Rab. Agu 21st, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Mengapa Ideologi Kiri Tidak Seksi Lagi

5 min read
Mengapa Ideologi Kiri Tidak Lagi Seksi

Gambar didapat dari https://enoughisenough14.org/2019/05/07/indonesia-post-mayday-update-and-call-for-international-solidarity/

Menekankan yang ideal; orientasi paling seksi dari ideologi Kiri. Namun, sekarang ini, dalam advokasinya menuju kondisi ideal itu, pergolakan dari kaum Kiri sering menuai kritik.

Terlepas dari definisi apa yang kita sematkan kepada “Kiri” yang bisa saja beragam. Bergantung pada konteks sosial-ekonomi dan politik di suatu masa, di suatu tempat. Yang-Kiri biasanya merujuk pada kelompok yang menjujung tinggi kesetaraan dan keadilan sosial sebagai wacana utama pergerakan.

Turunannya bisa berupa Sosialisme, Komunisme hingga Anarko-Sindikalisme menginginkan agar kesenjangan yang mengikat manusia, bisa dari ekonomi, sosial hingga gender agar bisa dihilangkan atau paling tidak berkurang. Pandangan untuk membuat semua manusia bermartabat, bahwa yang memiliki hak dan hidup enak bukan hanya pada kaum pemilik modal, kolonialis dan imperialis.

Narasi kesetaraan, kemerdekaan serta, tidak lupa, perlawanan terhadap ketidakadilan membawa masyarakat pada pemberdayaan. Ketika negara peduli terhadap masyarakatnya; memberi akses kesehatan dan pendidikan gratis, misalnya.

Dunia telah merekam, memalui Revolusi Rusia 1917 adalah bukti nyata bila masyarakat menyadari kekuatan yang mereka miliki, bahkan seorang Tsar pun bisa ditumbangkan. Pada masa lainnya, Reformasi Indonesia di tahun 1998 juga tentunya tidak jauh dari ideologi ini yang melawan represivitas dan otoritarianisme semasa Orde Baru.

Namun, mengapa ideologi yang membawa manusia jauh dari tirani kini terlihat seakan tidak mampu memenangkan hati masyarakat lagi?

Bila ditilik dari tulisan Paulo Freire, dalam Pedagogy of The Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas), memang selalu ada tendensi bagi orang-orang yang ditindas jika sudah memiliki kekuasaan justru akan menindas kembali. Contoh konkrit dari hal ini tentunya Josef Stalin, ironi ketika negara yang dibangun untuk membawa masyarakat Uni Soviet jauh dari perbudakan justru melakukan opresi yang jauh lebih luar biasa terhadap masyarakatnya.

Di zaman modern sekarang ini, contoh lainnya dapat dilihat dari para penganut ideologi Kiri di Amerika Serikat. Seorang Youtuber transgender konservatif Amerika Serikat bernama Blaire White menggunakan topi Make America Great Again di tempat umum sebagai eksperimen sosial. Konsekuensinya, Blair justru diserang dan disiram cairan alkohol oleh beberapa aktivis.

Fenomena seperti ini sesungguhnya telah diamati oleh seorang Friedrich Hayek. Amatan itu berada pada tahun 1988, dalam bukunya, The Fatal Conceit (Kesombongan yang Fatal). Selain membahas bagaimana sosialisme tidak dapat bekerja dengan baik dan berargumen bahwa kemajuan peradaban manusia hanya bisa dicapai lewat pasar bebas dan kepemilikan properti pribadi, Hayek juga membahas bagaimana pendekatan rasional terhadap etikalah yang menumbuhkan kesombongan dalam diri manusia. Pendekatan etika yang dilakukan Hayek berangkat dari proses sejarah. Hayek yakin bahwa sistem etika orisinal manusia memiliki rasa solidaritas yang tinggi dan altruistik (mendahulukan kepentingan orang lain), sebab pada masa berburu, semua manusia yang berada di kelompok tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni untuk bertahan hidup dan hal tersebut mengesampingkan tujuan yang tiap individu miliki. Etika ini disebut etika “Small Group” oleh Hayek.

Namun, seiring berjalannya waktu, ketika manusia mulai bisa tinggal menetap dan bercocok tanam, etika yang bersifat solid dan altruistis justru tidak dapat berlaku lagi. Manusia akhirnya mulai memiliki tujuan hidup masing-masing, etika ini disebut Hayek sebagai etika “Extended Order”. Secara esensial, perubahan sosial dapat terjadi pada etika, sama seperti evolusi Darwin di mana yang paling dapat beradaptasilah yang bertahan hidup. Etika manusia purba tentu tidak akan cocok diaplikasikan di lingkungan yang beragam dan kosmopolitan.

