Sab. Jul 20th, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Perang Dingin Arab-Iran dan Pengaruhnya dalam Konflik di Jazirah Arab

7 min read
Perang Dingin Arab-Iran dan Pengaruhnya dalam Konflik di Jazirah Arab

Perang Dingin Arab-Iran dan Pengaruhnya dalam Konflik di Jazirah Arab

Konflik berkepanjangan yang terjadi di tanah jazirah Arab selalu menjadi perhatian seluruh bangsa di dunia dan menjadi pembicaraan yang hangat karena aktor-aktor yang bermain di tengah konflik sungguh amat banyak dan cukup rumit bila kita petakan.

Masalah-masalah yang menjadi akar permasalahan yang dihadapi di Timur Tengah tidak hanya persaingan sekterian antara Sunni dan Syi’ah akan tetapi ada permasalahan kesejahteraan sosial, isu demokratisasi, keseimbangan keamanan kawasan, dan juga saling tuduh-menuduh dalam mem-back up kelompok terorisme. Dari tiap permasalahan diatas pengaruh, Arab–Iran sangat mempunyai andil besar dalam konflik yang terjadi di negara-negara Timur Tengah.

Arab–Iran sebagai dua negara yang paling besar dan paling berpengaruh di jazirah Arab mengalami gesekan dan perdebatan yang cukup sengit dalam setiap konflik dan perang yang terjadi di Timur Tengah. Salah satu, permasalahan yang pernah mereka hadapi adalah masalah eksekusi mati terhadap ulama Syi’ah di Arab Saudi yang bernama Syeikh Nimr al-Nimr yang mengantarkan konflik antara Arab–Iran ke permukaan yang lebih kasat mata. Menyusul aksi penyerangan terhadap Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran, Riyadh memutuskan hubungan diplomatik dengan Teheran. Krisis hubungan antardua negara yang saling berpengaruh di kawasan ini pun muncul ke permukaan dan menjadi konfigurasi konflik utama di panggung Timur Tengah. Timbul kekhawatiran di masyarakat internasional akan implikasi dari krisis hubungan Arab Saudi-Iran tersebut terhadap stabilitas kawasan, mengingat konflik keduanya telah menghasilkan perang tidak langsung (proxy war) di beberapa negara Timur Tengah.

Pada 3 Januari 2016 Pemerintah Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Langkah Saudi merupakan respons atas penyerangan massa ke kedutaan besar mereka di Teheran serta konsulat di Mashhad. Menteri Luar Negeri (Menlu) Arab Saudi Adel al-Jubeir menyebut aksi massa itu sebagai tindakan agresi dan melanggar konvensi internasional1. Aksi massa terjadi setelah Saudi mengeksekusi mati Sheikh Nimr-al Nimr, seorang ulama Syiah terkemuka di Saudi, bersama 46 orang lainnya pada 2 Januari 2016 dengan dakwaan aksi terorisme. Eksekusi mati al-Nimr dan putusnya hubungan diplomatik Arab Saudi-Iran telah menciptakan krisis hubungan di antara kedua negara yang selalu bersaing pengaruh di kawasan Timur Tengah ini. Krisis hubungan Arab Saudi – Iran tersebut juga telah menimbulkan kekhawatiran masyarakat internasional akan implikasinya terhadap stabilitas kawasan.

Kekhawatiran masyarakat internasional secara umum mengggambarkan bahwa krisis hubungan Arab Saudi-Iran dapat membahayakan stabilitas dan keamanan kawasan jika terus meningkat. Kekhawatiran tersebut bisa dimaklumi jika melihat riwayat hubungan Arab Saudi dan Iran yang terus memburuk, terutama setelah Revolusi Iran 19792. Di samping itu, perang Iran-Irak pada 1980-an merupakan fakta memburuknya hubungan kedua negara karena Arab Saudi menyuplai dana yang cukup besar untuk mendukung Irak. Pada 1980-an, konfigurasi utama konflik di Timur Tengah adalah perang Iran-Irak 1980-1988. Akan tetapi, pada saat itu hubungan Arab Saudi–Iran tidak berjalan dengan baik. Hubungan Arab Saudi-Iran sempat membaik pada masa kepemimpinan Presiden Khatami yang dikenal reformis sekitar tahun 1999-2001. Pertarungan kedua negara mulai muncul di permukaan setelah rezim Saddam Hussein jatuh. Pasca kejatuhan Saddam Hussein yang mengubah peta politik di Irak dan musim semi Arab (Arab Spring) telah memberi warna baru bagi hubungan Arab Saudi-Iran. Sistem politik sekterian dengan kemunculan poros politik Syiah, Sunni, dan Kurdi yang diterapkan di Irak pasca-Saddam Hussein berandil besar terhadap masuknya Arab Saudi dan Iran dalam konflik di negara itu. Arab Saudi, dikenal pendukung milisi dan kekuatan politik Sunni, sebaliknya Iran adalah pendukung milisi dan kekuatan politik Syiah di Irak. Arab Saudi dan Iran sejak 2003 hingga sekarang terlibat perang tidak langsung atau perang perwakilan (proxy war) di Irak. Irak pascainvasi AS menuju ekuilibrium baru dengan naiknya penganut Syiah dalam panggung politik Negeri Seribu Satu Malam itu. Iran memiliki amunisi baru untuk membangun koalisi besar di Timur Tengah. Komunitas Syiah yang sebelumnya ditekan secara politik oleh Saddam Hussein menemukan momentum untuk berperan aktif di ranah politik. Bersamaan dengan itu, Iran semakin gencar memperkuat kekuatan militernya dan mengembangkan nuklir. Tidak hanya Arab Saudi yang khawatir, tetapi juga negara Barat, khususnya AS. Bahkan, AS harus memaksa Iran duduk dalam meja perundingan perihal pengembangan nuklir dengan imbalan mencabut embargo terhadap Iran. Bagaimana pun, Arab Saudi sangat tidak nyaman dengan kesepakatan nuklir antara Iran dan negara-negara Barat, khususnya AS.

