Kam. Mei 23rd, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Jamal Kashoggi di Antara Silang-Sengkarut Media Turki dan Saudi

8 min read
arti imf menur

Poster dibuat oleh (ig)vicefaarizi

Hari kelam itu jatuh pada28 September 2018, hari ketika yang semestinya tidak terlalu meyakinkan di dalam kancah pemberitaan dunia pada tahun itu. Andai saja, pada tanggal 2 Oktober di tahun yang sama, seorang jurnalis berdarah Arab yang cukup dikenal di dunia ini, tidak meninggal atau diketahui meninggal melalui berbagai spekulasi ataupun kejadian yang masih terbilang misteri bahkan hingga tahun ini.

Sejujurnya, namanya masih awam di telinga penulis, setidaknya berita kematian kontroversial ini sedikit membuka rasa ingin tahu publik terhadap sosok yang dikatakan cukup radikal tulisannya terhadap keluarga Kerajaan Saudi, terutama yang ditujukan kepada Putera Mahkota Muhammad bin Salman. Beliau adalah Jamal Khashoggi, seorang jurnalis yang terkenal setidaknya karena dua hal, yaitu meliput secara gamblang peristiwa-peristiwa selama Perang Afghanistan (invasi Soviet) dan juga peristiwa kembalinya Osama bin Laden. Tentu, namanya semakin naik daun setelah mengasingkan diri ke Amerika Serikat pada tahun 2017 dan menulis kolom bulanan yang terutama mengkritisi kebijakan yang dibuat oleh Kerajaan Saudi.

Kisah kematian ala Detektif Conan ini bermula pada tanggal yang disebutkan di awal. Dari beberapa sumber, dijelaskan bahwa Khashoggi hanya ingin mengurus surat-surat perceraiannya ke gedung Konsulat Arab Saudi yang berada di kota Istanbul, Turki. Beruntung, kamera keamanan setempat sempat merekam jejak terakhir yang ditinggalkan oleh sang jurnalis, dimulai dari keberangkatannya dari apartemen hingga memasuki pelataran gedung Konsulat Saudi, terakhir terlihat pada pukul 13.14 waktu setempat. Tidak ada yang mengetahui pasti, apa yang sebenarnya terjadi di dalam gedung itu.

Rupa-rupanya, Khashoggi yang dikabarkan memang menjadi incaran dari beberapa “pihak” itu telah melakukan beberapa langkah intensif andaikata dia tidak bisa keluar dengan selamat dari gedung konsulat itu. Adalah tunangannya yang berkebangsaan Turki, Hatice Cengiz, yang diberikan dua buah ponsel dari Khashoggi. Salah satu pesan yang ditinggalkan Khashoggi kepada Hatice Cengiz adalah, bahwa, andai dia tidak keluar dari gedung itu, maka tunangannya itu harus menghubungi seorang Penasehat Presiden Turki untuk meminta bantuan. Hatice Cengiz dengan sabar menunggu di luar gedung konsulat, bahkan sampai menunggu di sepuluh jam yang dilanjutkan keesokan harinya di tempat yang sama.

Tanggal 2 Oktober 2018, Khashoggi dinyatakan meninggal dunia meski tubuhnya belum ditemukan. Suatu pemberitaan yang menghebohkan, dan desakan investigasi disuarakan oleh masyarakat global agar kasus pembunuhan terhadap wartawan ini segera diselesaikan dan ditemukan titik terangnya.

Dua minggu seusai tanggal kematian Khashoggi, Pemerintahan Arab Saudi masih menyangkal dan menolak memberitahu informasi apapun yang berkaitan dengan kematian dari jurnalis beken ini. Hal ini justru menggiring rasa curiga publik global terhadap Pemerintah Arab Saudi, yang juga mendapat tudingan terlibat di dalam peristiwa pembunuhan keji ini. Bahkan, ada indikasi kuat yang mengarah kepada keterlibatan Putera Mahkota, Muhammad bin Salman, di dalam kasus ini. Suatu tuduhan yang secara mutlak dibantah oleh Pemerintah Saudi.

