Sel. Okt 22nd, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Sekelumit Narasi: Quo Vadis Trade War?

7 min read

Belum lama ini kita mendengar kabar bahwa Amerika Serikat dan Cina tengah berada dalam perang dagang. Berita tersebut menuai perbincangan pada publik, baik nasional atau pun global. Perang Dagang adalah situasi dimana negara membatasi perdaganganya dengan memasang tarif atau kuota pada barang impor. Singkat cerita, Perang Dagang tersebut bermula ketika Donald Trump mengibarkan bendera perang dengan memberlakukan tarif yang tinggi terhadap sejumlah produk impor dari Cina yang masuk ke Amerika Serikat untuk mengatasi defisit perdagangannya dengan Cina.

Amerika Serikat memulai perang dagangnya dengan Cina dengan memasang tarif 25% pada 34 miliar dolar barang impor dari Cina pada 22 Maret 2018. Sebagai respon, Cina menetapkan tarif yang sama, sebesar 25% pada 34 miliar dolar barang impor dari Amerika Serikat, termasuk kacang kedelai, produk otomotif, dan produk kelautan seperti lobster. Donald Trump bahkan merencanakan untuk memasang tarif sebesar 500 miliar dolar pada barang-barang Cina.

Terdapat beberapa fase dari Perang Dagang AS-Cina ini. Fase pertama, Amerika Serikat menargetkan tarif untuk membatasi ekspor produk high-end Cina untuk menahan arus teknologi Cina. Sebagai serangan balasan, Cina kemudian membalas dengan fokus pada produk low-end non-intermediate seperti produk pertanian, sehingga Cina tidak memasang tarif pada produk tinggi seperti Pesawat Terbang dan semikonduktor. Fase kedua, tarif Amerika Serikat fokus pada ekspor low-end intermediate dari Cina dengan tujuan untuk mengurangi peran Cina dalam rantai nilai global dan mendorong kembali peran Amerika Serikat. Retaliasi Cina yang kedua tidak jauh berbeda dari retaliasi nya yang pertama dengan sedikit penambahan porsi tarif yang lebih besar pada produk high-end dari Amerika Serikat.

Berdasarkan kajian Sylvie Cornot-Gandolphe dan Jean-Francois Boittin dari Center for Energy tahun 2018 (lihat grafik di atas), tarif terbaru yang dimumukan oleh Amerika Serikat adalah sektor minyak dan energi yang berpotensi mengancam perekonomian global terhadap negara-negara yang memiliki minyak dan energi sebagai produk utama. Pada fase pertama, Cina tidak mengikutsertakan sektor energi. Akan tetapi, pada fase retaliasi kedua, Cina mulai memasang tarif pada produk sektor energi seperti batu bara.

Mengapa Amerika Serikat menginisiasi perang dagang ini? Ada banyak alasan diantaranya, sebagai bentuk respon Amerika Serikat yang menilai Cina membatasi investasi Amerika Serikat di Cina. Amerika Serikat juga menganggap Cina telah mencuri hak kekayaan intelektual dan mengimitasi teknologi Amerika Serikat. Donald Trump percaya bahwa Cina telah mengeksploitasi akses pasar bebas di WTO untuk kepentingan Cina sendiri. Cina bahkan dituduh telah melakukan manipulasi mata uang dalam rangka memanipulasi struktur keuangan internasional Amerika Serikat. Selain itu, Amerika Serikat menuduh Cina telah melakukan subsidi pada ekspor baja dan dumping di berbagai sudut pasar internasional yang secara langsung merugikan postur ekonomi Amerika Serikat.

Bagaimana memahami perang dagang Amerika Serikat dan Cina? Ada dua acara untuk memahaminya dengan lebih sederhana. Pertama dengan memahami Trade Balance atau Perimbangan Dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Kedua, dengan memahami Comparative Advantage atau Keunggulan Komparatif antara produk tertinggi Amerika Serikat yang diekspor ke Cina dan sebaliknya.

