Kam. Mei 23rd, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Kembalinya Raksasa Perang Dingin

5 min read

Oleh Satya Wira Wicaksana*

Pada 19-21 Agustus 1991, Uni Soviet digemparkan oleh usaha kudeta yang dialamatkan kepada kekuasaan Gorbachev. Penyebab dari kudeta tersebut tidak lain adalah penolakan kebijakan reformasi dan sistem desentralisasi bagi negara-negara yang berada di bawah kekuasan Uni Soviet yang dikeluarkan oleh Gorbachev. Kudeta tersebut gagal, namun tetap menjadi salah satu alasan runtuhnya Uni Soviet. Sejarah keruntuhan ini tertanam pada Rusia sebagai satu-satunya pewaris megahnya kekuasaan Uni Soviet pada masa Perang Dingin. Berangkat dari sejarah inilah Rusia pelan-pelan bangkit untuk kembali menguasai dunia dengan menggeser dominasi Amerika Serikat dan memecah Eropa.

Kembalinya Rusia sebagai negara besar yang berpengaruh dimulai setelah pulihnya negara tersebut dari krisis ekonomi pasca Perang Dingin dan dilantiknya Vladimir Putin sebagai presiden pada 2012. Di bawah kekuasaan Vladimir Putin-lah, kita benar-benar bisa melihat kembali bangkitnya raksasa Perang Dingin. Hal itu dikarenakan visi Rusia lebih detail, modern, dan taktis. Lebih lagi, kita harus menyadari bahwa geliat Rusia bukan hanya mengenai aneksasi Krimea, intervensi terhadap pemilihan umum di negara-negara lain oleh Rusia, dan perusahaan-perusahaan hoax. Akan tetapi, pengaruhnya lebih dari itu, yaitu Rusia merangkul para populis dan gerakan sayap kanan di Eropa, memperkeruh perbedaan politik di Eropa, pemanfaatan disinformasi untuk memengaruhi pemilu pilpres, menanamkan perusahaannya di beberapa negara, memanaskan tensi etnis dan instablitas di kawasan Balkan, menggunakan penjualan senjata sebagai cara untuk merusak hubungan AS beserta aliansinya. Pengaruh-pengaruh yang tersebar ini berjalan berdasarkan empat ranah strategis, yaitu ekonomi, politik, informasi, dan militer. Meski pun, dalam kenyataannya, ranah strategis yang digunakan oleh Rusia ini tidak ada ubahnya ranah strategis klasik, tapi Rusia memiliki cara yang lebih canggih untuk mengendarainya.

Pada ranah ekonomi, Rusia melakukan hubungan dagang dengan negara-negara yang potensial bagi kelangsungan kepentingannya. Amerika Latin pun dipilih sebagai pintu masuknya ke benua Amerika. Rusia mengambil momen kepada Venezuela yang sedang diterpa gelombang sanksi dari AS. Atas kedekatannya dengan presiden Venezuela, Nicholas Maduro, Rusia berhasil menancapkan perusahaan minyak terintegrasinya, yaitu Rosneft. Melalui perusahaan ini, Rusia mengakomodasi investasi yang besar di sana dan sembari untuk mempertahankan posisi Maduro pada tampuk kepresidenan. Akan tetapi, seperti pada negara-negara lain ketika perusahaan asing berkuasa, hal tersebut berujung pada hiperinflasi dan kelaparan, juga Venezuela memiliki utang kepada Rusia di bawah krisis ekonomi yang sedang dihadapi sebesar 120 milyar dollar AS.

Kehadiran Rosneft di sektor energi Venezuela menjadi salah satu contoh bahwa politisi dan pebisnis Rusia bergabung atas dasar kepentingan komersial dan politik luar negeri. Perusahan-perusahaan minyak dan energi Rusia juga hadir di negara-negara lain seperti di Afrika Selatan, perusahaan energi atom Rusia, Rosatom juga membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Akkuyu, Turki. Di Irak kawasan Kurdi, Rosneft memberikan pinjaman dan investasi, dan di India, Rosneft membeli kilang minyak yang terbesar kedua milik India, Essar Oil. Segala hubungan dagang tersebut juga diikuti dengan dana investasi Rusia serta masuknya beberapa perusahaan dagang Rusia ke India.

