Sen. Sep 23rd, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Membayangkan Dunia Tanpa Islam

9 min read
Membayangkan Dunia Tanpa Islam

Membayangkan Dunia Tanpa Islam

Kita bayangkan dunia yang lapuk ini tanpa kehadiran Islam dengan rentetan pertanyaan: dalam absensinya, perang antar Timur dan Barat tetap ada? Apakah terorisme tetap ada? Apakah bom bunuh diri tetap ada? Apakah sentimen anti-Barat tetap ada?

Satu hal yang harus kita pahami; peradaban beserta konflik di dalamnya tidak dimulai setelah pidato George W. Bush jr untuk melawan terorisme secara global itu. Sejak saat itu, tidak dapat dinafikan, kampanye politik global tersebut berimbas sampai ke permasalahan domestik lain dan bahkan memengaruhi persepsi masyarakat internasional. Berkaitan dengan konteks kampanye Bush tersebut, orientasi simbolnya adalah Islam dengan berbagai pembenarannya. Sampai-sampai Bush memberlakukan strategi preemptive strike (menyerang lebih dulu) di negara-negara Timur Tengah, sementara mengatakan “Cold War” kepada Uni Soviet dulunya.

Seusai tragedi itu, disparitas antar peradaban Timur dan Barat kembali terbuka lebar. Dunia seakan terjebak kembali oleh persepsi ancaman yang telah diwarisi berabad-abad. Akan tetapi, yang selalu kita dengar adalah mengenai Islam dan Kristen atau antara Islam dan Barat. Alih-alih mendengar hal yang demikian, agaknya lebih baik melempar pertanyaan; bagaimana jika Islam tidak pernah hadir di panggung peradaban dunia?

Seorang mantan CIA, Graham E. Fuller, membuat sebuah analisis historis-kausalitas. Dalam bukunya, A World Without Islam, beliau membahas dari sisi historis mengenai hubungan antara Barat dan Timur, Islam, terorisme, bahkan memberikan kritik kepada pemerintah Amerika Serikat mengenai definisi terorisme.

Benarkah Islam itu Anti-Barat?

Hampir sebagian besar negara di dunia memiliki alasan-alasan untuk mengagumi Barat dan memiliki alasan pula untuk membencinya. Pada dasarnya, sikap anti tersebut bukanlah lahir dari rahim peradaban Islam. Kemarahan umat Muslim dari penerapan wacana politik Global War on Terrorism secara kebetulan telah menaikkan tensi amarah untuk bersikap anti-Amerika Serikat atau anti-Barat. Meski begitu, sentimen semacam ini sebenarnya bisa saja berlalu, tetapi bisa pula menanjak kembali seperti apa yang terjadi dengan Cina atau Amerika Latin, misalnya.

Faktanya, persepsi ancaman dari Barat itu sudah hidup sebelum Islam menyebar ke sepanjang Timur Tengah. Melalui bukunya, Fuller memulai analisisnya dengan menarasikan sejarah bahwa di Timur Tengah mengalami tiga polarisasi kekuatan yang diisi oleh Barat dengan Kekaisaran Romawi, Timur dengan Kekaisaran Bizantium, dan Islam yang terakhir muncul.

Sentimen anti-Barat sudah mengisi Timur Tengah yang pada saat itu dipegang oleh Bizantium. Meski dua kekaisaran tersebut menyamakan diri mereka sebagai Kristen (Ortodoks dan Katolik), tetapi keduanya memiliki perbedaan pada tataran teologis, budaya, geopolitik, sejarah, artistik, bahkan psikologi.

Samuel P. Huntington, penulis Clash of Civilization and The Remaking World Order yang sempat membuat gempar itu juga mengatakan bahwa dengan tanpa atau adanya Islam, pertikaian antara Barat dan Timur tetap ada. Kecurigaan-kecurigaan Gereja Ortodoks terhadap Barat tersebut terpelihara di dalamnya, bahkan kecurigaan tersebut dinilai sama dengan kecurigaan antara Islam kepada Barat di masa ini. Islam, di satu sisi, merupakan peradaban yang terakhir muncul dan secara perlahan mewarisi pertikaian, ketidakpercayaan, dan keengganan geopolitik terhadap Barat.

