Rab. Jun 26th, 2019

FAIR RIAU

Bridging the gaps, revealing the facts

Terorisme dan Kita

5 min read
Terorisme dan Kita

Terorisme dan Kita

Akhir-akhir ini, kita kembali digemparkan dengan serangan teror. Kegemparan tersebut semakin mencuat secara global sejak beberapa saat yang lalu, seorang ekstrimis sayap-kanan memasuki masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Ekstrimis itu memasuki tempat ibadah tersebut tanpa mengucapkan salam, melainkan beberapa dentuman peluru dari beberapa senjata yang dibawanya. Alhasil, 49 muslim yang sedang melakukan ibadah sholat Jumat pun kehilangan nyawanya. Brenton Tarrant, yang pada akhirnya didakwa sebagai “teroris” oleh Perdana Meneteri Selandia Baru itu, memiliki hal lain yang seharusnya kita lihat. Ada beberapa hal besar yang seharusnya kita galaukan saat ini.

Hal itu bukan sekadar fenomena sadis yang terjadi di masjid Al-Nur itu, bukan pula sekadar nama-nama yang tertulis pada senjata dan magasin pelurunya yang merepresentasikan beberapa momentum sejarah perang antar sentimen peradaban; Islam dan Kristen. Bukan pula manifestonya. Hal besar yang harus kita pahami adalah mengapa, tindakan politik Global War on Terrorism yang dikumandangkan oleh G. W. Bush Jr seusai tragedy 9/11 itu masih kerap dijadikan prasyarat atas tindakan terorisme? Permasalahan lainnya adalah, sebagian dari, kita terjebak dalam tren terorisme modern dalam bungkus agama dengan menafikan kelompok teror lainnya untuk memahami permasalahan serumit ini.

Masalah Awal Terorisme Global

Kita masih terkungkung mengenai permasalahan awal mengenai terorisme. Pertanyaan klasik yang masih relevan adalah “Apa itu terorisme?” sebelum kita ujug-ujug bertanya “mengapa terorisme ada?”. Sebab, jawaban pertanyaan mengenai “kenapa” tersebut bisa datang dari mana saja; kesenjangan sosial dan politik, represi politik, keadaan politik, agresi militer asing, dll—sementara kita belum benar-benar menemukan permasalahan inti dan bersepakat mengenai definisi dasarnya.

Terdapat ratusan definisi Terorisme yang ada di dunia. Baik yang ditetapkan oleh suatu negara, kelompok negara, bahkan organisasi-organisasi internasional. Meski begitu, Terorisme selalu dieratkan dengan usaha kekerasan yang di dalamnya tertuang kepentingan politik yang bisa berbentuk dan bertujuan terhadap status quo mana pun. Namun, jika begitu, peradaban kita pun masih memiliki terminologi “Separatisme” untuk paham-paham yang mengancam negara.

Untuk menanggapi permasalahan awal ini, di bawah akan dijelaskan secara umum tren terorisme modern agar kita dapat memahaminya secara konseptual.

Apa itu Terorisme dan Trennya dari Masa ke Masa

David C. Rapoport, seorang professor dari Universitas California, pernah mengemukakan pendapatnya mengenai tren terorisme yang tersohor itu. Singkatnya, dalam The Four Wave of Modern Terrorism, beliau mengemukakan empat tren terorisme;

Gelombang Anarkis

Pada mulanya berupa Gelombang Anarkis yang berkisar antara 1880-1920an yang pada masa ini, para Anarkis yang memiliki—menurut mereka—memiliki semangat kebebasan bertujuan untuk merusak konvensi negara. Sebagaimana slogan para Anarkis; Abolish the State. Meski pun Anarki selalu diidentikkan dengan hal bertentangan dengan otoritas negara, bukan berarti mereka apolitis. Di saat bersamaan, pemikiran seperti itu mengakar karena mereka menilai bahwa pembentukan konsep “Negara” merebut kebebasan sejati manusia. Lagi, pada masa itu, mereka memang menyebut diri mereka sebagai “Teroris”.

Gelombang Anti-Kolonial

Beranjak pada gelombang kedua atau yang disebut sebagai Gelombang Anti-Kolonial. Ketika beberapa Kerajaan terpecah dan banyaknya bermunculan negara-negara baru pada masa Perang Dunia I, kejadian tersebut akhirnya diarahkan kepada para pejuang yang ingin membentuk negaranya sendiri yang tidak berada di bawah kuasa negara kolonial—berkisar pada 1920-1960. Lalu pada Gelombang Kiri-Baru (New-Left). Meski Gelombang Pertama gagal, masih terdapat keterkaitannya dengan yang ketiga. Pada gelombang ini, nasiolisme dan ekstrimisme memang menjadi padu dalam strategi politik yang koersif. Sekurangnya, ada dua momentum yang menjadi percikan tren terorisme pada Gelombang Ketiga ini; Perang Vietnam ketika militer Amerika Serikat dengan Goliath-nya dikalahkan dengan strategi oleh para pejuang Viet Cong tanpa sistem persenjataan alat berat yang mumpuni. Momentum ini kemudian menjadi kisah heroic bagi milisi yang berada di bawah Palestine Liberation Organization (PLO), khususnya pada Perang Yom Kipur yang merupakan efek dari perang Israel-Palestina—berkisar antara 1960 sampai 1990. Pada saat yang bersamaan, dalam pertemuan-pertemuan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terminologi ”Freedom Fighter” cenderung dihindari, namun justru lebih menggunakan “terrorism”, sebagaimana yang dapat dilihat pada judul dokumen “International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing” pada tahun 1997.