Konflik Arab Saudi dan Iran meluas, merambah ke Suriah pasca-meletusnya

revolusi rakyat Suriah tahun 2011 yang menuntut tumbangnya rezim Presiden Bashar al-Assad. Isu sektarian pun terjadi dalam konflik di Suriah3. Di negara itu, Arab Saudi mendukung upaya untuk menumbangkan Assad. Saudi dan negara-negara Arab lainnya terus mendukung perjuangan kelompok oposisi yang ingin menumbangkan rezim al-Assad sejak dimulainya Arab Spring. Arab Saudi melatih dan menyuplai senjata kepada milisi oposisi Suriah. Sebaliknya, Iran membela Assad yang menganut mazhab Syiah Alawite. Iran mengirim satuan elite Garda Revolusi ke Suriah dan mendorong Hezbollah yang pro Iran untuk membela Assad.

Konflik Arab Saudi-Iran semakin tidak terkendali saat Arab Saudi untuk pertama kalinya pada Maret 2015 terlibat perang langsung di Yaman. Militer Arab Saudi menggempur kelompok Houthi yang pro Iran di Yaman. Arab Saudi memandang Iran telah melewati garis merah dengan mencoba memperluas pengaruh di Yaman lewat kelompok Houthi, terutama setelah milisi itu sempat menguasai selat strategis Bab El-Mandeb yang menghubungkan Samudra India dan Laut Merah. Bab El-Mandeb, selat dengan lebar 18 mil yang menghubungan dua lautan itu, merupakan jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia. Hampir 40 persen suplai minyak ke Eropa dan AS yang diangkut kapal tanker dari Teluk melalui selat itu. Komoditas minyak yang akan menuju kawasan Mediterania melalui Terusan Suez akan menjadikan wilayah Yaman sebagai jalur pelayaran. Sejauh ini konflik di Yaman memang belum terlalu berdampak signifikan terhadap kenaikan harga minyak dunia. Dengan memerhatikan rivalitas Arab Saudi dan Iran tersebut, terlihat betapa rivalitas kedua negara di kawasan telah berlangsung lama. Rivalitas untuk menjadi negara paling terkemuka di kawasan membuat kedua negara tidak sekadar bersaing, tetapi juga menyemai benih permusuhan. Arab Saudi dan Iran adalah dua negara yang memiliki pengaruh besar, sehingga kestabilan kawasan Timur Tengah akan sangat dipengaruhi oleh keduanya. Konflik kedua negara telah menghasilkan perang tidak langsung (proxy war) di beberapa negara Timur Tengah.

Di Lebanon, pengaruh Arab Saudi–Iran juga tampak mecolok, ketika pemimpin Lebanon Said Hariri yang menjalin kerjasama dan hubungan mesra dengan Arab Saudi dan itu membuat ssebuah kelompok militer syi’ah dan kelompok Politik Hezbollah yang menjalin kerjasama dengan Iran yang memasok senjata dan bantuan lainnya. Hezbollah geram dan menimbulkan kondisi panas yang bergulir di kehidupan rakyat Lebanon.