Islam pertamakali bersinggungan dengan peradaban Bizantium, terkhususnya di wilayah Suriah. Akan tetapi, persinggungan tersebut hanya sedikit yang mengharuskan Islam berhadapan dengan kekuatan militer Barat mau pun Bizantium. Kurangnya gesekan militer pada saat itu juga didasari oleh kekecewan masyarakat di bawah kekuasaan Bizantium. Seperti, kaum Monofisit (yang secara teologis berbeda dengan apa yang diakui oleh Konstantinopel) dan Nestorian di Suriah dan umat Yahudi di Iran yang mengeluh tentang status sosialnya sebagai Yahudi. Kedatangan Islam tersebut memberi skenario lain dari geopilitik di Timur Tengah yang sudah mewarisi perbedaan dan sikap anti terhap Barat.

“Barat” tidak hanya dilihat dari posisi geopolitiknya, melainkan akar peradabannya yang kemudian Konstantinopel juga diartikan sebagai “Barat” lantaran memiliki asal sejarah yang kuat dari Yunani.

Perbedaan lainnya adalah perkara Wilayah Bulan Sabit yang Subur yang sebelumnya sudah menjadi arena perebutan kekuasaan antara Yunani dan Persia. Singkatnya, ketika pasukan Muslim mulai menyebar ke arah utara Arabia dan menaklukkan beberapa wilayah, kemenangan-kemenangan penaklukan tersebut dipermudah oleh sikap anti-Barat yang sudah ada di dalam tubuh Bizantium itu sendiri. Hal ini berujung pada jatuhnya penguasa-penguasa dalam kekuasaan Bizantium dari kota ke kota.

Beralih ke masa Perang Salib, tepatnya yang pertama. Seruan Paus Urbanus, dari berbagai dokumen sejarah, pada dasarnya tidak pernah menyebut kata “Muslim” atau “Islam”. Beliau hanya memberikan kriteria musuh mereka adalah “yang tidak percaya”, “kafir”, dll yang menimbulkan konsekuensi brutal bagi Kristen Ortodoks Timur lantaran otoritas keagamaan Romawi tidak memasukkan mereka ke dalam bagiannya. Konsekuensinya adalah, bagi tentara rakyat yang ikut berperang, umat Kristen Ortodoks Timur dan Yahudi dikategorikan sebagai “yang kafir”. Peristiwa itu direkam oleh sejarah sebagai “Pembantaian Latin” di Konstantinopel 1182—satu abad seusai Perang Salib Pertama.

Kecurigaan antara “Yunani” dan “Latin” pada akhirnya diperparah oleh pembantaian tersebut. Lebih lagi, pada Perang Salib Keempat, permainan politik lebih besar di Konstantinopel dibanding di Yerusalem. Konstantinopel direbut oleh Romawi dan setelah 57 tahun tahta Konstantinopel dikuasai oleh uskup agung dari Latin, pada 1261 Bizantium kembali direbut. Peperangan internal peradaban besar tersebut sudah ada berabad-abad, bahkan sebelum Islam mulai merangsek masuk ke kota-kota di Bizantium dan mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul.

Sebagai tambahan, bagian yang paling menarik adalah proses penyebaran Islam itu sendiri. Ira Lapidus, seorang Proffesor Emeritus di University of California, dalam karya monumentalnya, A History of Islamic Society, mengatakan bahwa penyebaran Islam pada masa interaksinya dengan Bizantium memiliki proses yang lama dan panjang. Praktik penyebaran tersebut berbeda dengan apa yang ilmuwan Eropa selalu katakan bahwa Islam disebarkan dengan pedang. Pada kenyataannya, proses pengislaman di masa tersebut lebih cenderung perpindahan agama karena faktor kepercayaan di tingkat individu dan sosial.