Gelombang Keagamaan

Masih dalam tesisnya, Gelombang yang keempat disebut sebagai Gelombang Keagamaan yang sekarang ini hebohkan. Ada banyak versi yang kita dengar mengenai tren terorisme sekarang ini yang menggandeng simbol-simbol keagamaan. Islam, dengan mirisnya, yang diidentikkan dengan terorisme, pecahnya perang di Timur Tengah, dll. Satu hal yang harus kita perhatikan di sini; agama bukan sumber dari terorisme, namun agama rentan untuk digunakan—sebagaimana agama digunakan oleh politik.

Salah satu peneliti di FAIR Riau pernah membuat infografis seperti yang ada di bawah ini:

Kesalahan Berpikir dalam The Great Replacement

Jika tesis Rapoport mengenai tren terorisme modern hanya sampai Gelombang Keagamaan, Brenton lebih mengarah kepada tren terorisme etno-nasionalis yang mengusung pemikiran anti-kesetaraan antar sesama ras manusia. Pandangannya hanya sebatas etnis, negara (nasional), dan supremasi Kulit Putih.

Seusai peristiwa berdarah itu tersebar ke seluruh dunia, Tarrant Brenton juga menyebarkan manifestonya yang berjudul The Great Replacement. Sebuah manifesto yang pada dasarnya mengeritik peradaban Barat namun alih-alih menyeret pembacanya kepada ujaran kebencian yang mendalam.

Dalam manifestonya, Brenton memulai dengan kritiknya dengan rendahnya angka kelahiran (Fertility Rates) yang terjadi di Eropa, namun di saat bersamaan angka populasi justru meningkat. Di sini Brenton mengemukakan kekesalannya mengenai gaya hidup hedonisme dan individualisme—juga para imigran. Setidaknya tercatat beberapa poin kesalahan berpikir yang ada di dalam The Great Replacement.

Pertama, tentang imigran yang datang ke Eropa. Para imigran yang datang ke wilayah tersebut merupakan hasil perang yang berkecamuk di Timur Tengah dan sebagian besar dari penyebabnya adalah intervensi yang dilakukan Barat. Baik dimulai sejak Arab Spring yang membawa wacana demokratisasi, sampai lahirnya ISIS, dan lahirnya para imigran ini ke wilayah Eropa. Bagi Brenton, para imigran tersebut penginvasi (invaders) yang secara jelas ia tulis dalam bagian This is White Genocide. Kekhawatiran Brenton lebih berdasarkan pada argumen-argumen subjektif, terlebih kepada Islam yang dinilai melakukan imigrasi besar-besaran dan di saat bersamaan memiliki angka kelahiran yang tinggi. Baginya, hal seperti itu adalah sebuah invasi yang pada akhirnya mampu mengganti budaya tempat yang dihinggapi.

Kedua, mengenai pemikiran yang rasial dan Islamophobic. Brenton masih terkungkung dalam narasi-narasi Barat mengenai perang besar lintas peradaban yang di dalamnya hanya ada dua; Islam-Barat dan Agama. Padahal, jika kita telusuri lebih jauh, pertentangan besar antar peradaban tersebut hanya bersumber dari kepentingan politik belaka. Lagi, agama hanya sebatas kendaraan.

Ketiga, semuanya mengenai balas dendam dan konflik. Setidaknya, terdapat beberapa nama yang memiliki kisah kelam terhadap Muslim yang kemudian diabadikan di manifesto tersebut. Selain itu, hanya bertujuan untuk mengagitasi untuk melakukan kekerasan, mendesak NATO agar hanya diisi oleh negara-negara Eropa dan mengeluarkan Turki, dan berkeinginan untuk memperkeruh situasi politik dan sosial mengenai kepemilikan senjata di Amerika Serikat.

Dalam memandang seluruh kerumitan mengenai terorisme, kita hanya dapat menarik sedikit kesimpulan. Sekurangnya, kita memang harus menyadari bahwa terorisme tidak akan pernah hilang di bumi karena merupakan suatu produk jahat politik. Kejahatan politik yang berimbas ke seluruh lapisan masyarakat hanya memiliki perbedaan pola dari masa ke masa. Namun, tetap, peradaban manusia yang serba canggih ini harus tetap menyadari bahwa menghilangkan nyawa manusia lain salah secara moral—dan terorisme dapat dilawan dan dibatasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved | Newsphere by AF themes.