Upaya keras Pemerintah Saudi untuk tutup mulut tentu tidak bisa bertahan lama. Setidaknya mereka mencoba menghilangkan rasa curiga publik global dengan memberikan beberapa pemberitahuan resmi, meskipun beberapa pemberitahuan yang dikabarkan bertentangan satu sama lainnya.

Pada tanggal 20 Oktober 2018, saluran televisi negara menyatakan bahwa Khashoggi tewas dibunuh di dalam suatu “operasi jahat/rouge operation” yang didalangi oleh seorang perwira intelijen. Tidak dijelaskan secara gamblang, siapa perwira yang dimaksud dan juga apa motif dari pembunuhan ini. Sedang pemberitaan lainnya menyebutkan bahwa Khashoggi tewas dicekik di dalam suatu pertikaian. Ada juga pemberitaan yang menyatakan bahwa Khashoggi telah tewas dibunuh dan pakaiannya dikenakan oleh penjahat yang membunuhnya sebelum meninggalkan tempat kejadian. Dari semua laporan ini, tidak ada satupun yang memberitakan mengapa Khashoggi dibunuh? Terlebih lagi, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat inkonsistensi di dalam penyebab kematian Khashoggi.

Satu bulan pasca rilisnya pemberitaan resmi pertama, atau tepatnya pada tanggal 20 Nopember 2018, pemberitaan resmi dari media pemerintah kembali mengabarkan penyebab kematian yang berbeda. Rilis terbaru itu menyebutkan bahwa Khashoggi bukan meninggal karena dicekik ataupun terlibat di dalam suatu perkelahian, salah satu prosekutor Saudi menyatakan bahwa Khashoggi meninggal karena disuntikkan cairan kimia berbahaya. Lebih dari itu, setelah tewas, tubuhnya dimutilasi menjadi beberapa bagian dan diserahkan kepada “kolaborator” lokal untuk disebarkan. Potongan tubuh tersebut juga diberi cairan asam.

Tindakan yang diambil oleh Pemerintah Saudi, seperti yang diwartakan oleh beberapa sumber, yaitu BBC, Strait Times, Aljazeera dan Reuters, adalah telah menahan terduga pelaku sebanyak dua puluh satu orang, memecat dua pejabat penting; seorang Kepala Deputi bidang intelijen dan seorang Ajudan dari Pangeran Mahkota. Selain itu, Pemerintah Saudi juga buru-buru melakukan upaya restrukturalisasi badan intelijen, dan lucunya menempatkan Pangeran Mahkota sebagai pimpinannya.

Kegalauan struktural pemerintahan ini tidak selesai sampai di situ. Pada tanggal 27 Desember 2018, Menteri Luar Negeri Adel al-Jubair dicopot dari jabatannya dan digantikan oleh seorang politisi kurang berpengalaman. Hal yang lucu lagi, karena ternyata Jubair ini hanya dipindahkan posisinya menjadi Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri. Ada indikasi bahwa penggantian posisi untuk Jubair ini adalah salah satu upaya cover-up yang dilakukan oleh pemerintahan bersangkutan. Satu alasan sederhana, adalah suatu hal yang tidak mungkin bagi Jubair untuk tidak mengetahui apa-apa berkaitan dengan kasus kematian Khashoggi ini. Padahal tindak kriminal ini dilakukan di dalam lingkungan Kantor Konsulat Saudi yang notabene adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai seorang menteri.

Sampai bagian ini, tulisan ini telah banyak memaparkan sudut pandang Arab Saudi terhadap masalah ini, bagaimana dengan sudut pandang Turki selaku tempat dari terjadinya tindak kriminal yang mengerikan ini?

Media-media Turki tentu mengalami kehebohan yang sama berkaitan dengan peristiwa pembunuhan ini. Kebanyakan dari mereka mengabarkan bahwa Khashoggi tewas dengan cara dicekik kemudian dimutilasi tubuhnya dengan tujuan menghilangkan jejak. Beberapa media lokal Turki (Yeni Safak dan Daily Sabah) juga memberitakan bahwa Khashoggi disiksa terlebih dahulu sebelum menemui ajalnya di gedung Konsulat yang masih ditutup untuk tujuan investigasi itu.