Peristiwa tersebut berujung pada terbentuknya blok-blok kekuatan aliansi yang terbagi menjadi dua kekuatan di timur Tengah akibat dari proxy war antara Arab Saudi dan Iran, antara lain:

Sunni Axis (Poros Sunni)

Netral atau Objek Perebutan Pengaruh

Shia Crescent (Bulan Sabit Syi’ah)

Arab Saudi

Yaman

Iran

Qatar

Palestina

Irak

Turki

Libya

Suriah

Mesir

Oman

Lebanon

Kuwait

Uni Emirat Arab

Pakistan

Bahrain

Tabel 1.1 : blok-blok kekuatan aliansi

Dari tabel diatas bisa kita lihat bahwasanya, blok aliansi Sunni Axis mempunyai anggota aliansi lebih banyak dibandingkan blok aliansi Shia Crescent. Akan tetapi blok aliansi Sunni Axis masih merasa terancam oleh Shia Crescent dikarenakan negara Iran mempunyai dan bahkan memproduksi senjata tenaga nuklir yang mengancam keamanan Arab Saudi dan aliansinya4. Dari peristiwa ini timbukah Security Dilemma yang dirasakan Arab Saudi dan Aliansinya dan terus meningkatkan keamanan negaranya.

Ada beberapa keinginan Arab Saudi untuk terus mencapai hegemoninya di timur tengah, diantaranya adalah berupaya mengurangi dominasi Iran di Timur Tengah5. Karena Iran telah mampu menyaingi kekuatan Arab Saudi terutama dalam bidang kemiliteran dan keseimbangan keamanan kawasan. Kebijakan Anti-Iran Arab Saudi kembali tampak pada krisis di negara Timur Tengah, dimana blok yang beraliansi dengan Iran terus ditekan oleh Arab Saudi. Hal ini guna untuk membuat Iran kehilangan Investasinya, penjualan minyak juga akan berkurang, dan dukungan tehadap Iran di Timur Tengah juga akan berkurang6.

Kemudian kebijakan Arab Saudi terhadap krisis yang dihadapi negara-negara Timur Tengah khususnya Syria sebagai bentuk kepemimpinan Golongan Sunni di Timur Tengah. Arab Saudi adalah negara yang memiliki posisi yang cukup unik di timur- tengah. Arab Saudi telah menjadi negara utama dalam dunia islam, bukan hanya karena sebagai tempat lahirnya agama Islam tetapi juga keberadaan dua kota suci umat Islam yaitu Mekkah dan Madinah menjadikan Arab Saudi sebagai hearth of islam. Karakteristik politik luar negeri Arab Saudi memiliki idealisme akan kesatuan islam (muslim solidarity and unity), selain itu Arab Saudi merupakan negara simbol atas kepemimpinan Sunni di timur-tengah. Dalam beberapa kasus, Arab Saudi menempatkan pilihan politiknya untuk mendukung Sunni dan membatasi Syiah. Dalam arah politik luar negeri akan muslim solidarity and unity, Arab Saudi dalam penerapannya dimana proaktif dalam mendukung pemerintahan Sunni dan lebih anti terhadap Syiah7.Arab Saudi yang merupakan negara monarki konservatif yang berlandaskan Islam, kesatuan umat Islam adalah tujuan utama Arab Saudi. Akan tetapi bagi Arab Saudi, Ahlussunnah wal Jama’ah atau Sunni sebagai ideologi Islam yang benar, dan Syiah sebagai golongan yang ditentang. Hal ini tidak terlepas dari perbedaan dasar-dasar ajaran dari kedua golongan ini, dan konstitusi Islam yang dianut Arab Saudi pada dasarnya adalah ajaran dasar yang dipakai golongan Sunni8.

Konflik dua negara yang dominan di kawasan Timur Tengah ini pada akhirnya mempengaruhi konstelasi politik di kawasan Timur Tengah. Masalah-masalah Regional Security Complex yang terjadi bisa jadi akan menjadi pemicu peperangan antar blok aliansi dan bahkan mengundang negara-negara diluar tengah ikut campur di dalamnya dengan kepentingannya masing-masing. Konflik yang terjadi bisa saja menguntungkan pihak di luar Timur Tengah untuk mencegah bersatunya negara-negara jazirah Arab untuk menyerang musuh nyatanya yaitu Israel, Amerika dan lain-lain.

footnote:
  1. Simela Victor Muhamad, “ Krisis Hubungan Arab Saudi – Iran”. Info Singkat Hubungan Internasional- Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual dan Strategis Vol. VIII, No. 01/I3DI/Januari/2016, 2016, Hal. 5
  2. Ibid, Hal. 6
  3. Ibid, Hal.7
  4. Yoel Guzansky dan Gallia Lindenstrauss,”The Emergence Of Sunni Axis”, Strategic Assessment Vol.XVI, No.01pril/2013, 2013, Hal. 38
  5. Fadly Ikhsan,”Kebijakan Politik Luar Negeri Arab Saudi Terhadap Krisis Syria 2011-2014”, JOM FISIP Vol. II No.II/Oktober/2015,2015, Hal.3
  6. Ibid, Hal.4
  7. European Council on Foreign Relation, “The Regional Struggle for Syria”, London:ECFR, 2013, hal. 27
  8. Evangelos Venetis,”The Struggle Between Turkey and Saudi Arabia for the Leadership of Sunni Islam”, Working Paper No.39, Greece ELIAMEP, 2014, hal. 4-6.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.