Sen. Des 9th, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Menguji Klaim Israel tentang Tanah Yang Dijanjikan di Palestina

8 min read
Menguji Klaim Israel tentang Tanah Yang Dijanjikan di Palestina

Menguji Klaim Israel tentang Tanah Yang Dijanjikan di Palestina

Konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Palestina biasanya berawal dari klaim-klaim yang dilemparkan mengenai siapa yang paling berhak untuk mendiami Tanah Yang Dijanjikan itu.

Sudah sangat lama konflik yang telah terjadi dan telah banyak juga korban yang berjatuhan dari kedua kaum tersebut terlebih lagi dari pihak Palestina. Keduanya seakan-akan tidak bisa berdamai karena keduanya saling klaim bahwa tanah suci tersebut adalah milik salah satu dari mereka. Namun, Zionis Israel lebih koersif akan hal itu.
Klaim Zionis Israel berdasarkan ranah teologis perkara janji Yahweh (Tuhan umat Yahudi) mengenai Tanah yang dijanjikan. Mereka berusaha sangat keras untuk menguasai tanah Yerussalem dengan cara mengokupasi daerah tersebut dan didukung oleh sekutunya. Klaim lainnya adalah faktor historis tentang asal daerah nenek moyang mereka.

Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan, apakah keabsahan dari klaim mereka ini memang benar adanya? Hal ini bisa kita telusuri dan sekali gus menjawab dengan melihat dari pendekatan historis kedua kaum yang bertikai itu.

Pada Mulanya

Sejarah Yerusalem adalah sejarah dunia, tapi ia juga kronik dari sebuah kota provinsi yang sering miskin di tengah perbukitan Yudea. Yerusalem dulu pernah dipandang sebagai pusat dunia dan kini pandangan itu bahkan lebih tepat dari yang pernah terjadi sebelumnya. Kota itu kini menjadi fokus pertarungan antar-agama, tempat suci bagi fundamentalisme Kristen, Yahudi dan Islam yang kian populer, arena pertempuran strategis dan benturan peradaban, garis depan pertempuran antara atheisme dan agama, pusat pesona sekulerisme, objek konspirasi yang memabukkan dan pencipta mitos internet, serta panggung gemerlap untuk kamera-kamera dunia dalam abad berita dua puluh empat jam.

Kepentingan keagamaan, politik dan media saling menyuapi untuk menjadikan Yerusalem sebagai yang harus ditelusuri lebih intensif ketimbang masa-masa yang pernah terjadi sebelumnya.

Kesucian kota ini tumbuh dari ekspansionalisme Yahudi sebagai ‘umat yang terpilih’ dan Yerusalem sebagai kota terpilih. Palestina ditetapkan sebagai Tanah Terpilih dan ekspansionalisme ini diwariskan dan dipeluk oleh umat Kristen dan Muslim. Kesucian tertinggi dari Yerusalem dan tanah Israel tercermin dalam peningkatan obsesi keagamaan akan pemulangan kaum Yahudi ke Israel dan antusiasme Barat pada Zionisme, yang menjadi ekuivalen sekularnya, antara Reformasi abad ke-16 di Eropa dan 1970-an. Sejak itu, narasi tragis Palestina dan Yerusalem yang disematkan sebagai kota suci lagi dijanjikan telah mengubah persepsi masyarakat Yahudi Israel.

Faktanya, relevansi kota itu telah luruh dan mengalir, tidak pernah diam, selalu dalam keadaan transformasi, seperti sebuah tanaman yang berubah bentuk, ukuran, bahkan warna, namun selalu tetap berakar pada tempat yang sama. Manifestasi semu yang paling mutakhir relatif baru. Sudah berabad-abad Yerusalem tampak religius dan politisnya. Dalam banyak kasus, kebutuhan politiklah, bukan wahyu ilahiah, yang lagi-lagi menstimulasi dan mengilhami pengabdian keagamaan.

Yerusalem pernah menjadi sasaran Mesir yang telah menaklukkan Palestina pada 1458 SM. Pada 1350 SM, raja Yerusalem yang ketakutan memohon atasannya, Akhenaten, Fir’aun dari kerajaan Baru Mesir, agar mengirim bantuan kepadanya untuk membela kerajaan kecilnya dari agresi raja-raja tetangga dan gerombolan-gerombolan pengacau yang suka merampok, Habiru. Raja Abdi-Hepa menyebut bentengnya “ibu kota Tanah Yerusalem, yang dinamai “Beit Shulmani” atau Rumah Kesejahteraan. Mungkin kata Shulman adalah asal muasal kata “Shalem” dalam nama kota itu.