Selain itu, salah seorang peneliti dari Columbia University, Richard Bulliet juga menambahkan dengan mengkomparasikan persebaran Islam pada masa Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiiyah. Richard mengatakan, dalam karyanya Conversion to Islam in the Medieval Period, bahwa laju pengislaman pada abad pertama Hijriah begitu lambat. Pada masa Kekhalifahan Umayyah, hanya 10% wilayah yang ditaklukkan beralih untuk memeluk Islam. Sedangkan di masa Kekhalifahan Abbasiyyah yang lebih multinasional naik 40% dan hampir 100% di abad kesebelas.

Di sini kita dapat menyaksi dari sekelumit narasi geopolitik antar peradaban besar dan Islam datang terakhir dan kemudian mewarisi pertikaian itu. Dengan begitu, meski pun Islam absen dalam panggung politik internasional, sentimen anti-Barat tetap mengipasi kita dan digantikan oleh pertikaian antara Gereja Ortodoks Timur melawan Gereja Romawi Barat.

Benarkah Bom Bunuh Diri Strategi Islam?

Pernahkah kita menanyakan lebih dalam mengenai bom bunuh diri? Tentang siapa yang pertamakali melakukannya dan apakah itu efektif? Mengapa perempuan Islam dianggap menyembunyikan bom di sebalik kerudungnya?

Secara taktik perang, terorisme adalah cara dari pihak yang lemah secara perhitungan kekuatan (baik persenjataan, akses, logistik, wilayah, dll) untuk melawan yang kuat. Di sela ketimpangan tingkatan antarpihak inilah, taktik-taktik terorisme dijalankan. Meski begitu, harus diakui bahwa taktik-taktik peperangan dari yang-lemah ini seringkali mumpuni. Strategi bom bunuh diri dipakai untuk menyebarkan rasa takut dan menarik perhatian publik. Untuk mengulas ini, setidaknya terdapat dua jenis aksi terorisme; demonstrative dan destructive.

Demonstrative Terrorism” yang lebih menekankan sisi politisnya dibandingkan dengan nuansa kekerasannya. Sebagai contoh, Orange Volunteers dari Utara Irlandia, National Liberation Army dari Kolombia, dan Red Brigades dari Italia. Ketiga kelompok ini, dalam melakukan aksinya, lebih cenderung bertujuan untuk mendapatkan publisitas (agar tujuannya diketahui publik) seperti merekrut aktivis lebih banyak, untuk mendapatkan perhatian dari soft-liners/kelompok dengan fanatisme kategori menengah, dan mendapatkan atensi dari pihak ketiga yang kemungkinan menjadi penekan. Esensinya, kelompok yang dikategorikan Demonstrative Terrorism ini lebih menginginkan publik mendengar, bukan terluka (meski ada penyanderaan, pembajakan pesawat, dan ancaman bom untuk mengalihkan perhatian publik.

Beda hal dengan “Destructive Terrorism” yang lebih agresif dan melakukan tindak kekerasan untuk menimbulkan korban jiwa sambil memobilisasi pendukungnya untuk aksi terorisme lainnya. Akan tetapi, target sebenarnya adalah untuk menghilangkan simpati dari aksi mereka itu. Seperti kelompok Baader-Menhof yang sangat selektif untuk membunuh para industrialis Jerman yang kaya, kelompok teroris Palestina pada 1970an yang selalu berusaha untuk membunuh sebanyak mungkin orang-orang Israel, mengalienasi kaum Yahudi namun menimbulkan simpati dari komunitas Muslim. Singkatnya, dalam melakukan aksi kekerasan, kelompok kategori ini hanya melakukan aksinya pada segmen-segmen tertentu dalam masyarakat. Kelompok-kelompok yang dapat dikategorikan dalam destructive terrorism seperti Irish Republican Army (IRA), Revolutionary Armed Forces of Columbia (FARC), dan kelompok Anarkis abad 21 (dengan vandalismenya).

