kontrol senjata dan keamanan dunia, Andrea Thompson.[6] Prosesnya sendiri akan memakan waktu enam bulan. Hal ini menjadi pertanda bagi runtuhnya perjanjian INF dan menjadikan hubungan Amerika-Rusia semakin menurun. Jika INF benar-benar runtuh, maka the New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) akan menjadi perjanjian bilateral Arm Race nuklir terakhir yang tersisa antara kedunya, dan itupun akan berakhir pada tahun 2021 mendatang. Potensi ancaman nuklir tentu akan menguat pasca penarikan ini terjadi dan momentum seperti ini memungkinkan kedua negara untuk mulai memodernisasi persenjataan nuklir masing-masing guna mengimbangi kekuatan yang satu dengan yang lain. Penarikan diri Amerika Serikat pun pastinya memicu pihak Rusia untuk mundur dari perjanjian (aksi-reaksi), belum lagi wacana Rusia yang ingin membangun rudal jenis baru jika Amerika Serikat meninggalkan perjanjian.

Tampaknya, deterring dalam persenjataan nuklir akan terus berlanjut hingga ke tahap yang lebih kompleks seperti munculnya Cina sebagai kekuatan baru di dunia. Ke depannya, mungkin saja perjanjian nuklir tidak hanya sebatas bilateral antara Amerika-Rusia, namun juga akan melibatkan Cina yang belakangan mulai melakukan modernisasi rudal jarak menengah dan jauhnya guna kepentingannya di Kawasan Asia—dan baik itu INF baru maupun New START II kedepannya akan mempengaruhi model aksi-reaksi maupun strategi deterensi nuklir dunia di masa yang akan datang.

[1] U.S Departmen of State. The Elimination of Their Intermediate-Range and Shorter-Range Missiles (INF Treaty). Diakses dari: https://www.state.gov/t/avc/trty/102360.htm#text (pada 1 Maret 2019)

[2] CNN Indonesia. (2019). Ikut Langkah AS, Rusia Ikut Keluar dari Perjanjian Nuklir INF. Diakses dari: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190202182240-113-365998/ikut-langkah-as-rusia-ikut-keluar-dari-perjanjian-nuklir-inf (pada 4 Maret 2019).

[3] Barry Buzan. An Introduction to Strategic Studies: Military Technology & International. (London: Mac Millan Press, 1897). Hal. 74.

[4] Bernard Brodie. The Anatomy of Deterrence as found in Strategy in the Missile Age. (Princeton: Princeton University Press, 1959). Hal. 264-304.

[5] Yanyan Mochamad Yani dkk. Pengantar Studi Keamanan. (Malang: Intrans Publishing, 2017). Hal. 126

[6] JakartaGreater. AS Umumkan Secara Resmi Keluar dari INF. Diakses dari: https://jakartagreater.com/as-umumkan-secara-resmi-keluar-dari-inf (pada 6 Maret 2019).

_____

*Refnedy Arpandi merupakan salah satu analis di FAIR Riau. Beliau berfokus pada Marxism and Security Studies.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.