Untuk yang pertama mengenai perimbangan dagang Amerika Serikat dan Cina, dapat kita lihat pada grafik di atas, bahwa barang Cina yang diekspor ke Amerika Serikat jauh lebih tinggi dan lebih banyak dibandingkan dengan barang Amerika Serikat yang dieskpor ke Cina. Artinya, Amerika Serikat sejak tahun 1990-an telah mengalami defisit perdagangan terhadap Cina. Hal ini sejalan dengan kebangkitan Cina yang juga dimulai sebelum tahun 1990-an. Data terbaru tahun 2017, defisit perdagangan Amerika Serikat terhadap Cina telah mencapai angka 375 miliar dolar. Sempat berkurang pada tahun 2008, namun sejak tahun 2000, terlihat laju pertumbuhan ekspor barang Cina ke Amerika Serikat yang meningkat dari tahun ke tahun.

Pendekatan perang dagang Amerika Serikat dan Cina yang kedua adalah Keunggulan Komparatif atau lazimnya dikenal dengan Comparative Advantage, merupakan salah satu teori sederhana dalam kajian ekonomi dan ekonomi politik internasional. Teori ini berguna dalam melihat sejauh mana sebuah negara secara perdagangan unggul terhadap negara lain. Teori ini juga sering disandingkan dengan kajian-kajian mengenai demokrasi dan perdamaian, dimana negara yang berdagang cenderung tidak akan berperang jika terjadi hubungan saling ketergantungan antar kedua belah pihak negara.

Contoh sederhananya dapat dilihat pada grafik simulasi Comparative Advantage antara Australia dan Selandia Baru di bawah ini.

Keuntungan atau Keunggulan Komparatif dikemukakan oleh David Ricardo. Perdagangan antarnegara dapat terjadi ketika ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Keunggulan komparatif akan dicapai ketika sebuah negara mampu memproduksi barang dan/atau jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah dari pada negara lainnya. Contoh pada grafik di atas menunjukkan produksi katun dan gandum Australia dan Selandia Baru. Australia dan Selandia Baru sama-sama memproduksi katun dan gandum. Selandia Baru mampu memproduksi sebanyak 600 bal katun dan 600 gantang gandum. Sedangkan Australia memproduksi 300 bal katun dan 100 gantang gandum. Selandia Baru mampu memproduksi 1 bal katun pada setiap 1 gantang gandum. Australia mampu memproduksi 3 bal katun pada setiap 1 gantang gandum. Artinya, Australia lebih unggul dalam memproduksi katun dibandingkan dengan Selandia Baru. Kenapa? Karena Australia mampu memproduksi 3 bal katun pada setiap produksi 1 gantang gandum dibandingkan dengan Selandia Baru yang hanya mampu memproduksi 1 bal katun pada setiap 1 gantang gandum. Harga katun di Australia lebih murah ketimbang di Selandia Baru (1 gandum di Selandia Baru, seharga dengan 3 katun) sehingga akan lebih menguntungkan jika Selandia baru menukarkan 1 gantang gandumnya untuk 3 bal katun. Di sisi lain, Australia menukarkan 3 bal katunnya untuk mendapatkan 3 gantang gandum. Pada tataran ini perdagangan antar Australia dan Selandia Baru terjadi.

Berdasarkan contoh pada Austalia dan Selandia Baru, singkat cerita, Amerika Serikat mengekspor kacang kedelai ke Cina karena keunggulannya dalam memproduksi kacang kedelai dan Cina mengekspor komputer ke Amerika Serikat karena keunggulannya dalam memproduksi produk-produk komputer. Berikut perbandingan keuntungan produk Amerika Serikat dan Cina dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Berkaca pada pendekatan comparative advantage, Amerika Serikat membeli produk unggulan Cina dan Cina membeli produk unggulan Amerka Serikat dengan alasan efisiensi dan produktivitas. Titik benturannya adalah ekspor komputer ke Amerika Serikat jauh melebihi besarnya ekspor kacang kedelai ke Cina. Jika dibandingkan, Amerika Serikat lebih bergantung kepada Cina dan perdagangan yang terjadi antara keduanya tak berimbang.

Lalu, apa hubungannya gap perdagangan ini dengan tarif? Jika Amerika Serikat memiliki defisit perdagangan sebesar 375 miliar dolar terhadap Cina, maka untuk “mengembalikan” 375 miliar dolar tersebut, Amerika Serikat memberikan tarif kepada produk Cina yang masuk ke Amerika Serikat. Jika boleh kita kaitkan dengan pandangan dan ideologi politik Trump yang menginginkan the rise of status quo dengan make America great again, Donald Trump merasa Cina telah mencundangi Amerika Serikat dari sektor perdagangan sehingga Amerika Serikat harus melakukan perimbangan.