Strategi Bom Bunuh Diri (Suicide Terrorism) merupakan bagian dari Destructive Terrorism. Pada dasarnya, sudah dilakukan bertahun-tahun lalu. Pada masa akhir Perang Dunia II, ketika Jepang mulai tersudut, banyak tentaranya yang melakukan Kamikaze. Sebuah misi bunuh diri yang terprogram, terencana, dan terorganisasi dengan baik yang dilakukan oleh tentara Jepang dengan balutan semangat heroisme militer. Banyak tentara, terutama pilot tempur Jepang menabrakkan pesawatnya ke darat dan kapal musuh.

Tentu, meski pun seorang Noam Chomsky mengatakan terorisme negara (state terrorism) itu ada, tetapi Kamikaze bukan dikategorikan sebagai aksi terorisme karena misi tersebut adalah salah satu misi dalam peperangan yang sah. Berbeda dengan aksi-aksi penyerangan bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ekstremis. Singkatnya, Kamikaze adalah negara melawan negara (lain).

Secara umum, yang paling membedakan antara taktik gerilya dan aksi terorisme terletak pada targetnya. Jika pada perang gerilya targetnya jatuh pada musuh-musuh yang jelas berada dalam status perang, seperti tentara atau polisi, sementara aksi tertorisme menargetkan seluruh segmen penting, baik itu militer, polisi, bahkan sipil.

Lantas, bagaimana sebenarnya kaitannya antara bom bunuh diri dan fundamentalisme Islam? Seorang ilmuwan politik AS yang menaruh minat kajiannya mengenai aksi terorisme bunuh diri, Robert A. Pape, dalam karyanya yang berjudul Dying to Win:The Strategic Logic of Suicide Terrorism, menulis beberapa analisisnya.

Aksi terorisme bunuh diri era modern bermula pada 1980an di Lebanon oleh Hezbollah, sebuah kelompok bersenjata (dan juga partai politik) Syiah yang secara fundamental dan teologis merupakan kelompok minoritas dibanding kelompok Islam mayoritas (Sunni). Analisis Pape dimulai dengan perhatiannya bahwa sebelum 1980an, aksi penyerangan bunuh diri tidak pernah menjadi alat kekerasan politik yang digunakan oleh beberapa aktor di seluruh dunia pada saat bersamaan.

Penyerangan di Lebanon itu terjadi di Barak Marinir AS, menewaskan 241 tentara, menghancurkan bangunan, bertepatan dengan penyerangan selanjutnya yang menewaskan 58 tentara Perancis. Kejadian itu kemudian menyebar, menjadi tajuk utama media selama berminggu-minggu, menjadi perbincangan pemimpin-pemimpin Barat selama berbulan-bulan, dan akhirnya menjadi inspirasi bagi Hamas, Macan Tamil, sampai Al-Qaeda sebagai metode penyerangan.

Selama dua puluh tahun sejak penyerangan pertama, aksi terorisme bunuh diri (baik menggunakan rompi atau pun mobil) mulai terjadi di beberapa wilayah, seperti Sri Lanka, Israel, dan di Teluk Persia. Pada tahun 2000 ke 2001, kelompok ekstremis di Chechnya melakukan penyerangan bunuh diri dan menjadi Rusia sebagai target operasinya, begitu pula di Khasmir yang menjadikan India sebagai target, dll. Berdasarkan analisis Pape, sejak tahun 1980 sampai 2003, terdapat 315 penyerangan bunuh diri yang tersebar secara global.

Akan tetapi, jika dianalisis secara spesifik, meski pun motif keagamaan memang memiliki kaitan dan meski pun kelompok Islamis menerima perhatian oleh media-media Barat, tetapi pada dasarnya aksi terorisme bunuh diri modern tidak terbatas pada kelompok fundamentalis Islam. Misal, kelompok anti-keagamaan Macan Tamil (yang pertamakali mempopulerkan aksi bom bunuh diri dengan menggunakan rompi bom) terlibat dalam 76 aksi penyerangan bunuh diri dari 315 aksi bom bunuh diri. Artinya, aksi yang dilakukan kelompok ini melebihi jumlah aksi penyerangan bunuh diri dibanding kelompok ekstremis lainnya. Lagi, kelompok ini terlibat dalam pembunuhan dua kepala negara Rajiv Gandhi dari India dan Ranasinghe Premadasa dari Sri Lanka—juga pengeboman gedung World Trade Center di Kolombo pada tahun 1997.