Para pendukung ideologi Kiri tentu mengharapkan sebuah dunia di mana manusia bisa menjadi solid dan altruistis seperti dahulu kala. Ironinya, ketika kita memadukan teori dualisme etika Hayek dan orang tertindas yang menjadi penindas, seperti diktum seorang Freire, yang kita dapatkan justru kaum yang kemudian disebut SJW (Social Justice Warrior).

SJW merujuk pada kaum Kiri (leftist) atau liberal yang sering memaksakan ideologinya secara berlebihan dan cenderung menyerang orang dengan ideologi yang berbeda. Sebagai contoh, apa yang terjadi pada Blaire White. Kaum yang paling sering mengadvokasikan bahwa keberagaman itu indah dan bahwa kita harus toleran terhadap orang yang berbeda justru melakukan intoleransi. Inilah, salah satu faktor, mengapa media konservatif Amerika Serikat dengan mudahnya mendapat simpati banyak orang dan naik daun. Sebab, memang lawan politiknya memiliki banyak keburukan yang bisa dengan mudahnya ditampilkan di media sebagai fakta bahwa merekalah kelompok yang represif.

Di Indonesia, sekurangnya melalui dua iven utama ketika orang (yang biasanya) berideologi Kiri melancarkan aksi, yakni Women’s March (WM) dan Hari Buruh.

Women’s March Indonesia, pada amatan saya, tidak lain dan tidak bukan hanyalah tempat untuk pamer, meski tentu ada orang-orang yang sungguh ingin isu-isu tertentu naik ke udara. Sayangnya, setelah tiga kali WM dilaksanakan tidak pernah ada perubahan signifikan yang terjadi. Malah, aksi ini menjadi asal-asalan, sebab, alih-alih menginginkan perubahan sosial, meningkatkan kepedulian, tetapi tidak progresif kepada beberapa lembaga yang selama ini secara terang-terangan memiliki kesenjangan gender dan seksis. Mereka tidak ‘menyerang’ DPR yang memiliki angka minim untuk representatif perempuannya, mereka tidak berdemonstrasi di KOMNAS HAM memohon untuk menaikkan standar usia minimal menikah bagi Perempuan Indonesia, mereka tidak menyerang pemerintah agar bisa lebih peka terhadap isu gender. Lalu, pada Hari Buruh, hari ketika para Anarko-Sindikalis berlaku vandal dan semakin mencoreng nama buruh yang selama ini katanya mereka bela.

Dari analisis-analisis ini, kita pelan-pelan menyadari bahwa menurunnya minat masyarakat terhadap ideologi Kiri yang, konon, pembebas manusia dari kekangan ini terjadi bukan hanya karena tidak kompatibel lagi dengan perkembangan zaman, tetapi lebih kepada apa yang dilakukan para aktivis Kiri ini telah melunturkan apa yang dilakukan Lenin atau Che Guevara dahulu.

Tendensi mengutamakan perasaan dalam berdemonstrasi dan membela orang-orang kecil tanpa melihat proses sebenarnya sangatlah merugikan. Misal, ketika film Sexy Killer viral di media sosial, bukannya memikirkan bagaimana agar masyarakat Kalimantan dapat memiliki kehidupan yang lebih baik tanpa batu bara, misalnya dengan energi alternative, mereka justru berargumen bahwa baik Joko Widodo mau pun Prabowo sama-sama manusia kikir yang tidak manusiawi sehingga lebih baik berdiri di barisan Golongan Putih (golput).

Sebenarnya, ideologi mana yang paling mumpuni?

Sesungguhnya setiap orang memiliki nilai-nilai tersendiri ketika berbicara tentang ideologi. Saya sendiri sangat menjunjung individualisme sebab, menurut saya, dalam kolektivisme akan sulit menekan kepentingan yang setiap orang miliki dan memang lingkaran setan, yang Paulo Freire sebut, susah sekali dihindari karena manusia memang memiliki tendensi untuk berkuasa—apalagi kelompoknya sendiri dan mencoba mempertahankan bahkan memaksakan nilai-nilai yang mereka miliki.

Namun, jika kita telah memiliki kesadaran sosial bahwa rasa benci terhadap satu sama lain tidaklah berarti jika kaum yang nasibnya ingin kita ubah tidak mendapatkan kesempatan yang sama, bahwa untuk mencapai perubahan sosial dan tatanan masyarakat yang toleran maka ideologi-ideologi berbeda pun juga harus saling toleran.

Jika harmoni ini tercapai, bukan hanya opresi yang dapat dihindari, tetapi diskursus intelektual yang sehat juga akan berjalan. Tentu, ini bukan tentang kaumku vs kaummu.

Tapi, sebagaimana alamiahnya manusia; menekan pada yang ideal—untuk kehidupan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.