Mari kita anggap keseluruhan barang impor dari Cina yang masuk ke Amerika Serikat pada tahun 2018 bernilai 500 mililar dolar. Jika Amerika Serikat memasang tarif sebesar 20% pada setiap 50 miliar dolar barang impor dari Cina, maka ini berarti bahwa Amerika Serikat telah memperoleh 100 miliar dolar dari tarif. Defisit yang tadinya berjumlah 375 miliar dolar berkurang menjadi 275 miliar dolar. Apalagi jika rencana Donald Trump ingin memasang tarif sebesar 500 miliar dolar, otomatis keadaan berubah yang awalnya defisit 375 miliar dolar menjadi surplus 275 miliar dolar. Tentu Cina tidak tinggal diam dengan keadaan ini. Tarif akan dilawan dengan tarif yang lain sehingga perang dagang terus berlanjut dan memperparah stabilitas ekonomi global.

Kenapa perang dagang Amerika Serikat dan Cina dapat merusak stabilitas ekonomi global? Mari kita fokus pada kacang kedelai dan komputer tadi. Jika tarif kacang kedelai tinggi, maka harga kacang kedelai di Cina pun akan menjadi tinggi. Otomatis, kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan kacang kedelai akan menaikkan harga. Harga naik pada tataran yang lebih lanjut dapat menyebabkan pengangguran dan bahkan tutupnya perusahaan-perusahaan. Goyahnya ekonomi dapat berujung pada krisis. Begitu juga sebaliknya dengan komputer di Amerika Serikat. Keadaan akan menjadi sangat buruk jika Cina hanya mengimpor kedelai dari Amerika Serikat saja (atau terbesar dari Amerika Seriakt) dan begitu juga sebaliknya.

Perang dagang antar negara ‘penopang’ ekonomi dunia akan melemahkan iklim investasi, menekan anggaran, menggoyahkan pasar finansial dan memperlambat ekonomi global. Ia juga dapat memicu negara-negara lain meningkatkan hambatan proteksionis. Petani-petani di Amerika Serikat dapat bangkrut jika Cina memutus impor kedelai dari Amerika Serikat karena 60% ekspor kedelai Amerika Serikat ditujukan ke Cina. Sebaliknya, boikot produk Cina di Amerika Serikat dapat menjatuhkan stabilitas keuangan perusahaan-perusahaan komputer Cina yang banyak menjual produk-produk komputer ke Amerika Serikat.

What Next?

Sesungguhnya perang dagang tidak dapat dicegah dengan seruan “winter is coming,”, sebab Cercei Lannister tetap menabuh genderang perang meskipun Jon Snow telah memperlihatkan sosok Nightwalker ke hadapannya. Negara-negara yang bergantung langsung dengan naik-turunnya tensi perang dagang ini harus mencari alternatif ekspor-impor. Cina adalah eksportir komputer terbesar di dunia dimana Amerika Serikat adalah importer terbesarnya. Di sisi lain Amerika Serikat adalah eksportir kedelai terbesar di dunia dimana Cina adalah importer terbesarnya.

Perang dagang atau perang tarif ini dapat membuat negara-negara lain yang bergantung pada dua komoditas ini goyah secara ekonomi. Sederhananya, negara-negara lain harus mencari alternatif untuk menutupi kekurangan suplai komoditas yang jatuh karena jatuhnya perusahaan yang kena imbas tingginya tarif bea masuk barang. Alternatif lain yang dapat menjadi solusi dari kerumitan yang disebabkan oleh Perang Dagang ini adalah penguatan ekonomi regional secara intra-regional. Misal, jika ASEAN mampu memperkuat dan meningkatkan intensitas perdagangan intra-regionalnya, maka ASEAN berpotensi mampu bertahan terhadap krisis global karena sandaran ekonomi negara-negara yang integrasi ekonomi regionalnya kuat sehingga dapat bertahan ketika ada pergolakan ekonomi di ekstra-regional.

Tabel disarikan dari UNCOMTRADE.

Gambar dari https://liberalarts.utexas.edu/laits/ diakses pada 13 Nopember 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.