Sen. Sep 23rd, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Menerjemahkan “Takut” dari Pernyataan Salim Said

4 min read
Salim Said

Salim Said

Salim Said, sebagai guru besar bidang Ilmu Politik Universitas Pertahanan Indonesia menyatakan pertanyaannya mengenai rasa takut yang kemudian membuat sebuah negara menjadi tumbuh dan dominan di kawasannya. Pernyataan tersebut diucapkan pada sebuah acara diskusi panel pada salah satu stasiun televisi swasta.

Meski pun acara diskusi dengan tajuk “PKI, Hantu atau Nyata?” tersebut sudah lampau untuk dibahas dan penjelasan Salim Said berdasarkan konteks ideologi, namun adalah menarik untuk dijelaskan ulang bagaimana negara atau bangsa yang berkelindan dengan rasa takut justru menjadi kuat dan dominan.

Dalam acara tersebut, Salim Said memberikan beberapa contoh negara seperti Singapura yang takut mengenai keberadaannya di lautan Melayu, Israel yang takut karena dikelilingi oleh negara-negara Arab, Taiwan, dan bahkan Korea Selatan yang takut akan ancaman dari Korea Utara. Pada dasarnya, interpretasi manusia mengenai rasa takut sudah lama dibicarakan. Ada banyak literatur klasik yang berbicara tentang kekuatan negara yang mengendarai rasa takut, seperti “Peloponnesian War” dari Thucydides,  “Il Prince” karya Machiavelli, “Leviathan” dari Thomas Hobbes, dan sederet karya lainnya yang menyeret pemahaman mengenai kekuatan negara tentang rasa takut yang pada akhirnya mengukuhkan pemahaman tersebut dalam sebuah kerangka akademik yang disebut Politik Realisme.

Pemahaman politik yang berangkat dari ranah Realisme menguasai tataran global sejak pasca Perang Dunia II. Berdasarkan literatur klasik tersebut, pemahaman politik realisme berkembang. Alasan yang pasti mengapa pemahaman realisme berkembang adalah pijakan dasar dari pemahaman ini berbicara mengenai eksistensi manusia itu sendiri yang pada dasarnya sarat akan kepentingan pribadi untuk memperkuat diri sendiri atau bahkan mendominasi yang lainnya. Seperti kutipan Hobbes, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Jika diinterpretasikan secara gamblang, tentu saja pemahaman seperti ini akan mengarah pada tudingan-tudingan kekejaman. Akan tetapi, yang diusung dari realisme adalah rasa aman, sebab rasa aman adalah pengalaman otentik manusia untuk hidup. Melalui keinginan untuk menggapai rasa aman, ketakutan yang dimiliki oleh negara akan menggiring keberadaannya pada usaha-usaha untuk bertahan hidup.

Bukan tidak keliru pepatah Latin yang mengatakan “jika ingin damai, maka persiapkan perang”. Contoh-contoh negara yang dilontarkan oleh Salim Said tersebut pada dasarnya juga meningkatkan afiliasi dengan negara-negara besar, meningkatkan kualitas militer, memiliki anggaran yang besar hampir tiap tahunnya untuk mengendarai rasa takut dan melaksanakan keinginannya untuk meraih kehidupan yang nyaman. Korea Selatan, misalnya, yang menaikkan anggaran militernya untuk menghadapi provokasi nuklir dari Korea Utara dan juga untuk memfasilitasi kerjasama militernya dengan Jepang dan Amerika Serikat. Kebijakan Korea Selatan yang meningkatkan anggaran militernya ini juga buah dari rasa kecewa (dan juga takut) mengenai Tiongkok yang kunjung tidak konsisten dalam sanksinya kepada Korea Utara. Tidak sampai di situ, mayoritas dari masyarakat Korea Selatan menginginkan kehadiran Amerika Serikat di Semenanjung Korea.

Jika analoginya dibalikkan menjadi Korea Utara, hal tersebut lebih jelas lagi bagaimana sebuah negara mengendarai rasa takutnya untuk menggapai rasa amannya. Watak Korea Utara sebagai negara, bukanlah semata-mata seperti anak kecil yang sengaja memancing konfrontasi negara tetangganya dengan meluncurkan berkali-kali percobaan nuklir dan alih-alih mengkhianati kesepakatan baik bilateral dari Amerika Serikat atau prinsip-prinsip dari Six-Party Talks yang memang disusun untuk melakukan demiliterisasi Korea Utara—juga menegakkan stabilitas di kawasan Semenanjung Korea. Tentu saja, jika Korea Utara menerima segala usulan dari AS dan juga Korea Selatan, keberadaannya sebagai negara berdaulat secara perlahan akan memudar. Dalam kacamata Korea Utara, negara-negara yang menginginkan demiliterisasi dan membongkar fasilitas nuklirnya di Situs Yongbyon adalah ancaman. Kendati demikian, sebagaimana negara yang dililit oleh rasa takut, Korea Utara juga menggandeng mitra yang kuat pula, yaitu Tiongkok. Afiliasi politik itu berimbas pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 2321 tentang sanksi kepada Korea Utara yang merefleksi kepentingan Tiongkok yang menekankan bahwa negara-negara yang memberikan sanksi kepada Korea Utara, tidak boleh mengintervensi perdagangan normal dan mata pencaharian masyarakat Korea Utara—resolusi tersebut dikeluarkan dua bulan setelah Resolusi DK PBB 2270 dan memiliki poin yang kontras. Alhasil, Korea Utara sedikit mendapat rasa aman dan Tiongkok tetap bisa melakukan hubungan dagang dengan konsumen setianya.

Dari hal ini, dapat dilihat bahwa rasionalitas negara yang sedang ketakutan memberikan dampak yang signifikan akan keberadaannya. Pada dasarnya, yang terjadi di dunia ini bukanlah perdamaian yang abadi dan keberadaan konflik adalah alami adanya. Motif dari rasa takut dan kepentingan pribadi inilah yang membuat spesies manusia dapat bertahan hidup sampai peradaban sekarang ini, sebab didukung pula oleh fakta sejarah bahwa konflik membuat manusia berevolusi.

Maka dari itu, ketika negara atau manusia yang hidup dengan rasa takut akan menggiring pada sifat alamiahnya, yaitu bertahan hidup. Pemahaman politik semacam ini, bukan pula untuk dikonsumsi secara mentah dengan tafsir bebas karena hanya akan membenturkan manusia pada kekacauan yang lebih masif. Dari ketakutan dan rasa aman tersebut, cara yang paling rasional bagi sebuah negara untuk bertahan hidup adalah dengan mengendarai ketakutannya secara masuk akal agar tidak alih-alih sebuah negara menjadi maniak perang.

Di era yang sekarang ini, akan lebih baik ketika ketakutan-ketakutan tersebut dialihkan pada ketimpangan sosial, kemiskinan, dan sederet permasalahan yang berimbas langsung pada kehidupan masyarakat. Itu sebabnya, Salim Said menutup dengan sebuah epilog yang menampar kita semua; Indonesia, kepada Tuhan pun tidak takut. Atau, barangkali, kita yang tidak serius melihat ancaman dan berhadapan dengan rasa takut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.