Pada kelompok-kelompok yang dibalut dengan wajah Islam, sebenarnya kelompok sekular berkontribusi lebih dari sepertiga aksi bom bunuh diri. Misalnya pada kelompok Kurdish PKK yang menginginkan otonomi masyarakat Kurdi. Kelompok ini dikepalai oleh Abdullah Ocalan yang berideologi Marxis-Leninis dibandingkan Islam.

Bahkan pada konflik-konflik terorisme yang dikategorikan sebagai Fundamentalisme Islam, kelompok dengan ideologi sekular lebih sering melakukan penyerangan bunuh diri. Sebagai contoh, Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina yang berideologi Marxisme-Leninisme, Brigade Martir Al-Aqsa yang memiliki hubungan dengan gerakan Fatah yang dikepalai oleh Yasser Arafat yang berideologi sosialis. Jika dijumlahkan, aksi penyerangan bunuh diri dari kelompok-kelompok ini berjumlah 31 dari 92 total penyerangan terhadap Israel.

Sementara kelompok sosialis dan komunis seperti kelompok sekuler Front Perlawanan Nasional Lebanon, Partai Komunis Lebanon, dan Partai Sosialis Nasional Suriah. Secara bersamaan, aksi penyerangan bunuh diri kelompok ini berjumlah 27 dari 36 total penyerangan yang dilakukan di Lebanon sepanjang 1980an. Singkatnya, kelompok terorisme dengan kategori Fundamentalisme Islam hanya berkontribusi setengah dari jumlah penyerangan bunuh diri selama 1980 sampai 2003.

Penyebab Aksi Terorisme Bunuh Diri

Ada banyak penyebab aksi-aksi terorisme yang menggunakan bom bunuh diri sebagai taktik operasi. Alasan-alasan tersebut bisa berangkat dari analisis ideologi, faktor politik, ketimpangan sosial-ekonomi, sentimen, dll.

Lebih lanjut, seiring dengan bermunculannya penjelasan-penjelasan baru mengenai aksi terorisme bunuh diri, beberapa analis membedah apa sebenarnya yang menjadi penyebab dari aksi terorisme bunuh diri ini. Argumen tersebut dimulai dengan pertanyaan; apakah aksi terorisme bunuh diri disebabkan oleh tingginya angka kemiskinan atau dikarenakan tingginya angka pertarungan politik dengan beberapa aktor non-negara?

Pada kenyataannya, kemiskinan yang tinggi (salah satu faktor yang) cenderung memperkuat aksi terorisme bunuh diri. Sebagaimana Pape katakan, lebih mudah membayangkan individu yang memiliki akses kehidupan yang kecil untuk berpartisipasi dalam terorisme bunuh diri dibanding mereka yang berpikiran bahwa kehidupannya lebih berarti di masa depan, khususnya ketika terorisme bunuh diri muncul di negara-negara Dunia Ketiga yang semuanya lebih miskin dari negara-negara Barat.

Namun, terdapat faktor krusial lainnya, yaitu okupasi. Penguasaan daerah lain oleh aktor asing di beberapa tempat memicu terjadinya aksi terorisme bunuh diri. Hal itu disebabkan terjadinya penggabungan saat terjadinya okupasi, daerah tersebut memiliki nasionalisme yang patut diperhitungkan. Semangat nasionalisme ini menggerakan wacana politik anti-asing yang kemudian menciptakan pemberontakan, lalu memunculkan terorisme.

Di sini kita dapat menyimpulkan beberapa poin penting: meski Islam tidak pernah ada, gesekan besar antara Timur dan Barat tetap yang diisi Gereja Ortodoks Timur melawan Gereja Romawi Barat dan aksi terorisme bunuh diri menggunakan bom tetap ada yang dimulai oleh para Marxis-Leninis. Terakhir, Islam tidak sedikit pun mempersubur terorisme, melainkan politisasi agama secara liar, agresi militer, okupasi, dan kemiskinanlah yang memperparah keadaan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.