Apa bertujuan untuk memperkeruh suasana, atau memang ingin memercepat terbukanya tabir yang melingkupi kasus misterius ini, otoritas Turki menyatakan bahwa mereka memiliki beberapa bukti autentik yang bisa menggiring kasus ini ke arah penyelesaian baru. Salah satu yang cukup membuat heboh adalah rekaman suara yang diklaim merupakan rekaman yang diambil selama tindak kriminal ini berlangsung. Rekaman suara ini telah dibagikan juga kepada beberapa negara yang “berkepentingan”, seperti Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Inggris dan lucunya dengan Arab Saudi juga.

Entah mengapa, rekaman itu perlu dibagikan dengan otoritas Saudi juga, yang memiliki indikasi kuat bahwa mereka tengah melakukan suatu upaya cover-up.

Dari rekaman suara itu, terungkap beberapa fakta yang entah itu cukup berguna bagi penyelidikan ataupun bukan. Salah satunya, pada tanggal 10 Desember, Kantor Berita CNN menayangkan salah satu potongan rekaman yang ditenggarai sebagai ucapan terakhir Khashoggi sebelum menghembuskan nafas terakhir, “Saya tidak bisa bernafas.” Hanya satu kalimat singkat. Entah ketidakmampuan Khashoggi untuk melakukan inspirasi pernafasan ini disebabkan karena dicekik, sepertinya bukan, atau memang karena sedang menderita karena saraf-saraf tubuhnya tengah diracuni, sehingga terjadi semacam kegagalan respon sensorik maupun motorik yang berakibat letal,

Bagian rekaman lain yang diindikasikan sesaat sebelum mutilisasi dimulai, suara yang diidentifikasi berasal dari seorang intelijen Saudi bernama Maher Mutreb, seperti yang dilansir dari laman BBC. Intelijen ini memang sudah saling kenal dengan Khashoggi sebelumnya. Ada juga versi yang menyatakan bahwa sebelum Khashoggi sempat meninggalkan gedung konsulat, intelijen ini memerintahkannya kembali. Walaupun Khashoggi sempat menolak permintaan itu, karena Hatice Cengiz tengah menunggu di luar.

Bagian lain di dalam rekaman suara yang dianggap dapat membawa menuju titik terang adalah ketika salah satu bagian mengindikasikan penggunaan gergaji untuk memercepat proses yang sedang berlangsung. Suatu fakta menarik juga terungkap, ketika pihak imigrasi Turki menyatakan bahwa terdapat beberapa orang mencurigakan yang memasuki wilayah Turki beberapa hari sebelumnya, dan di antaranya membawa gergaji tulang bersama mereka.

Untuk saat ini, upaya investigasi ini tidak sepenuhnya dilakukan oleh Arab Saudi. Setidaknya ada pihak Turki yang menjadi penyeimbang agar tidak terjadi penyelewengan yang mungkin saja terjadi jika proses investigasi hanya sepenuhnya berada di bawah wewenang otoritas Arab Saudi saja.

Perkembangan terbaru dari kasus ini, yang jelas, sudah diadakan proses persidangan yang ditaja sepenuhnya oleh pihak peradilan Arab Saudi. Dan seperti masalah klasik tentang peradilan negeri yang dibumbui istilah Ultra-Conservative Islamic ini, bahwa hanya sedikit informasi yang dirilis kepada pers umum. Adapun yang bisa diakses oleh publik adalah, bahwa peradilan ini berlangsung di Riyadh, menghadirkan sebelas orang terdakwa dengan lima orang berhadapan dengan tuntutan hukuman mati, pengacara tersedia untuk masing-masing terdakwa. Proses persidangan sendiri juga tidak diketahui apakah berlangsung lancar atau ditunda. Yang jelas, pengacara terdakwa meminta salinan lembar tuntutan dan mengajukan waktu untuk mengevaluasi semua tuntutan yang diajukan panitera. Juga, pihak otoritas Turki belum menjawab permohonan untuk menyerahkan bukti-bukti yang berguna dan berkaitan dengan kasus yang tengah diperkarakan.

