Kam. Mei 23rd, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Membedah Thanos Manifesto I

8 min read

Poster dibuat oleh (IG)mlnihsn

Pada 12 September 2018, Joko Widodo membacakan sebuah pidato yang cukup menarik perhatian pada gelaran acara World Economic Forum di Hanoi. Beliau membicarakan datangnya perang tanpa batas (infinity war) yang termanifestasi dalam rupa perang dagang (trade war), dan Thanos dimanifestasikan sebagai paham dan persepsi jahat berupa keberhasilan satu pihak menuntut kegagalan pihak lainnya. “Thanos” inilah yang memimpikan untuk menghabisi setengah populasi dunia, yaitu ketika setengah populasi yang bertahan akan menikmati sumber daya per kapita dua kali lipat.[1]

Referensi popular dari pidato ini tentu saja merujuk pada film Avengers: Infinity War yang tayang perdana pada bulan April 2018. Avengers: Infinity War menghadirkan super-villain bernama Thanos yang untuk pertama kalinya mendapatkan jatah tampil dengan porsi besar alih-alih hanya muncul sepersekian menit di berbagai after credit film-film besutan Marvel Cinematic Universe yang memang telah membangun tendensi Infinity War’s Arc semenjak bertahun-tahun silam.

Dalam film ini, Thanos berusaha mengumpulkan materi-materi berkekuatan super yang berbentuk 6 buah batu, yakni Infinity Stones, yang diciptakan oleh entitas kosmis bersamaan dengan penciptaan semesta. Kekuatan satu batu saja (jika sanggup dikendalikan) sudah sangat kuat, apalagi ketika 6 batu ini dikumpulkan dalam sebuah wadah (dalam film ini Thanos memiliki wadah berupa sarung tangan: Infinity Gauntlet) yang dapat mengekstraksi kekuatan batu ini. Tujuan Thanos adalah memusnahkan setengah populasi dunia.

Berbeda dengan  personanya di dalam komik Avengers: Infinity War yang cenderung murni jahat, atau mungkin bisa disebut merupakan gejala Freudian akut yang dijewantahkan dalam aksi yang destruktif, ketika dirinya berambisi memusnahkan setengah populasi semesta untuk memikat Mistress of Death pujaan hatinya, Thanos dalam film cenderung memiliki tujuan akhir yang (sebenarnya) mulia, yakni agar seluruh komunitas di semesta dapat menghindari nasib yang menimpa planet asalnya, berupa kelangkaan sumber daya yang berujung kemusnahan massal.

Keresahan Thanos versi MCU pada asalnya berasal dari premis sederhana berupa “Sumber daya itu terbatas”, sehingga populasi pun perlu dibatasi. Konteks alam pikiran Thanos sehingga dalam usahanya menggapai cita-cita mulianya itu menimbulkan pertanyaan sendiri berupa: “Apakah dia seorang Utilitarian Consequentialism yang memandang bahwa baik tidaknya sebuah aksi ditentukan oleh konsekuensi yang terjadi pasca aksi?”

Dalam paradigma berpikir Thanos, tentu saja, bahwa aksinya adalah aksi mulia karena aksinya, yang melakukan genosida lintas planet, memiliki konsekuensi baik, agar terhindarnya semesta dari kelangkaan sumber daya yang mematikan. Thanos bahkan mengklaim bahwa planet-planet yang sudah mendapat “kunjungannya” dikemudian hari menjadi makmur. Salah satu tokoh dan pemikir penting dalam merumuskan filsafat ini adalah Jeremy Bentham, yang pada 1781 menulis pada An Introuduction to the Principles of Morals and Legislation :

What is here said about the goodness and badness of motives, is far from being a mere matter of words. There will be occasion to make use of it hereafter for various important purposes. I shall have need of it for the sake of dissipating various prejudices, which are of disservice to the community, sometimes by cherishing the flame of civil dissensions, at other times, by obstructing the course of justice.”[2]

Kecenderungan Utilitarian Consequentialism dalam diri Thanos diwujudkan dalam tindak “penjentikan jari” untuk memusnahkan separuh populasi semesta. Pada nyatanya, dalam diskursus di alam pikiran dunia nyata, aksi Thanos ini juga bisa ditinjau dari teori yang dikenal dengan Malthusian Theory of Population yang terinspirasi dari tulisan Thomas Robert Malthus yang pada 1798 menulis An Essay on the Principle of Population.