Beralih pada ranah politik, Rusia menjalin hubungan dengan negara yang terasing dan lemah di kawasan Eropa dan Eurasia. Rusia membangun narasi dengan mempromosikan politisi, birokrat, dan pebisnis yang pro-Rusia. Juga menggunakan romantisme hubungan masa lalu era Soviet, penggunaan badan intelejen dan perangkat militer. Pada kasus Hungaria, misalnya, yang sedang menuai pertikaian dengan Uni Eropa (UE), Rusia masuk untuk memeperkuat pengaruh politik dan ekonominya dengan menjalin hubungan dengan PM Hungaria, Viktor Orban dan kepada partai sayap kanan Hungaria, Partai Jobbik yang diduga menerima dana dari pemerintah Rusia dan telah menetapkan diri sebagai oposisi kepada Uni Eropa. Hubungan kedua negara ini juga didukung oleh urusan pembangunan energi dan ekonomi; Hungaria menyediakan tempat untuk pembangunan reaktor nuklir milik Rusia yang dapat menyalakan listrik sebesar setengah dari Hungaria.

Operasi militer dan badan intelejen Rusia juga dilaporkan meningkat di Hungaria. Intelejen militer Rusia juga melatih Front Nasional Hungaria (Magyar Nemzetiszocialista Akciócsoport/MNA) yang merupakan kelompok militan sayap kanan dan mendapat dana dari Rusia. Menurut laporan Komite Keamanan Nasional Hungaria, anggota dari MNA mendapatkan pelatihan militer dengan Intelejen Militer Luar Negeri Rusia (GRU) yang berdinas di Hungaria di bawah lindungan diplomatik. Alhasil, Hungaria yang menjadi terasing di Eropa merepresentasikan kepentingan Rusia di Eropa, yaitu sebagai anti populis Uni Eropa dan negara yang pro-Rusia dengan selalu melindungi Rusia dari sanksi-sanksi yang dikeluarkan oleh Uni Eropa.

Selanjutnya pada ranah informasi, Rusia menggunakan sosial media, berita, dan operasi siber yang, dikhususkan, bertujuan untuk memecah Eropa dengan mengadu domba kelompok sayap kiri, kanan, dan moderat-liberalis. Strategi Rusia dalam menggunakan disinformasi sebagai salah satu elemen dasar kebijakan luar negerinya berjalan mulus karena strategi ini berjalan di sela rapuhnya masyarakat terbuka (open societies), era dari hoaks, sarat akan stress, dan ketergantungan terhadap media sosial. Di Jerman, operasi siber Rusia telah membuat tensi internal pada kasus kebijakan Kanselir Angela Merkel mengenai imigran yang harus berhadapan dengan nasionalis radikal Alternative for Deutschland (AFD) dan partai sayap kiri Die Linke. Konfrontasi tersebut mengarah pada disinformasi, salah satunya mengenai anak yang berumur 13 tahun yang hilang diculik imigran. Hoaks tersebut cepat menyebar melalui media-media, bahkan juga melalui menlu Rusia, Sergey Lavrov. Di Inggris, para legislator sedang membuat investigasi lanjutan mengenai tudingan bahwa referendum Brexit 2016 diakomodasi oleh Kremlin. Theresa May juga menuding Rusia dengan istilah “weaponizing information” dan melakukan intervensi terhadap pemilu-pemilu di negara Barat.

Dalam hubungan miltier, Rusia memanfaatkan instabilitas Timur Tengah dan melemahnya peran AS di sana. Dimulai dengan intervensi militer kepada Suriah pada 2015, Rusia kembali membangun hubungan diplomatik dengan negara Timur Tengah lainnya yang berujung pada penjualan senjata, kerjasama dan pelatihan militer, dan transfer teknologi. Di Libya, Rusia membangun kerjasama dengan Jenderal Khalifa Haftar dan secara bersamaan juga memelihara relasi dengan oposisi. Rusia juga mengirimkan pasukan ke Mesir untuk membantu pasukan Haftar yang ditempatkan di daerah perbatasan Mesir-Libya. Di Mesir sendiri, Rusia telah mendapatkan persetujuan dari Abdel Fattah el-Sisi untuk mengakses wilayah udara dan lapangan udara Mesir. Pada tahun 2017, Arab Saudi membeli senjata pertahanan udara dari Rusia S-400 serta senjata lainnya. Tidak sampai di situ, Rusia dan Arab Saudi juga telah menandatangani dokumen mengenai pembangunan energi, perdagangan, dan kerjasama pertahanan.

Melalui empat jalur ini, Rusia pelan-pelan merebut kejayaannya seperti masa Soviet dulu. Meski pun dengan keterbatasan geopolitik, Rusia tetap mampu memutarbalikkan keadaan. Kembalinya Rusia sebagai raksasa dunia ini hanya menyisakan dua hal; meski pun jaman telah baru, namun semangat untuk mendominasi akan terus ada dan sejarah akan terus terulang.

_____

*Satya Wira Wicaksana merupakan salah satu peneliti di FAIR Riau. Juga sebagai Editor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.