Abdi-Hepa adalah seorang pembesar miskin dalam sebuah dunia yang di bagian selatan di dominasi oleh orang Mesir, di bagian Utara (kini Turki) oleh orang Hatti dan di barat laut oleh orang Yunani Myceneea yang akan perang dalam Perang Troya. Nama depan raja itu semitik barat (Semit yang merujuk ke masyarakat dan bahasa-bahasa Timur Tengah, diduga berasal dari Shem, Putra Nuh). Maka sebabnya, Abdi-Hepa kemungkinan berasal dari suatu tempat Mediterania Timur Laut. Permohonannya, yang ditemukan dalam arsip Fir’aun, dicengkram kepanikan dan bernada menjilat.

Apapun yang terjadi pada raja terpojok ini, baru seabad kemudian orang-orang Yerusalem membangun teras-teras yang menjulang diatas Mata Air Gihon di bukit Ophel yang masih ada pada saat ini, pondasi sebuah benteng atau kuil Salem. Suatu masa pada abad ke-13 SM, sebuah masyarakat yang disebut Yebusit menduduki Yerusalem. Tapi dunia mediterania lama dihancur leburkan oleh gelombang pendatang yang disebut sebagai orang-orang laut, yang datang dari laut Aegea.

Dalam badai penyerbuan dan migrasi ini, beberapa imperium surut. Hitti jatuh, Mycenae hancur secara misterius, Mesir goyah dan seseorang menyebutkan Ibrani muncul untuk pertama kalinya.

Abad gelap baru, yang berlangsung selama tiga abad, membawa kemunculan Ibrani, dikenal juga Bani Israel, suatu masyarakat yang masih samar dengan konsep Monoteisme-nya, mendiami dan membangun sebuah kerajaan di daatan sempit Kanaan. Kemajuan mereka tergambarkan dalam kisah-kisah tentang penciptaan dunia, asal-muasal mereka dan hubungan mereka dengan Tuhan. Mereka meninggalkan tradisi ini, yang kemudian terekamdalam naskah-naskah suci Ibrani, belakangan disusun dalam lima kitab Musa, Pentateuch, bagian pertama dalam kitab Yahudi, Tanakh. Bible menjadi buku kitab-kitab, tapi bukan merupakan sebuah dokumen. Ini adalah sebuah perpustakaan mistis naskah-naskah yang saling bersangkutan yang ditulis para pengarang tak dikenal yang menulis dan menyunting pada masa yang berbeda dengan tujuan-tujun yang sangat luas ragamnya.

Karya sakral dari begitu banyak masa dan begitu banyak tangan berisi sebagian fakta-fakta sejarah yang bisa dibuktikan, sebagian kisah mitos yang belum terbukti, sebagian puisi tentang keindahan yang mengagumkan, dan banyak tukilan misteri yang sulit dimengerti, mungkin bersandi, mungkin hanya salah penerjemahan. Sebagian besar ditulis tidak untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa tapi untuk mempromosikan suatu kebenaran tinggi. Hasilnya adalah suatu sumber yang kontradiktif, tidak bisa diandalkan, repetitif, tetapi tetap sangat berharga, sering tersedia hanya satu untuk kita (merupakan biografi yang pertama dan bernilai tinggi tentang Yerusalem).

Pemimpin pendiri Ibrani, menurut Genesis, kitab pertama Bibel, adalah Abraham yang digambarkan bepergian dari Ur (kini termasuk di wilayah Irak) untuk menetap di Hebron. Inilah Kanaan, tanah yang dijanjikan kepadanya oleh Tuhan, yang menamai dirinya “Bapak Masyarakat”.

Dalam perjalananya, Ibrahim disambut oleh Melchizedek, raja-pendeta Salem (penyebutan pertama Yerusalem dalam Bibel). Hal ini menunjukkan Yerusalem sudah merupakan tempat ibadah orang Kanaan yang diperintah para raja-pendeta.

Israel adalah bapak dari dua belas pendiri suku yang bermigrasi ke Mesir. Ada begitu banyak kontradiksi dalam kisah-kisah Para Pendeta sehingga semua itu tak mungkin dilacak masanya secara historis. Setelah 430 tahun, kitab eksodus menggambarkan kaum Bani Israel, yang tertindas sebagai budak-budak pembangun kota-kota Fir’aun, secara ajaib lolos dari Mesir berkat bantuan Tuhan yang dipimpin oleh pangeran Ibrani bernama Musa.