Famine seems to be the last, the most dreadful resource of nature. The power of population is so superior to the power of the earth to produce subsistence for man, that premature death must in some shape or other visit the human race. The vices of mankind are active and able ministers of depopulation. They are the precursors in the great army of destruction, and often finish the dreadful work themselves. But should they fail in this war of extermination, sickly seasons, epidemics, pestilence, and plague advance in terrific array, and sweep off their thousands and tens of thousands. Should success be still incomplete, gigantic inevitable famine stalks in the rear, and with one mighty blow levels the population with the food of the world[3]

Kendati demikian, alih-alih memberikan kesempatan kepada semesta secara alamiah memperbaiki kenyataan ini, seperti menunggu adanya wabah penyakit besar-besaran, bencana alam, atau mungkin meteor jatuh ke planet-planet se-semesta untuk kembali “menstabilkan” populasi, Thanos mengambil langkah ekstrim dan singkat dengan menggunakan kekuatan infinity stones. Agaknya, Thanos menganggap dirinya sebagai salah satu kekuatan semesta itu sendiri.

Teori klasik Thomas Malthus ini sudah banyak mendapatkan kritik, termasuk dari Friedrich Engels, yang menyebut bahwa teori Malthus adalah teori paling brutal. Dalam Outlines of a Critique of Political Economy, Engels membantahnya (dengan bantuan argument Alison) bahwa manusia bisa memproduksi lebih dari apa yang dia butuhkan dikarenakan tanah/lahan memiliki kekuatan produksi yang (bisa dibilang) tidak terbatas selagi diurus dengan efisien dan baik dan didukung oleh perkembangan sains dan teknologi, seminimal-minimalnya akan terus meningkatkan produksi sebanding dengan peningkatan populasi.[4] Lebih lagi, yang menarik adalah ketika hal ini menjadi poin penting yang diutarakan Joko Widodo dalam pidato himbauan melawan Thanos: “Perkembangan teknologi telah menghasilkan peningkatan efisiensi, memberi kita kemampuan untuk memperbanyak sumber daya kita lebih banyak dari sebelumnya”[5]

Selain kemajuan teknologi, Malthus juga silap dengan tidak memperhitungkan adanya pembukaan wilayah baru untuk menjadi wilayah penduduk ataupun sumber daya baru. Pertimbangan Malthus cenderung pasif dan mengabaikan adanya perkembangan selain jumlah populasi.

Green Revolution (yang juga dapat terjadi karena perkembangan teknologi dan sains) juga luput dari pertimbangan Malthus, atau besar kemungkinan tidak terpikirkan karena zaman, yang telah berhasil meningkatkan produksi agrikultural. Ironisnya, green revolution dianggap oleh Malthusian kontemporer sebagai penyebab over populasi sekarang ini. Ironi ini terletak pada ketika Malthus secara mendasar mengkhawatirkan kelangkaan sumber daya (termasuk makanan) sebagai dampak fatal over populasi, namun “kedatangan” green revolution rupanya (dianggap) mendatangkan masalah baru, yakni over populasi itu sendiri.

Lebih lagi, berdasarkan penelitian pada tahun 2002 oleh FAO (Food and Agriculture Organization), produksi makanan global akan meningkat pesat dan pada tahun 2030 dapat melebihi peningkatan populasi. Meski begitu, dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa fakta ini tidak akan merubah realitas bahwa ratusan juta manusia di negara berkembang akan tetap menderita kelaparan.