Tentu saja, proses peradilan ini menimbulkan akan terjadinya harapan yang baik dan memang membuka tabir yang jelas tentang perkara ini. Meskipun terdapat penilaian buruk dari lembaga dunia berkaitan dengan kredibilitas dari pengadilan kriminal yang berada di Saudi. Salah satunya berasal dari pihak Amnesty Internasional yang menyatakan bahwa sistem peradilan di Arab Saudi jauh dari Hukum Internasional.

Walau begitu, tentu terdapat semacam sisi dilematis tersendiri di dalam memadang kredibilitas sistem peradilan yang berada di ladang minyak ini. Sistem peradilan mereka tidak mengacu kepada dua kiblat sistem peradilan dunia, yaitu sistem Anglo-Saxon maupun sistem Kontinental Eropa. Lebih lagi, mereka berusaha menerapkan hukum syariah ke dalam sistem peradilan mereka. Lagi-lagi, terdapat bentrokan budaya antara pihak Barat dan pihak Islam di dalam masalah ini dalam konteks supremasi hukum.

Satu hal lagi, berkaitan dengan proses peradilan yang tengah berlangsung, bahwa suatu yang tidak mungkin jika memang pimpinan tertinggi Saudi, andaikata memang terlibat, ikut terseret di dalam kasus ini untuk menerima hukuman setimpal. Apalagi jika berbicara tentang Pangeran Mahkota Saudi yang begitu dilindungi nama baiknya dari kasus ini. Jika memang benar ke dua puluh satu orang yang ditahan oleh otoritas Saudi (kemungkinan semuanya berasal dari kalangan intelijen) melakukan tindakan kriminal keji ini berdasarkan perintah dari pimpinan tertinggi Arab Saudi (bisa saja memang Pangeran Mahkota), maka mereka juga sedang ditumbalkan di pengadilan demi melindungi harga diri satu kepala yang akan mewarisi kekuasaan atas negeri kaya minyak dan mitra dagang utama Amerika Serikat di masa depan.

Lantas, bagaimana pengaruh kasus Khasohggi ini terhadap hubungan diplomasi yang dimiliki oleh Arab Saudi? Terutama yang berkaitan dengan hubungan dengan dunia barat?

Secara gamblang tentu ada pengaruh yang bisa saja memperkeruh suasana yang memang sudah keruh. Pihak Badan Senat Amerika Serikat mengajurkan agar diadakan pemberhentian transaksi perdagangan senjata antara Arab Saudi dengan negara, yang mendaku, adidaya ini. Premis yang sama juga diajukan, bahkan beberapa di antaranya memang melakukan, pemberhentian dagang senjata dengan negara ini. Akan tetapi, bagaimana dengan respon dari Presiden Donald Trump sendiri atas hal ini?

Respon orang nomor satu di Amerika Serikat (dunia?) itu boleh dikatakan bimbang dan tidak konsisten. Pada awalnya, Trump mengatakan bahwa pembunuhan jurnalis ini sebagai suatu “Kebohongan terbesar di dalam sejarah.” Ucapan ini mengindikasikan bahwa Trump seperti tengah meledek upaya keras Pemerintah Saudi untuk menutupi keterlibatan mereka di dalam kasus ini. Meski demikian, seiring berjalannya proses investigasi, reaksi Trump, seakan-akan, menjadi lunak dan cenderung berupaya melindungi Arab Saudi dari berbagai tuduhan. Trump berkali-kali menegaskan kepada media, bahwa, Arab Saudi merupakan mitra dagang sekaligus sekutu (penjaga kepentingan AS?) paling penting di regional Timur Tengah. Dia juga beberapa kali mencoba melindungi Putera Mahkota dari tuduhan keterlibatan dengan kasus ini. Dan upaya perlindungan Trump terbaru adalah dengan menolak permintaan tenggat waktu dari Senat untuk memberikan laporan yang partikuler. Lalu, segala kerumitan ini, hanya menyisakan satu pertanyaan; siapa sebenarnya yang membunuh Khashoggi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.