Saat mereka mengembara dari Sinai, Tuhan menganugerahkan kepada Musa sepuluh Firman. Jika kaum Bani Israel hidup dan beribadah menurut aturan-aturan Tuhan, Dia menjanjikan kepada mereka tanah Kanaan. Ketika Musa mencari sifat Tuhan ini, dengan bertanya, “Siapakah namamu?” dia menerima jawaban larangan ilahiah ,”Aku adalah Aku”, satu Tuhan tanpa nama, yang dalam bahasa Ibrani menjadi YHWH: Yahweh atau, yang kemudian dilafalkan oleh orang Kristen menjadi Jehovah.

Musa dan Misi Penyelamatan di Mesir

Banyak orang Semit yang menetap di Mesir; Ramses II yang Agung atau biasanya dipanggil Fir’aun yang memaksa orang-orang Ibrani bekerja di kota-kotanya; nama Musa adalah bahasa Mesir, yang menunjukkan paling tidak dia berasal dari sana; dan tidak ada alasan untuk meragukan bahwa pemimpin kharismatis pertama agama-agama monotheis itu—Musa atau orang yang seperti dia—benar-benar menerima wahyu Ilahiah karena demikianlah bagaimana agama bermula. Tradisi masyarakat Semitik yang lolos dari penindasan dapat dipercaya, namun mengabaikan penanggalan.

Musa memandang sekilas Tanah yang dijanjikan dari Bukit Nebo, tetapi meninggal dunia sebelum dia bisa memasukinya. Penggantinya, Joshua, yang memimpin kaum Bani Israel memasuki Kanaan. Bibel menggambarkan perjalanan mereka sebagai sebuah amuk berdarah dan pemukiman bertahap. Tidak ada bukti arkeologis adanya sebuah penaklukan, tapi para pemukiman pastoral menemukan banyak desa-desa tak berdinding di dataran-dataran tinggi Yudea.

Satu kelompok kecil Bani Israel, yang lolos dari Mesir, mungkin diantara mereka Mereka dipersatukan oleh penyembahan kepada Tuhan yang mereka sembah dalam kuil yang bisa dipindahkan-pindahkan, suatu tempat ibadah yang menaungi lemari kayu suci yang dikenal sebagai Tabut Perjanjian (Ark of the Covenant). Mereka mungkin membangun identitas mereka dengan menceritakan kisah-kisah para pemimpin mereka. Banyak dari tradisi-tradisi ini, Adam dan kebun Eden sampai Ibrahim, belakangan diagungkan tidak hanya oleh orang Yahudi, tapi juga Kristen dan Muslim.

Bila kita melihat cerita Israiliyat diatas, tampak bahwasanya klaim bangsa Zionis Israel atas keberadaan nenek moyang mereka yang berasal dari Yerusalem tidaklah benar karena nenek moyang mereka hanya bermigrasi ke kota Bangsa Kanaan jadi mereka bukanlah orang asli di sana.

Bangsa asli yang memang terdapat di Yerussalem adalah bangsa Kanaan atas pelarian mereka dari perbudakan yang dilakukan oleh Bangsa Mesir yang di pimpin oleh Raja Ramses II atau biasa disebut dengan Fir’aun. Maka sebabnya, mereka menjadi masyarakat diaspora yang mencari suaka. Bangsa Kanaan adalah bangsa nenek moyang bangsa Arab Palestina sekarang. Jadi, keabsahan pengakuan bangsa Zionis tidaklah tepat. Semua ini hanya mengedepankan kepentingan politik untuk menjajah bangsa Palestina.

Sebetulnya hidup berbagi bersama berdampingan tidak masalah di beberapa tempat, tetapi bagaimana kita bisa percaya bangsa Arab yang tidak mau berbagi jika sejak Camp David, yang dilakukan Israel adalah memaksa minggir semua orang Palestina yang ada tanpa sosialisasi dan tanpa toleransi terlebih dahulu. Sudah banyak video yang beredar di internet tentang rasisme Israel dalam memperlakukan bangsa Palestina.