Jadi, apa yang salah? Dimana letak akar permasalahan kelangkaan sumber daya (khususnya) makanan dan (lebih lanjut) kemiskinan? Kenapa sekalipun produksi makanan global meningkat, namun ratusan juta manusia masih harus menghadapi kelaparan?

Dalam laporan yang sama, FAO menyebutkan bahwa kemiskinan dan kelaparan tetap akan berdampak pada penduduk kawasan pedesaan, dimana akses untuk mendapatkan lahan, air, pinjaman, kesehatan dan pendidikan merupakan cara untuk memberantas kemiskinan. Selain itu, globalisasi, perdagangan internasional, investasi infrastruktur, pembatasan konsentrasi pasar dan lain-lain juga bisa menjadi kunci untuk memberantas kemiskinan dan kelaparan.[6]

Akan tetapi, cukupkah hal-hal diatas mengatasi kemiskinan dan kelaparan serta kelangkaan sumber daya (secara umum)?

Pada nyatanya (dalam alam pikiran penulis), hal-hal diatas tidak cukup untuk memberantas kemiskinan dan kelaparan secara signifikan. Oxfam International, sebuah konfederasi 20 NGO yang bertujuan untuk memerangi kemiskinan, telah menggaris bawahi sebuah realitas bahwa telah terjadi konsentrasi kekayaan pada segelintir kecil orang.

Oxfam, misalnya menyebutkan bahwa total kekayaan 100 milyuner terkaya pada 2012 berjumlah $240.000.000.000, yang sebenarnya cukup untuk mengakhiri kemiskinan dunia dikali 4. Penegasan Oxfam ini juga didukung oleh beberapa milyuner dunia, seperti Bill Gates dan Warren Buffet yang memang merupakan tokoh yang banyak menyumbangkan hartanya untuk memberantas kemiskinan.

Oxfam mendatangkan 4 buah rekomendasi untuk secara mendasar dapat menjamin peperangan menghadapi kemiskinan ini berjalan dengan selayaknya, yakni :

  1. Penghentian surga/suaka pajak (Tax Haven).
  2. Membalikkan tren pajak regresif (semakin tinggi penghasilan, persentase pajak semakin kecil), yang berarti pembentukan system pajak dimana semakin tinggi penghasilan semakin tinggi persentase pajak, atau minimal tetap sama (tidak berubah).
  3. Penentuan pajak minimum perusahaan yang berlaku secara global.
  4. Meningkatkan investasi pada pelayanan publik gratis serta bantuan/tunjangan untuk orang-orang yang kehilangan pekerjaan/pengangguran atau sakit.[7]

Tidak hanya menyebabkan kelangkaan sumber daya, konsentrasi kekayaan juga pada hakikatnya akan menciderai alur dan kelancaran pemerintahan maupun pengaturan regulasi. Noam Chomsky, salah satu intelektual terbesar masa ini yang disebut-sebut sebagai filsuf yang paling banyak dikutip pernyataan-pernyataannya, telah secara apik menjabarkan dalam avant garde interview-dokumenternya yang bertajuk: “Requiem for the American Dream”. Konsentrasi kekayaan erat kaitannya dengan konsentrasi kekuasaan. Kelompok orang-orang “ultra” kaya yang berasal dari kalangan pengusaha, akan secara logis menjaga kondisi dimana legislasi ataupun regulasi negara-negara tempat dimana mereka beraktifitas tidak bertentangan atau mengancam bisnis ataupun aset mereka. Kepentingan ini menuntut mereka untuk menjamin agar kekuasaan yang berjalan bisa mereka kendalikan. Cara paling rasional adalah dengan menggelontorkan sekian banyak dana untuk membantu tokoh-tokoh politik naik ke tampuk kekuasaan, untuk kemudian “menuntut” agar kepentingan mereka terjamin. Fenomena ini pada asalnya sudah teramati oleh Adam Smith dalam karya monumentalnya nan legendaris: “Wealth of Nations” yang menulis: “The principal Architects of policy are the people who own the society (merchants & manufacturers).” Selanjutnya, konsentrasi kekuasaan akan menjamin terulangnya siklus konstentrasi kekayaan pada segelintir orang tersebut, yang mana mereka tidak peduli terhadap apapun kecuali pada kelangsungan bisnis mereka dan keamanan asset-aset mereka. Hal ini akan mempertahankan kondisi berupa ketidakmerataan (inequality) yang salah satu indikatornya dapat dilihat dari kelangkaan sumber daya, yang pada hakikatnya hanya langka bagi orang-orang yang kurang beruntung, bukan bagi segelintir manusia “ultra” kaya ini.

Sehingga, pada dasarnya, pemecahan masalah kelangkaan sumber daya dan kelaparan yang ditawarkan Thanos adalah bentuk sebuah kesalahan ekstrim yang gagal mencari akar masalah dari sebuah permasalahan kompleks. Himbauan FAO pun tidak akan mampu mendatangkan dampak yang signifikan selagi kekayaan dan sumber daya yang terbatas ini dikuasai secara massif oleh segelintir orang (1 %, jika melihat pada laporan Oxfam). Fakta dari laporan yang dikeluarkan FAO sebagaimana yang sudah disebutkan diatas telah menunjukkan bahwa permasalahan utama sesungguhnya bukanlah pada kuantitas yang terbatas, namun lebih ke terhambatnya distribusi sumber daya, termasuk kekayaan, sumber makanan dll.

Dalam laporan Birmingham Policy Commission on the Distribution of Wealth yang dirilis oleh Universitas Birmingham bertajuk “Sharing Our Good Fortune: Understanding and Responding to Wealth Inequality” tahun 2013, disebutkan bahwa selama 30 tahun terakhir telah terjadi ketimpangan penghasilan yang nampak amat drastis, dimana hal ini tentu saja juga menjadi dampak sekaligus sebab bertahannya status ketidakmerataan secara ekonomi, sosial, hingga politik. Dalam laporan ini, salah satu rekomendasi yang didorong untuk mengikis ketidakmerataan adalah mereformasi pajak yang bertujuan—sekali lagi—untuk membantu distribusi kekayaan.

Jadi, alih-alih menjentikkan jari untuk memusnahkan ½ populasi semesta, lebih baik nampaknya Thanos menjentikkan jari untuk memusnahkan orang-orang kaya yang menolak mendistribusikan kekayaannya, baik melalui pajak, filantropi, amal, hingga zakat[8] untuk menunjukkan bentuk baktinya sebagai seorang warga negara, umat beragama, dan yang paling pasti, sebagai seorang manusia.

[1] Lihat transkrip pidato beliau (bahasa Indonesia) di : https://www.cnbcindonesia.com/news/20180912154402-4-32774/jokowi-sebut-dunia-hadapi-thanos-ini-pidato-lengkapnya

[2] Betham, Jeremy. An Introuduction to the Principles of Morals and Legislation. Kitchener : Batoche Books, 2000, hal. 103

[3] Malthus, Thomas.First Essay on Population 1798. Palgrave Macmillan, 2000, hal.139

[4] Akses tulisannya di : https://www.marxists.org/archive/marx/works/1844/df-jahrbucher/outlines.htm

[5] https://www.cnbcindonesia.com/news/20180912154402-4-32774/jokowi-sebut-dunia-hadapi-thanos-ini-pidato-lengkapnya

[6] Lihat : http://www.fao.org/english/newsroom/news/2002/7828-en.html

[7] Lihat : https://www.washingtonpost.com/news/worldviews/wp/2013/01/20/oxfam-poverty-income-inequality/?noredirect=on&utm_term=.b2c70090929c

[8] Bagi kaum Muslimin, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Sya’rani dalam Fathul Mubin bahwa orang-orang miskin ada dikarenakan terhambatnya distribusi harta hingga tidak sampai pada mereka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.