Menguji Keabsahan Klaim

Sudah banyak yang membahas bahwa lama tinggal dan berkuasanya Nabi Daud alaihissalam (David) dan nabi Sulaiman alaihissalam (Solomon) tidak dapat dijadikan pegangan hak bangsa Israel akan tanah di wilayah Syam (Palestina, Suriah, Irak) karena jika lamanya berkuasa/pernah tinggal menjadi klaim hak atas tanah, mengapa bangsa Israel tidak mengklaim Mesir saja karena masa menetap bangsa Israel di mesir jauh lebih lama.

Dimulai dari nabi Yusuf alaihissalam (anak nabi Yakub alaihissalam) menjadi raja hingga bangsa israel eksodus ke gurun sinai dipimpin nabi Musa alaihissalam.

Jika lamanya ‘tinggal lewat‘ merupakan premis utama dalam klaim hak atas tanah, maka lebih tepat jika Israel mengklaim tanah di Mesir. Jika Israel berpendapat bahwa Palestina/Yerusalem adalah tanah yang dijanjikan Tuhan, boleh saja mengklaim seperti itu namun hampir semua dari kita mengetahui dan belajar bahwa bangsa Israel memiliki keyakinan agama yang hanya diperuntukkan bagi keturunan Israel, bahwa Palestina hanya untuk bangsa Israel sehingga kendati pun bangsa Kanaan (Arab Palestina) masuk agama Yahudi semuanya, tetap tidak bisa mengklaim bahkan sebagian wilayah.

Mengapa? Karena tidak ada bangsa yang boleh beragama Yahudi selain keturunan Israel, itu doktrin jelasnya, jika pun ‘mualaf’ ke agama Yahudi akan di tempatkan pada status sosial tertentu. Sehingga, jika pun, bangsa Palestina bisa hidup di wilayah tersebut, mereka juga tidak akan diakui sebagai pemilik tanah yang sah.

Jadi, permasalahannya bukannya Arab tidak mau berbagi, di Madinah ada orang Yahudi, di Mesir ada Kristen Koptik, di seluruh negara Arab ada orang Kristen dan Yahudi namun bagi Israel, tanah tersebut hanya punya Israel.

Di lain pihak, organisasi Yahudi Naturei Karta yang anti-zionisme menyatakan bahwa klaim tanah yang dijanjikan itu sudah berakhir ketika bangsa Israel diasingkan 40 tahun di gurun Sinai, dalam arti sudah habis rahmat Allah bagi bangsa Israel untuk mengklaim tanah yang dijanjikan tersebut.

Dengan demikian, dalam tataran teologis, jelaslah bahwa klaim “tanah yang dijanjikan” tersebut telah selesai dan berakhir, dikarenakan penolakan dan pengingkaran kaum Yahudi sendiri.

Setelah hancur oleh serbuan tentara Babylonia di bawah Raja Nebukadnezar, Palestina kembali diserbu oleh tentara Romawi yang dipimpin Kaisar Titus pada tahun 70 M. Inilah kali kedua Haikal Sulaiman dihancurkan dan penguasa Romawi ini melarang orang Yahudi menginjakkan kakinya di Palestina. Peristiwa tersebut membuat kaum Yahudi menyebar ke seluruh dunia (Diaspora). Hal ini disebabkan, bagi orang-orang Romawi, watak dan karakter asli kaum Yahudi selalu merusak, berkhianat, dan sebab itu sama sekali tidak bisa dipercaya.

Ketika Uskup Copernicus, Uskup kota Al-Quds, hendak menyerahkan kunci kota kepada Amirul Mukminin Khalif Umar bin Khattab saat futuh Yerusalem, Uskup tersebut meminta satu syarat kepada Umar agar tidak pernah mengizinkan kaum Yahudi memasuki Aelia (nama lain Yerusalem). Bangsa Arab memasuki Al-Quds dalam keadaan tidak ada bangsa Yahudi di dalamnya yang telah diusir bangsa Romawi berabad silam.

Tinggallah bangsa Arab di Palestina selama lebih dari 1400 tahun. Ini jauh lebih lama ketimbang saat bangsa Yahudi berdiam di Palestina yang hanya selama 200 tahunan. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa klaim historis terhadap Tanah Palestina adalah suatu kepalsuan yang besar. Israel sama sekali tidak memiliki hak apa pun atas Tanah Palestina dan keberadaan negara Israel di atas Tanah Palestina merupakan ilegal.

Sebab itu, eksistensi negara Israel yang berdiri di atas tanah dengan klaim yang tidak sah tersebut harus dihapuskan dari muka bumi. Tanah Palestina merupakan milik bangsa Palestina. Tidak yang lain.

More Stories

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.